Kamis, 1 Agustus 2013

Kemarau Basah, Waspada Mikotoksin

Lebih baik pencegahan di awal melalui seleksi kualitas bahan pakan, memperbaiki proses produksi, memperhatikan area rentan kontaminasi, manajemen penyimpanan, dan preparasi pakan yang baik

 

Kasus AI (Avian Influenza) atau flu burung di sebuah farm (peternakan)  sebenarnya bisa selesai dengan program vaksinasi dan biosekuriti yang tepat. Tetapi, sebagaimana diungkapkan Fitriono Widayanto, tahun lalu beberapa peternakan layer (ayam petelur) di Blitar, Jawa Timur tak mampu membendung paparan virus H5N1 penyebab AI, sekalipun sudah divaksinasi. Kasus penyakit yang masih saja menyambangi sebuah peternakan sekalipun sudah divaksinasi, biasa diistilahkan dengan “jebol”. “Tahun lalu beberapa farm di Blitar jebol,” kata Feed Additive Manager PT Biotek Indonesia untuk wilayah timur ini.

 

Pria yang akrab disapa Rio ini mengisahkan, kasus tersebut bisa terjadi akibat pakan yang dikonsumsi ayam-ayam itu tercemar jamur dan mikotoksin (racun yang dikeluarkan jamur). Sebagian besar peternak layer di Blitar dan sekitarnya menganut self mixing atau meramu sendiri pakan dalam penyediaan pakan. Hanya sebagian saja yang menggunakan pakan jadi atau pakan komplit keluaran pabrikan.

 

Dilanjutkan Rio, mikotoksin menimbulkan mikotoksikosis yang menyebabkan imunosupresif. Penjelasan imunosupresif, sistem pertahanan tubuh tertekan sehingga ayam rentan terhadap segala bentuk serangan penyakit lainnya.

 

Dampak lain dari menurunnya sistem pertahanan tubuh, terangnya, adalah saat dilakukan vaksinasi tubuh tidak cukup mampu merespon membentuk antibodi dengan baik. Alhasil, vaksinasi gagal dan jebol. Inilah yang terjadi di Blitar.

 

Kata Rio, salah satu farm saat dilakukan uji titer antibodi AI, hasilnya sangat rendah. Bahkan saat dicoba dengan revaksinasi dalam 1-2 bulan ternyata titer turun lagi. Makin parah, penyakit lain seperti IB (Infectious Bronchitis), EDS (egg drop syndrom), juga NE (Necrotic Enteritis) dan kolera muncul. Berikutnya diberikan terapi mycotoxin binder (pengikat racun). “Kasuspun reda, titer antibodi AI naik lagi,” imbuh dokter hewan ini.

 

Product Technical & Marketing Team PT Novindo Agritech Hutama, Yana Ariana juga menyebut mikotoksin punya sifat imunosupresif. “Bisa menjadi pintu gerbang masuknya penyakit lain pada ayam,” tegasnya.

 

Masih senada, Chief Operating Officer Biomin Indonesia, Yatie Setiarsih berkata, yang paling mengkhawatirkan dari cemaran mikotoksin dalam pakan adalah dampak buruk pada ayam yang mengkonsumsi pakan terkontaminasi tersebut. Kata Yatie, beberapa jenis mikotoksin, dapat menyebabkan terganggunya sistem pertahanan tubuh sehingga ayam mudah terserang berbagai penyakit.

 

Munculnya Mycotoxin
Musim saat ini, diistilahkan BMKG dengan kemarau basah, cuaca panas dibarengi hujan dengan intensitas tinggi sehingga lingkungan menjadi sangat lembab. Dan itu, tunjuk Yatie, lingkungan yang ideal bagi tumbuh dan berkembangnya jamur dalam pakan maupun bahan baku pakan, terutama jagung. Adanya cemaran jamur dan mikotoksin akan menurunkan nilai nutrisi dari jagung.

 

Turut memberi keterangan, Country Manager Indonesia/Malaysia/Singapura/Brunei Novus International, Wully Wahyuni. Ia mengatakan mikotoksin bersifat ubiquitous pada pakan. Artinya, dapat diturunkan dari bahan baku pakan terutama biji-bijian dan beberapa sumber protein nabati. Keberadaannya sangat dipengaruhi oleh temperatur dan kelembaban, proses penyimpanan bahan baku pakan, proses produksi, penyimpanan dan preparasi pemberian pakan. Musim hujan dengan kelembaban meningkat, dapat memicu pertumbuhan jamur. Silo yang tidak kedap air, proses aerasi yang kurang baik juga berpotensi jadi media tumbuh jamur yang ideal.

 

Sementara menurut Product Manager Feed Additive Trouw Nutrition International Desi Ari Santi, jamur akan tumbuh dan membutuhkan energi sebagai sumber makanannya dari bahan baku jagung yang kualitasnya jelek. “Proses pengeringan mengandalkan sinar matahari akan membuat jagung lama kering dan kadar air tetap tinggi sehingga bisa memicu tumbuhnya jamur yang mengandung racun,” jelas Ari –demikian ia biasa disapa.

 

Dan ditambahkan Wira Wisnu Wardani, Technical Associate Manager Trouw Nutrition International, syarat tumbuhnya jamur apabila kadar air jagung di atas 16 %. “Jika jagung dipipil saja, proses tumbuhnya jamur akan cepat,” ujarnya.

 

Memilih Pakan Jadi
Dengan tujuan salah satunya menghindari mikotoksikosis, Ahmad Sofyan lebih memilih pakan jadi dari pabrikan (feedmill) untuk 40 ribu ekor layer miliknya, ketimbang mencampur pakan sendiri (self mixing). Peternak layer dari Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah ini beralasan, pakan pabrikan relatif lebih terjaga kualitas produknya dan ada kestabilan nutrisi di bahan baku. “Meskipun mahal tapi bisa memberikan kualitas pakan yang sebanding,” ungkap mahasiswa dotoral Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro ini kepada TROBOS Livestock. Dan ia juga tidak perlu menambahkan toxin binder dalam pakan karena sudah ada dalam pakan pabrikan.

 

Membuat pakan sendiri dan membeli jagung dari petani, kata dia, kontrol kualitasnya akan sulit sekali. Bisa saja jagung mudah didapat tetapi harganya mahal dan kualitasnya tidak begitu bagus. “Kadang jagung masih basah, kadar airnya tinggi. Belum lagi persoalan pergudangan seperti penyimpanan yang tidak bagus,” terang Sofyan.

 

Ia tidak sepakat dengan anggapan mencampur pakan sendiri lebih murah. Pasalnya selain repot, FCR (feed convertion ratio/rasio konversi pakan) bisa bengkak ketika jagung basah, karena bahan kering kurang dan ayam menuntut makan lebih banyak. Imbasnya tentu ke produktivitas ayam.  

 

Sependapat, Rio berpandangan, dalam mencegah cemaran mikotoksin pada bahan pakan, prosedur dan persyaratan masuknya bahan pakan di feedmill lebih bagus dan ketat dibandingkan di peternakan rakyat (self mixing). Itu membuat keamanan pakan difeedmill lebih terjamin. “Titik kritis potensi munculnya jamur adalah penanganan pasca panen. Masuknya bahan pakan dan penyimpanan pakan di gudang feedmill lebih ketat,” ujarnya.

 

Mycotoxin Binder: Asuransi
Pemberian mycotoxin binder ibarat asuransi, demikian umum peternak menyebutnya. Kata Yatie, disebut asuransi karena gejala mikotoksikosis yang umumnya tidak jelas menjadikan tindakan preventif atau pencegahan lebih efektif dilakukan ketimbang pengobatan. “Penggunaannya dengan dicampurkan ke dalam pakan untuk mengurangi dampak negatif dari mikotoksin,” katanya.

 

Wully sependapat dengan analogi asuransi. Sifat mikotoksin natural ada, karena itu sulit mengontrol satu per satu sumber potensi mikotoksin, dan sulit mendapatkan pakan yang sepenuhnya bebas racun dan kontaminan. Maka toxin binder membantu mengurangi dampak negatif dari mikotoksin. “Semakin banyaknya permintaan toxin binder, menunjukkan penggunaannya membantu menurunkan pengaruh buruk mikotoksin terhadap performa,” terangnya.

 

Yana pun satu kata karena dampaknya signifikan. Tapi dia mengingatkan, dosis pemakaian harus sesuai anjuran jangan setengah-setengah. “Kalau tidak, sama saja dengan buang – buang uang,” pesannya.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi Agustus 2013

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain