Senin, 1 April 2013

Agar Kandang Jauh dari Marek

Vaksinasi marek di hatchery dengan dosis dan strain yang tepat serta teknis aplikasi yang benar, diikuti biosekuriti ketat di minggu pertama pemeliharaan,menjadi kunci menekan kasus marek

 

Tak jarang, penyakit marek di lapangan dikelirukan dengan penyakit Newcastle Disease (ND). Peternak maupun petugas teknis kesehatan hewan dibuat kebingungan karena pada titik tertentu keduanya menunjukkan gejala mirip. Selain mencermati gejala klinis, untuk meneguhkan diagnosa perlu dilakukan uji sampel di laboratorium.

 

HDC Consultant PT Super Unggas Jaya, Sunuhadi Sudarmo, memberikan penjelasannya. Penyakit marek yang merupakan salah satu penyakit utama pada layer (ayam petelur), biasanya menunjukkan gejala spesifik dengan ditemukannya tumor di hampir semua bagian tubuh. Mulai dari ovarium, proventrikulus, ginjal, jantung, hati, limpa, leher, sampai jengger.

 

Perbedaan lain, kata Sunuhadi, ND identik dengan adanya kematian masal sedangkan kematian akibat marek biasanya terjadi hanya 1 atau 2 ekor per hari tapi kontinu. “Kalau marek, kematiannya berlanjut dan meningkat di minggu ke-16 atau menjelang produksi,” kata pria yang lebih dari 35 tahun menjadi praktisi kesehatan unggas ini.

 

Technical Departement Manager Romindo Primavetcom, Antonius Sigit Pambudi Sigit pun membenarkan peternak kadang dibuat bingung antara kejadian marek atau ND. Akhir tahun lalu Sigit mengaku sempat menemui kejadian ND tipe syaraf yang gejalanya mirip dengan marek. “Ayam terserang sistem syarafnya dan mengalami kelumpuhan. Setelah diteliti, dipastikan ND tipe syaraf karena tidak ditemui sel – sel tumor,” ungkapnya.

 

Yang perlu diperhatikan, lanjut Sigit, umur paling peka dan rawan terinfeksi marek adalah 12 – 14 minggu karena masa – masa hormonal. Di periode itu, stres ayam meningkat akibat perkembangan organ reproduksi. “Marek akut yang ditandai dengan banyaknya tumor di tubuh ayam dapat menimbulkan kematian rata – rata 40 %. Sedangkan marek tipe klasik yang ditandai kelumpuhan menyebabkan afkir dan kematian 20 – 30 %,” tambahnya.

 

Dan sekalipun umumnya penyakit ini diwaspadai serta menjadi fokus peternakan layer, sebagaimana dikatakan Sunuhadi, penyakit ini tak hanya menyerang layer tetapi juga broiler (ayam pedaging). Belum lama, ia menemukan kejadian pembesaran tembolok pada broiler mulai umur 2 minggu. Satu hal yang aneh serta jarang terjadi dan ini kaitannya erat sekali dengan marek. “Pakan tertahan di tembolok. Seiring pertumbuhan ayam dan bertambahnya umur, tembolok semakin besar dan kondisi ayam semakin parah. Itu dampak dari kerusakan sistem syaraf karena marek menyerang syaraf juga,” jelasnya.

 

Kasus Tinggi
Dalam rentang waktu 1 tahun terakhir, kasus marek cukup banyak ditemukan baik di breeding farm (pembibitan ayam) maupun di layer komersial.  “Dan kasus umumnya terjadi pada ayam yang sudah divaksin marek,” ungkap Technical Sales Representative MSD Animal Health, Arik Farzeli.

 

Banyak faktor di lapangan yang menyebabkan kejadian penyakit yang disebabkan oleh virus herpes ini di lapangan seperti rendahnya titer vaksin marek, sanitasi yang kurang baik di hatchery (penetasan) dan di lapangan. “Juga adanyaimmunosupresi dan strain very virulent marek di lapangan,” jelas Arik.

 

Sigit menduga tingginya kasus marek tahun lalu dipicu oleh tingginya kasus mikotoksin. Kasus mikotoksin menyebabkan kekebalan menurun, sehingga rentan terinfeksi semua jenis penyakit termasuk marek.

 

General Manager Lohmann Animal Health Indonesia, Haryono Jatmiko mengatakan kasus marek di breeding farm lebih sedikit karena pemberian vaksin mulai dari DOC akan lebih hati – hati dalam aplikasinya. Berbeda dengan layer komersial yang aplikasi vaksinasinya lebih bersifat masal.

 

Sementara itu,Layer and Breeder Business Development Manager Ceva Animal Health Indonesia, Wintolo berpendapat banyak ditemukannya kasus marek pada layer komersial di kandang sering dipicu beragamnya umur ayam dalam satu peternakan. Pada kondisi tersebut, marek akan menjadi masalah yang selalu bersama dengan layer. “Sehingga vaksin marek adalah program yang wajib pada sistem peternakan dan perkandangan ayam dengan kelompok umur beragam,” terangnya.

 

Technical and Marketing Manager Ceva Animal Health Indonesia, Ayatullah M Natsir menimpali, virus marek bersifat persisten. Maksudnya, ketika suatu peternakan positif tercemar virus marek maka virus akan lama tinggal di dalamnya dan dengan mudah menularkan ke ayam – ayam lain lewat bulu, runtuhan sel, atau debu. “Kejadian marek bisa ketahuan pada saat menjelang produksi atau late marek karena secara internal ayam stres, ditandai dengan tidak bertelur dan kematian mulai naik. Kematian yang normalnya 0,1 % seminggu, ini bisa lebih dari 1 % seminggu dan kontinu,” jelasnya.

 

Kegagalan
Kejadian marek di lapangan dapat disebabkan kontrol vaksin yang kurang baik. Salah satu faktor utamanya adalah saat thawing atau pengenceran vaksin marek dari kering beku – 198 0C menjadi bentuk cair. Proses ini merupakan waktu yang sangat kritis karena berlangsung sangat singkat.

 

Titik kritisnya, karena vaksin marek berada dalam satu sel dan mudah pecah. Bila thawing tidak benar dan selnya pecah, virus vaksin akan mati sehingga vaksinasi tidak efektif sama sekali. “Itu alasan kenapa vaksin marek harus dikontrol dengan ketat dan perlu audit terhadap proses thawing, karena faktor vaksinasi yang tidak efektif menyebabkan kegagalan vaksinasi,” terang Sunuhadi.

 

Vaksinasi di Hatchery
Karena bersifat immunosupresif (menekan sistem kekebalan tubuh) vaksinasi marek harus dilakukan di hatchery di hari pertama kehidupan seekor ayam. “Pasalnya anak ayam tidak memiliki kekebalan tubuh yang diturunkan dari induknya. Juga vaksinasi di hari pertama dilakukan untuk menghadapi tantangan penyakit di lapangan,” kata Sunuhadi.

 

Ayatullah sependapat, vaksinasi di hatchery penting untuk menghindari kegagalan vaksinasi di lapangan. Termasuk dalam penggunaan antibiotik tertentu ketika aplikasi vaksin marek. “Vaksin marek ini tidak cocok dengan antibiotik ber-pH tinggi. Semakin basa antibiotiknya bisa menyebabkan kerusakan atau kematian sel,” jelasnya.

 

Selengkapnya baca di Majalah Trobos Livestock Edisi April 2013

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain