Selasa, 1 Oktober 2013

Pergeseran Konsumen Ayam

Preferensi konsumen ayam mulai bergeser, lebih percaya kualitas karkas ayam beku ketimbang ayam hidup

 

Saban harinya Yati bisa menjual lebih dari 3.000 karkas beku broiler (ayam ras pedaging). Pemilik kios di Pasar Pesing Koneng, Meruya Jakarta Baratini dikenal sebagai salah satu pelopor pedagang “ayam ASUH” di Jakarta. Sejak semula berdagang, hanya ayam dengan kriteria aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) yang ia jual.

 

Konsumennya tukang sayur, pecel ayam, restoran, dan beberapa pedagang ayam yang akan menjual lagi ayamnya di pasar lain. “Respon pasar terhadap ayam ASUH meningkat tajam, angka penjualan pun terus naik,” ungkap pedagang yang merintis usaha ayam ASUH sejak 2006 ini kepada TROBOS Livestock.

 

Kalau dulu ia harus susah payah mengenalkan nilai lebih ayam ASUH yang wujudnya beku, kini sebaliknya. Sekarang justru banyak konsumen tidak mau membeli jika ditawari ayam hidup, harus ayam beku. “Mereka bilang kalau tidak dingin nanti ayamnya bisa rusak,” kata Yati.

 

Dijelaskan Yati, ayam ASUH ia beli dari RPU (Rumah Potong Unggas)  PT Kartika Eka Darma di daerah Srengseng Jakarta Barat. Ayam dipotong sekitar jam 11 malam, kemudian karkas ayam dibersihkan dan langsung direndam es. Pori-porinya tertutup, otomatis bakteri tidak bisa masuk dan nutrisi terjaga dalam daging. Dijual pagi harinya dalam keadaan beku. Berbeda dengan ayam yang dipotong sesaat sebelum dijual dan penjualannya tidak dalam keadaan dingin, belum tentu jam 9 pagi dagangannya habis. “Kalau tidak beku, jam 9 ayam sudah rusak. Warnanya mulai biru, dan rasanya juga berubah,” ungkap Yati.

 

Gambaran tidak jauh beda dipaparkan Suparno atau yang akrab disapa Nojeng, satu lagi pelopor ayam ASUH.Pedagang sekaligus pemotong ayam ASUH dari Pulo Gadung Jakarta Timur ini mengatakan, kini kian banyak pedagang ayam yang menjual ayam ASUH, bisa sampai ribuan. Namun belum semuanya menggunakan fasilitas yang disediakan atau ditunjuk resmi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

 

Penjualan ke konsumen pun kian meningkat. “Sekarang saya bisa saya bisa jual 5 ton ayam ASUH per hari,” ujarnya berbinar. Ia mengaku masih berpeluang menjual sampai 10 ton perhari, jika saja pasokan ayam yang di bawah 1 kg per ekor terpenuhi. Ia sekarang hanya bisa memenuhi permintaan ayam ukuran di atas 1 kg per ekor.

 

Kata Nojeng, sekarang sudah banyak konsumen yang menyadari ayam yang dipotong langsung di pasar belum jelas ASUH, terutama kehalalannya. “Kita terus edukasikan kalau ayam beku itu lebih baik, terlihat dari performanya, rasanya juga lebih enak. Jadi nggak ada alasan menolak mengonsumsi ayam beku,” tegas Nojeng.

 

Lebih UntungAyam Beku
Menjual ayam beku lebih menguntungkan dari pada menjual ayam hidup. Dijelaskan Yati, sekarang harga ayam ASUH di kisaran Rp 27 ribu per kg, sementara ayam hidup sekitar Rp 23.300 per kg. “Jadi kalau dihitung-hitung mending jualan ayam beku yang udah bersih. Tidak perlu repot pakai modal sendiri untuk motong ayam,” kata Yati.

 

Pendapat senada juga diungkapkan Nojeng. Menurut dia, menjual ayam hidup ada risiko kerugian akibat kematian saat transportasi. Angkanya bisa sampai 10 %. “Rata-rata bisa rugi sampai Rp 6 juta per truk gara-gara kematian ayam ayam selama di perjalanan. Kalau sudah dipotong dan dibekukan kan tidak ada kerugian,” kata Nojeng semangat.

 

Nojeng menyarankan, kelompok pedagang yang sudah punya pasar cukup besar sebaiknya membangun RPU sendiri dengan standar ayam ASUH. Tentunya di lokasi yang sama dengan lokasi penjualan. Ia memperkirakan investasi untuk membangun dan mengelola RPU dengan kapasitas potong 3 ribu ekor per jam sampai Rp 500 juta.

 

Sementara Yati menganjurkan pedagang ayam skala kecil untuk mengambil ayam dari RPU resmi yang sudah ditunjuk pemerintah. “Karena kualitas ASUH terjaga dan tidak perlu repot melakukan pemotongan sendiri,” kata Yati.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi Oktober 2013

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain