Sabtu, 1 Juni 2013

Strategi Pascapanen Peternak Layer

Penanganan telur dan proses distribusi yang lebih baik perlu dipikirkan peternak layer agar nilai tukar telur menjadi lebih baik, di tengah struktur pasar yang cenderung tidak bersahabat

 

Komoditas telur memiliki sifat mudah rusak sehingga diperlukan strategi dari peternak untuk menangani hasil panennya agar angka kerusakan/kerugian dapat ditekan. Tipe kandang, perlakuan ketika panen, sampai transportasi berkaitan erat terhadap kualitas telur sampai ke tangan konsumen. Demikian disampaikan Agus Susanto, pemilik Krida Permai Farm Cianjur kepada TROBOS Livestock.

 

Menurut Agus, sampai saat ini farm di Indonesia masih minim yang melakukan pengawetan telur. Maka dari itu sebelum dipasarkan, telur dibuat serapi dan sebersih mungkin agar konsumen menerima telur dengan kualitas maksimal. “Pengawetan dilakukan pada peternakan yang menerapkan sistem penjualan dengan kemasan khusus seperti wadah yang hanya berisi 5-10 telur atau pada produk khusus seperti telur beromega 3. Produk-produk tersebut lama dalam penjualannya sehingga perlu diawetkan,” terang Agus.

 

Soeyanto, pemilik Arman Farm, Tangerang juga mengaku tidak melakukan pengawetan untuk telur yang akan disimpan. “Pasar telur sangat cepat, waktu maksimal di farm adalah 1 minggu jadi tidak perlu diawetkan. Apalagi jika telur berkualitas bagus, penyimpanan yang baik akan memperlama waktu telur sehingga tidak perlu pengawetan tambahan,” tutur Soeyanto.

 

Cecep Moch. Wahyudi, Direktur PT QL Agrofood, Cianjur mengatakan, seharusnya bukan pengawetan yang perlu dipikirkan melainkan peningkatan kualitas. “Telur itu tidak perlu diawetkan. Karena konsumsi kita masih rendah, kebutuhan otomatis masih tinggi, jadi tidak ada alasan untuk disimpan,” ujarnya berargumen. Yang justru harus dipikirkan peternak, kata Cecep, bagaimana mendistribusikan dan bagaimana mencari pasar sebaik-baiknya.

 

Teknik Koleksi Telur
Teknik koleksi atau pengambilan telur dibedakan menjadi dua yaitu secara manual dan automatis. Pada umumnya peternak layer Indonesia masih menganut cara manual. Termasuk di farm milik Agus yang memiliki populasi kurang lebih 250 ribu ekor dengan produksi 10 – 10,5 ton, collecting (pengambilan) telur dilakukan secara manual.

 

Terang Agus, 1 anak kandang idealnya menangani 2.500 ekor ayam. “Tugasnya mulai dari memberikan pakan, membersihkan kandang, sampai panen telur,” katanya. Pengambilan telur dilakukan dua kali, pagi dan siang hari. “Biasanya ketika pagi hari ayam berproduksi sudah 70%, sisa panen 30% dapat diambil ketika siang atau sore hari,” lanjut Agus.

 

Sistem manual dengan cara diambil langsung oleh anak kandang juga diterapkan di peternakan milik Rumiati, peternak layer asal Blitar. Kepada TROBOS pemilik Mulyo Arum Poultry Shop ini mengatakan, di kandangnya telur diambil jam 11 pagi dan 4 sore. “Pagi itu sekitar 75%, yang sore sisanya saja. Sore itu sebenarnya waktunya anak kandang bersihkan tempat minum dan meratakan pakan, tapi sekalian juga mengambil telur yang keluar sore,” terang wanita yang sudah 23 tahun berkecimpung di dunia perunggasan ini.

 

Sementara itu, di PT QL Agrofood (QL) pengambilan telur dilakukan secara otomatis. Dijelaskan Cecep, dengan kapasitas 1,2 juta ekor dan produksi 40 ton per hari, panen telur dilakukan secara full automatic. “Dari kandang sampai ke gudang menggunakan konveyor mesin. Telur dikutip dengan sabuk berjalan, menuju konveyor utama masuk ke gudang,” katanya.

 

Sortir & Grading
Pascapanen telur di semua peternakan pasti diawali proses sortir untuk memisahkan telur rusak atau di bawah standar. “Pensortiran bertujuan memisahkan telur yang tidak bagus. Telur tidak bagus dibagi menjadi 3 kategori yaitu telur putih, retak, dan telur berbentuk abnormal,” terang Soeyanto membenarkan.

 

Pasca disortir, telur akan dikemas dengan peti kayu berkapasitas 15 kg, dan biasanya telur langsung dijual. “Umumnya telur langsung habis, namun jika harga sedang tidak bersahabat produksi akan ditahan paling lama 2 hari baru dipasarkan,” tutur Agus. Telur yang sudah lama dipanen akan dipisahkan dengan telur yang baru dipanen.

 

Tidak adanya penyimpanan khusus juga dikatakan oleh Rumiati, karena 2-3 hari telur sudah harus dipasarkan, jadi tidak perlu penyimpanan yang terlalu lama.”Waktu paling lama yang pernah saya alami dalam menyimpan telur adalah 1 minggu. Di kandang saya tekankan, 1 minggu benar-benar sudah harus keluar, tidak boleh lebih,” ungkap Rumiati.

 

Proses penyimpanan khusus dilakukan QL untuk produk khusus. “Kami simpan di cold storage dengan suhu 4 – 6 0C. Ini khusus untuk produk yang dicuci saja. Selebihnya tidak ada yang disimpan. Hari itu produksi maka hari itu juga dipasarkan, jadi tidak pernah menumpuk. Kalaupun ada stock, paling lama 2 hari saja,” terang Cecep.

 

Dipaparkan Cecep, di perusahaannya, telur setelah dipanen akan diseleksi dan dikelompokkan. Disebut dia ada 3 kelompok produk yang dihasilkan. Pertama, telur untuk wet market (pasar becek) yang dikemas menggunakan peti kapasitas 15 kg per pack. Kedua produk yang menggunakan tray kertas, dan ketiga dikemas khusus dan dicuci.

 

Telur yang untuk pasar becek dari konveyor ke gudang dikutip langsung dan diseleksi oleh orang tanpa bantuan mesin, dan ditimbang per peti. Untuk yang masuk tray dilewatkan dulu di bawah sinar UV, untuk membunuh kuman-kuman dan selanjutnya masuk ke mesin grading (seleksi). Oleh mesin grading telur akan dipisahkan menjadi 4grade. Grade terkecil 50 – 55 gram, dengan selisih antar grade 5 gram. Untuk masuk kategori telur super dan dikemas dengan tray, setidaknya bobot telur 60 gram.Yang tidak masuk kategori grade superakan disortir lagi dan masuk ke produk untuk pasar becek.

 

Berikutnya, lanjut Cecep, produk ketiga merupakan produk khusus bagi konsumen tertentu yang meminta telur sudah dicuci. Telur-telur ini diseleksi dengan gramase tersendiri, kemudian masuk ke proses pencucian, dicuci otomatis oleh mesin menggunakan desinfektan food grade (aman buat makanan). Selanjutnya dikeringkan dengan disemprot udara panas, dilanjut oiling, diminyaki dengan minyak food grade dan diangin-anginkan kemudian masuk ke ruangan pendingin, dikemas ke dalam tray khusus dan disimpan dalam cold storage.

 

Daya Tahan Telur
Telur komersial pada umumnya dapat tahan antara 3 minggu sampai 1 bulan. Daya tahan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor. Dijelaskan Agus, cuaca dan kualitas telur menentukan umur telur layak dikonsumsi. Suhu lingkungan berpengaruh, semakin panas suhu di suatu wilayah maka semakin pendek umur telur. “Suhu di Cianjur lebih dingin dari suhu di Jakarta, maka telur yang disimpan disini bisa lebih awet 3 hari sampai 1 minggu,” katanya.

 

Lanjut Agus, faktor kedua adalah kualitas telurnya, seperti telur merah dan telur putih kualitasnya berbeda jauh. “Telur merah bisa bertahan sampai 1 bulan sedangkan telur putih hanya 15 hari,” ungkap Agus.

 

Sebelum dipasarkan, Rumiati berpendapat sebaiknya telur tidak dicuci. Bila dicuci, telurnya justru cepat busuk. “Apalagi saya melayani pengiriman ke Jakarta dan keluar pulau seperti Kalimantan. Telur yang dicuci sangat tidak dianjurkan karena membuat jadi sangat cepat rusak. Pori-pori telur bisa terbuka lebar dan bakteri bisa masuk lewat situ,” terangnya. Jika dicuci hanya bisa bertahan maksimal 2 – 3 hari dan harus segera dimasak.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi Juni 2013

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain