Senin, 1 Juli 2013

Meningkatnya Prevalensi Coryza

Penyakit ini erat hubungannya dengan manajemen, selain itu proteksi silang antar serovar rendah. Sehingga pemilihan vaksin yang tepat, dipadukan dengan manajemen yang baik adalah kunci utama

 

Penyakit coryza atau yang dikenal dengan nama lain snot, sudah akrab di telinga para peternak unggas baik broiler (ayam pedaging), terlebih lagi peternak layer (ayam petelur). Tanda penyakitnya mudah dikenali dengan adanya leleran berbau khas dari rostrum (lubang hidung). Penyakit pernafasan ini agen penyebabnya adalah bakteri Avibacterium paragallinarum atau yang dulu dinamaiHaemophilus paragallinarum.

 

Informasi terkini melaporkan, di beberapa lokasi tengah banyak ditemui kejadian coryza. Yusman Friyadi, Technical Support Representative PT Vaksindo Satwa Nusantara membenarkan, akhir-akhir ini kasus infeksi coryza banyak dijumpai di beberapa peternakan layer dan breeder (pembibitan). Ia menyebut antara lain wilayah Cianjur, Tangerang, Purwokerto, Pare-Kediri, dan Blitar. “Dilaporkan, di tempat-tempat tersebut kejadiannya cukup tinggi beberapa waktu ini,” kata Yusman.

Data lapangan PT Medion pun menempatkan coryza di peringkat teratas sebagai penyakit yang paling banyak menyerang layer di 2012. Sementara pada broiler menempati peringkat 4 dan kasusnya meningkat dibandingkan 2011, meskipun tak sebanyak 2010 (Grafik 1 dan 2). Tak kurang, di gelaran Indolivestock 2013 – Bali, Juni lalu Medion menjadikan coryza salah satu topik seminar teknis.

Sebagaimana terbaca dalam grafik dan juga disampaikan Technical Support Manager Medion, Christiana Lilis,serangan coryza banyak terjadi di wilayah Jawa Timur, kemudian menyusul Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.

 

“Kebocoran”
Selama ini vaksin coryza (lebih tepatnya bakterin bukan vaksin, karena agennya bakteri bukan virus) di pasaran banyak, dan peternak sudah memasukkan coryza dalam program vaksinasi —terutama layer— tetapi kasus masih saja muncul. Bahkan prevalensinya menunjukkan kecenderungan meningkat.

 

Diterangkan Lilis, yang harus dipahami adalah menurut FOHI 2007 (Farmakope Obat Hewan Indonesia) vaksin/bakterin coryza memiliki standar proteksi lebih rendah ketimbang vaksin viral. Ia menyebut angka standar proteksi hanya ≥ 70%. “Sedangkan vaksin viral seperti ND dan AI mempunyai standar ≥ 90%,” jelasnya.

 

Artinya, lanjut Lilis, meskipun vaksinasi coryza di lapangan sudah dilakukan, kemungkinan munculnya kasus coryza masih akan terjadi. Karena itu, mengkombinasikan tindakan vaksinasi secara tepat, penerapan tata laksana pemeliharaan yang baik dan aplikasi biosekuriti secara ketat menjadi kunci utama pencegahan kasus coryza.

 

Selain itu, ada penjelasan lain dari Yusman. Kemunculan kasus coryza pada peternakan meski sudah menerapkan vaksinasi diistilahkannya dengan “kebocoran”. Dan dia berpendapat ini disebabkan proteksi silang antar serotipe/serovar bakteri coryza yang rendah. Jelas dia, di lapangan bersirkulasi beberapa serotipecoryza, yaitu A, B, dan C. Berdasarkan riset yang dilakukan Vaksindo, kebocoran di lapangan kebanyakan dari serotipe B. Ini dikarenakan pemberian vaksin yang paling umum mengandung serovar A dan C, yang tidak memberikan proteksi yang baik terhadap serovar B. Pasalnya, cross protection (proteksi silang) antar serovar sangat minimum. “Satu hal yang penting, serovar A dan C tidak mampu memberikan cross protection terhadap serangan varian B lokal yang ada di Indonesia.” ungkap Yusman.

 

Ditambahkan dia, ini sebenarnya bukan hal baru dan sudah diungkap banyak peneliti. Beberapa riset bahkan menunjukan serovar B bersifat spesifik lokal, artinya serovar B yang ditemukan di satu lokasi sangat berbeda dengan serovar B di tempat lain. “Mudahnya, kita harus menutupi kebocoran B ini dengan serovar B lokal setempat,” ujarnya.

 

Proteksi Silang Rendah
Rosalia Ariyani,Technical & Customer Care ManagerPT Caprifarmindo Laboratories, turut menjelaskan. Avibacterium Paragallinarum yang masuk kelompok bakteri gram negatif dibagi dalam serovarian A, B dan C. “Umumnya orang mengatakan A dan C bersifat ganas atau patogen sedangkan B tidak,” ujarnya.

 

Tetapi sebagian studi lain membagi lagi A dan C menjadi sub varian A (1-4) dan C (1-4) sedangkan B hanya 1 (B1). “Dikatakan A1, A4, C1, C2 dan C3 bersifat lebih virulen sedangkan A2, A3 dan B1 bersifat kurang virulen,” jelas Rosa –demikian ia biasa disapa.

 

Lanjut Rosa, di pasaran tersedia berbagai jenis vaksin. Umumnya produsen menyediakan vaksin coryza yang mengandung serovar A dan C, meski banyak juga yang menyediakan serovar A, B dan C. Di Indonesia pada awalnya serotipe A dan C hanya ditemukan di peternakan komersil sedangkan serotipe B lebih banyak dijumpai pada ayam kampung. Tetapi seiring perjalanan waktu, kini serovar B juga mulai banyak ditemukan pada ayam komersil khususnya petelur. “Menurut beberapa studi, dahulu ayam dapat terlindungi dari infeksi serovar B dengan vaksinasi serovar A dan C. Namun beberapa penelitian terbaru mengungkapkan, kini serovar B diketahui berdiri sendiri,” tandas dia.

 

Proteksi silang antar serovar yang rendah ini disinyalir sebagai salah satu sebab kasus coryza muncul di sebuah peternakan kendati peternakan itu sudah menerapkan vaksinasi coryza. Kendati begitu, vaksinasi perlu diberikan terutama pada ayam petelur. Menurut Rosa, apabila divaksinasi, kalaupun ayam terinfeksi coryza, biasanya akan lebih mudah diatasi ketimbang kelompok yang tidak divaksinasi.

 

Serovar Baru
Fakta menarik disampaikan Lilis terkait serovar coryza. Penelitian Medion sejak 2009 hingga 2012, telah menemukan Avibacterium paragallinarum dari kelompok baru yang beredar di Indonesia. Jenis ini non-serovar A, B maupun C, dan  Medion menggolongkannya ke dalam serovar M. Selain itu Medion juga berhasil mengisolasi serovar A lokal yang bersirkulasi di beberapa wilayah di Indonesia.

 

Lanjut Lilis, bakteri kelompok baru ini (non-A,B, maupun C) memiliki karakter berbeda dan lebih ganas ketimbang yang ada sebelumnya. Dalam uji infektivitas pada ayam SPF, masa inkubasi lebih cepat dan gejala klinis, semisal muka bengkak serta perubahan patologi anatominya, lebih jelas. “Gejalaklinis yang muncul baik pada layer maupun broiler masih sama, namun lebih jelas terlihat. Indikasi muka bengkak satu atau dua sisi, pilek dan mata berair, lebih nyata,” terang Lilis.

 

Lilis juga mengatakan, Avibacterium paragallinarum hanya memiliki proteksi silang parsial. Artinya, serovar satu belum tentu bisa melindungi ayam dari serangan serovar lainnya. Saat ini banyak beredar macam vaksin coryza, baik yang berisi isolat lokal maupun non-lokal. Medion adalah salah satu yang memproduksi vaksin coryza berisi serovar A isolat lokal yang didasarkan hasil mapping (pemetaan) Avibacterium paragallinarum.

 

Untuk mendapatkan bukti akurat efektivitas berbagai vaksin coryza yang berisi berbagai kombinasi serovar Avibacterium paragallinarum, Medion melakukan uji proteksi vaksin coryza isolat lokal dibandingkan dengan isolat non-lokal. Masing-masing ayam yang sudah divaksin kemudian ditantang dengan Avibacterium paragallinarum serovar A lokal, B, C dan M lokal. Hasilnya, semua vaksin coryza lulus uji potensi, tetapi vaksin yang didalamnya terkandung 4 sekaligus kombinasi serovar A lokal, B, C dan M lokal, memberikan proteksi lebih baik. (Tabel 1.)

 

Broiler Tidak Umum Vaksinasi
Berbeda dengan peternakan layer yang umumnya mewajibkan vaksinasi coryza, peternak broiler jarang memasukkannya dalam daftar program vaksinasi. Sebagaimana diakui Nuryanto, Production and Health Control Manager Satwa Utama Group, grup peternakan broiler yang berkantor pusat di Sukabumi. Peternakan yang ia kelola termasuk yang tidak memberikan vaksinasi coryza.

 

Ia mengemukakan penjelasan, vaksinasi coryza di layer wajib karena usaha tersebut sifatnya investasi jangka panjang. Siklus pemeliharaan layer panjang bisa mencapai 75 minggu, wajar bila harus diproteksi. Sedangkan broiler sangat singkat, umur sebulan sudah panen.

 

Terlebih cross protection antar serovar rendah, maka pemberian vaksin coryza untuk broiler mutlak mempertimbangkan lokasi. Vaksinasi harus tepat sesuai serovar bakteri yang bersirkulasi di lokasi setempat. Broiler menuntut ketepatan proteksi yang lebih tinggi agar vaksinasi sepadan dengan keuntungan. Nuryanto lebih mengedepankan pencegahan melalui perbaikan kualitas manajemen ketimbang mengandalkan vaksinasi.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi Juli 2013

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain