Jumat, 1 Maret 2013

Istirahat Kandang Cukup, Untung Diraup

Istirahat kandang 18 hari, panen ayam ukuran 1,5 kg dicapai dengan FCR 1,6. Sementara istirahat 28 hari, panen di ukuran sama FCR bisa 1,5. “Kehilangan FCR 0,1 artinya kehilangan Rp 1.100 per ekor!”

 

Dilematis. Demikian ungkapan yang menggambarkan tarik menarik antara kaidah ideal istirahat kandang dengan fakta di lapanganpada peternakan broiler (ayam pedaging). Di satu sisi SOP (Standard Operating Procedure) menuntut istirahat yang cukup bagi kandang, dengan tujuan memutus siklus hidup bibit penyakit sehingga sehat bagi periode pemeliharaan ayam berikutnya. Tetapi di sisi lain, peternak ingin mengejar efisiensi kandang dengan memampatkan waktu istirahat kandang. Maksudnya, agar dalam setahun frekuensi periode pemeliharaan semakin tinggi, dan panen pun lebih banyak.

 

Sebagaimana dikemukakan Muhlis Wahyudi, Kepala Departemen Operasional CV Parahyangan Farm, Januputro Group, Bandung-Jawa Barat. Ia mengatakan, biasanya peternak mempertimbangkan efisiensi waktu pemeliharaan karena mengejar momen tertentu. Mengejar harga livebird (ayam hidup) yang sedang tinggi, atau mumpung harga DOC (anak ayam umur sehari) sedang murah.

 

Memenuhi syarat ideal masa istirahat kandang, menurut Muhlis, adalah bentuk orientasi jangka panjang. Sementara faktanya, tak jarang peternak berpikir praktis dan orientasi jangka pendek semata. “Terlebih bagi peternak yang kandangnya hanya berstatus sewa. Pasti tidak peduli soal keberlangsungan kandang di masa datang,” ujarnya.

 

Ibarat Bom Waktu
Dari aspek kesehatan hewan, menyingkat masa istirahat kandang membawa konsekuensi buruk dalam jangka panjang. Kandang yang tidak diistirahatkan dengan memadai, akan menimbulkan akumulasi bibit penyakit. Jumlah bibit penyakit yang ngendon dalam kandang makin menumpuk, jenisnya pun semakin beragam.

 

Ia tak menampik, sebagian peternakan bisa mendapatkan performa baik sekalipun memendekkan masa istirahat. Tetapi menurut dia, bisa jadi tahun ini performa bagus, belum tentu tahun berikutnya. Alam bekerja sesuai hukumnya. Ia mengibaratkan, bibit penyakit yang menumpuk di kandang sebagai bom waktu yang dapat meledak kapan saja. “Karena itu, saya mutlak memilih masa istirahat kandang yang cukup karena berpikir jangka panjang atau investasi,” tandas Muhlis.

 

Mau Untung tapi Buntung
Agus Suwarna adalah salah satu peternak broiler yang memegang teguh kaidah masa istirahat. “Mau DOC murah atau mahal, masa istirahat kandang tidak saya utak-atik,”tegas peternak mandiri yang chick-in (pemasukan DOC) 60 ribu ekor tiap minggunya ini.

 

Menurut pengalaman peternak asal Desa Tonjong, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini, jika masa istirahat kandang dipaksakan singkat, performa ayam justru tidak sesuai harapan. “Maju mundurnya masa istirahat kandang berbanding lurus dengan hasil akhir,” kata pria yang sudah 12 tahun beternak broiler ini. Dengan istirahat kandang sesuai SOP, ia mengaku index performance/IP (parameter performa produksi) bisa 50 poin lebih tinggi.

 

Dikatakan Agus, dalam setahun kandangnya bisa 6 siklus pemeliharaan. Ia yakin dengan strateginya dan tak tergiur untuk memperbanyak periode. Ia punya kalkulasi, dengan istirahat kandang 18 hari akan panen di ukuran 1,5 kg dengan FCR 1,6. Sementara, dengan masa istirahat 28 hari ia panen di ukuran sama dengan FCR 1,5. “Kehilangan FCR 0,1 artinya kehilangan Rp 1.100 per ekor!” ujarnya rigid.

 

Syahril menambahkan penjelasan, siklus tergantung market share  peternak. Target panen ayam ukuran 1,7 kg atau 1,2 kg akan menentukan lama pemeliharaan dan siklus kandang. Menurut Syahril, satu siklus pemeliharaan adalah total dari masa pemeliharaan (sesuai target berat yang diinginkan) ditambah masa istirahat (14 hari), masa persiapan dan pencucian kandang (7 hari), plus lama penjualan (3 hari).

 Jika peternak ingin panen dengan rata-rata bobot 1,7 kg, sesuai standar pemeliharaan bobot tersebut akan dicapai pada umur 31 hari (dengan pemeliharaan baik), maka 1 siklus = 31 + 14 + 7 + 3 = 55 hari. Dan dalam satu tahun didapat 6,6 kali periode pemeliharaan. “Secara umum rata-rata 6 siklus panen. Ada juga yang lebih, tapi kadang gagal akibat masa istirahat kandang yang singkat,” ungkapnya.

 

Syahril juga punya hitungan yang bisa mengoreksi cara pandang peternak yang salah. Dikatakannya, kalau peternak mau memelihara ayam besar seperti 2 kg, maka lama pemeliharaannya cukup lama (standar 35 hari), sehingga satu siklus 59 hari dan setahun ada 6,18 periode. Meski jumlah panen sedikit, kata dia, keuntungan tidak lebih kecil karena berat badan yang besar. Sehingga akumulasi berat panen yang diperoleh dalam satu tahun akan sama. “Siklus banyak tapi berat ayam kecil, siklus sedikit tapi berat ayam besar. Jadi sama saja,” jelasnya

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi Maret 2013

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain