Rabu, 1 Mei 2013

Agar Kiriman DOC Tetap Segar

Normal angka kematian DOC sesampai di kandangtidak lebih dari 2 % jumlah yang dikirim. Bila lebih, pasti ada yang salah. Apakah kualitas DOC di bawah standaratau proses pengiriman yang bermasalah

 

Sebaik apapun kualitas DOC (Day Old Chicks) atau ayam umur sehari yang dihasilkan, tidak ada artinya jika sampai kandang kondisinya stres, tidak mau makan dan minum, bahkan mati. Dalam hal ini, teknik penanganan selama proses pengiriman menjadi titik kritis yang sangat penting. Demikian diungkapkan Deputy Poultry Director PT Sierad Produce, Boedi Poerwanto kepada TROBOS Livestock.

 

Menurut Boedi, selama 5 tahun terakhir, dalam hal transportasi DOC, pihak hatchery (penetasan) sudah banyak kemajuan. Mulai dari perbaikan proses breeding, menekan angka kematian, perbaikan metode transportasi, perlakukan selama transportasi, kedisiplinan sumber daya manusia, dan faktor penentu lainnya.

 

Ini diakui Said Sigit Prabowo peternak broiler (ayam pedaging) asal Bogor, sebagai pengguna DOC. Menurut Sigit, semakin banyaknya hatchery yang berdiri di sekitar sentra peternakan broiler merupakan salah satu strategi untuk menekan penurunan kualitas DOC selama proses transportasi. “Di Jawa saja, sekarang di tiap provinsi sudah ada hatchery,” kata Sigit. Dengan demikian, waktu tempuh DOC sampai kandang bisa lebih cepat, kondisi DOC lebih segar, pertumbuhan DOC lebih baik, dan angka kematian pun bisa ditekan. 

 

Angka Kematian

Dikatakan Boedi, normalnya angka kematian DOC selama pengiriman tidak lebih dari 2 % total jumlah DOC yang dikirim. Itu sebabnya, tiap hatchery umumnya melebihkan 2 ekor DOC dalam setiap boks pengirimin (kapasitas 100 ekor). “Kalau ada kematian lebih dari itu berarti ada yang salah antara kualitas DOC yang kurang bagus atau proses pengirimannya bermasalah,” ujar Boedi.   

 

Pada kondisi transportasi DOC yang ekstrim, kata Boedi, DOC sampai kandang bisa mati sekaligus. Pola kematian secara serentak ini berbeda dengan pola kematian DOC karena faktor kualitas produksi hatchery. “Biasanya kualitas DOC yang kurang baik dari hatchery pola kematiannya sedikit demi sedikit dalam beberapa hari pemeliharaan,” ungkap Boedi.

 

Lama Pengiriman

Jarak tempuh dan kondisi lalu lintas harus diperhitungkan dalam pengiriman DOC. menurut Boedi, idealnya pengiriman DOC tidak lebih dari 12 jam, lebih cepat lebih baik. Sementara Sigit berpatokan, kalau memungkinkan transportasi DOC paling lama 3 sampai 4 jam. Strategi ini diterapkan pada usaha pembibitan (breeding) yang dikembangkan Sigit bersama koleganya di Pulau Bangka.

 

Waktu pengiriman juga sudah menjadi perhatian dalam proses pengiriman. Menurut Teddy, umumnya hatchery mulai melakukan persiapan pengiriman pada sore hari, kemudian berangkat mengirim pada malam hari. “Ini untuk  menghindari kondisi cuaca panas yang tidak menentu pada siang hari sepanjang perjalanan,” kata Teddy.

 

Kasus yang paling umum terjadi terkait transportasi DOC adalah DOC mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) sesampainya di kandang. Boedi menjelaskan, kondisi ini bisa terjadi karena DOC terlalu lama dalam perjalanan mungkin karena kemacetan, truk mogok, atau faktor penghambat lainnya. “Kondisi DOC kekurangan cairan dapat dilihat dari ruas-ruas kakinya yang kering dan pembuluh darah di kaki terlihat merah,” kata Boedi.

 

 Dalam kondisi tersebut, lanjutnya, jika DOC masih mau minum itu pertanda bagus dan biasanya diberi perlakukan vitamin atau cairan elektrolit sudah cukup mengembalikan stamina. Celakanya jika DOC sudah tidak mau minum maupun makan, besar kemungkinannya DOC bakal mati. “Jika melihat ada kelompok DOC yang seperti ini segera dipisahkan dan diperlakukan tersendiri. Misalnya diberi minum secara paksa. Untuk makan tidak masalah, DOC mampu tidak makan selama 3 hari karena masih ada asupan nutrisi dari kuning telur (yolk),” kata Boedi.

 

Sepanjang perjalanan, faktor utama yang jadi perhatian untuk menjaga kondisi DOC adalah suhu dan kelembaban. Menurut Boedi,  suhu dalam ruangan truk angkutan DOC idealnya disetel tidak lebih dari 300 celcius. “Ini merupakan suhu yang nyaman bagi DOC,” kata Boedi.

 

Tidak kalah pentingnya kelembaban. Menurut Boedi, kelembaban dalam ruang pengangkut juga perlu jadi perhatian, terlebih Indonesia merupakan negara tropis dengan curah hujan yang relatif tinggi. Kondisi lingkungan ini, kata Boedi, kerap menimbulkan kondisi lembab yang tinggi. “Jika ini sampai terjadi selama pengangkutan maka akan mengganggu pernafasan dan pertumbuhan ayam,” kata Boedi. Ia menambahkan, kelembaban ideal selama pengangkutan sekitar 70 %.

 

Sirkulasi Udara

Guna menjaga suhu dan kelembaban tetap stabil, kata Boedi, keberadaan kipas untuk sirkulasi udara ruang pengangkut DOC penting untuk diperhatikan. Jika truk pengangkut DOC sudah menggunakan AC (Air Conditioner), akan lebih mudah mengontrol suhu. “Teknologi ini sudah digunakan dalam penganggukan parent stock atau indukan,” ujar Boedi.  

 

Boedi mengingatkan, selama perjalanan mengangkut DOC, kipas tidak boleh mati. Ia menyarankan, dinamo penggerak kipas harus terpisah dari dinamo mesin truk, supaya perputaran kipas tidak terpengaruh saat truk sedang berhenti. Ada baiknya pada dinamo kipas tersebut dipasang sistem otomatis, sehingga pada saat truk jalan, sumber energi bisa otomatis dialihkan ke dinamo mesin supaya hemat baterai.

Teknologi Baru

 

Sentuhan teknologi terkini untuk pengangkutan DOC juga mulai dilirik para perusahaan hatchery. Seperti penggunaan boks DOC yang sampai saat ini masih menggunakan kardus, kini mulai tersedia boks yang terbuat dari plastik. Menurut Boedi, meski perlu biaya yang lebih tinggi namun penggunaan boks plakstik jelas lebih tahan lama, ketimbang boks kardus yang hanya sekali pakai.

Namun, Boedi menganjurkan penggunaan boks plastik untuk pengiriman jarak dekat saja. “Karena sifat bahan plastik yang lebih panas, jika terlalu lama akan berpengaruh pada kondisi DOC,” kata Boedi beralasan.   

Alasan lain kian banyak hatchery yang menggunakan boks DOC dari plastik diungkapkan Teddy. Menurut Teddy, penggunaan boks kardus membuat sirkulasi udara dalam ruang pengangkutan tidak lancar, karena lubang-lubang yang tersedia di kardus sedikit. “Hambatan sirkulasi udara tersebut dapat dikurangi dengan menggunakan boks plastik yang lebih banyak lubangnya,” kata Teddy.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi Mei 2013

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain