Jumat, 1 Nopember 2013

Perdagangan Telur juga Perlu Koreksi ?

Harga telur di kandang murni market driven. Akan tetapi terdapat sejumlah anomali, saat harga telur di peternak jatuh pun, anehnya harga telur di tingkat konsumen tak beranjak turun. Perlu koreksi tataniaga ?

 

Tak jarang harga telur di tingkat peternak di bawah ongkos produksi. Idealnya selisih harga di peternak dengan di konsumen 2 – 3 butir telur/kg atau setara Rp 2.000 – Rp 3.000/kg, yang semestinya dibagi merata sejumlah pelaku rantai perdagangan dari peternak sampai konsumen seperti halnya broiler, harga telur di tingkat peternak juga terbentuk dari mekanisme pasar (market driven)bukan berdasarkan pada besarnya biaya produksi (input driven). Tidak jarang nilai tukar telur lebih rendah dari Harga Pokok Produksi (HPP) yang dikeluarkan peternak layer (ayam petelur). Ironisnya lagi, karena rantai pasokan telur yang harus melewati beberapa titik untuk sampai ke konsumen, menyebabkan harga di konsumen biasanya tetap tinggi sekalipun peternak tidak menikmati keuntungan.

 

Cecep Setiawan peternak layer Solo kepada TROBOS Livestock menyebut harga telur di daerahnya berkisar Rp 12.000/kg (28/10). ”Padahal kalau saya ambil rata-rata, HPP sekitar Rp 15.000/kg dengan asumsi harga pakan Rp 4.700/kg dan DOC Rp 3.500/ekor,” ujar Cecep saat dimintai keterangan harga telur terkini. Ia menambahkan, saat ini cuaca di tempatnya juga kurang baik mengakibatkan penurunan produksi minimal 3%. Senada dengan Cecep, Hidayattur Rahman peternak Blitar menginformasikan harga telur di Jawa Timur berkisar Rp 12.200/kg pada (28/10) dengan tingkat HPP sekitar Rp 14.000/kg. Dayat menambahkan DOC turun saat ini menjadi Rp 2.500/ekor untuk pakan dikisaran Rp 4.800/kg.

 

Padahal menurut Cecep harga di tingkat konsumen masih sekitar Rp 18.000/kg. Menurut dia lagi, idealnya peternak bisa menikmati margin sekitar 5% dari biaya produksi. ”Kalau menurut saya margin peternak 5% atau sekitar Rp 1.000/kg itu sudah bagus,” sebut pemilik populasi 150 ribu layer(ayam petelur) ini. Sayang, margin 5% yang diharapkan sering meleset. Alih-alih dapat untung, yang ada buntung karena harga di tingkat peternak lebih rendah dari HPP.

 

Cecep mengharapkan harga di tingkat peternak bisa berkisar Rp 16.000/kg, dengan HPP rata-rata Rp 15.000/kg. ”Maunyadari kami Rp 16.000/kg dan sampai ke konsumen maksimal Rp 18.000/kg. Jangan seperti saat ini dari peternak Rp 12.000/kg ke konsumen masih Rp 18.000/kg, selisihnya bisa Rp 5.000 – Rp 6.000/kgpadahal peternak belum bisa nutup HPP,” tuturnya bernada harap.

 

RantaiPerdagangan Telur

Untuk sampai ke tangan konsumen, saat ini telur harus melewati beberapa mata rantai. Dijelaskan Cecep, ”Rata-rata dari peternak ke agen besar. Karena khankapasitasnya besar, sulit kalau peternak jual langsung ke pengecer. Dari agen besar ke agen kecil, kemudian ke ritel atau pedagang pengecer baru ke konsumen.” Setidaknya ada 4 mata rantai dari peternak untuk sampai ke end useratau konsumen.

 

Tak jauh berbeda Hidayattur Rahman memaparkan pola mata rantai perdagangan telur yang umum dilakoni, dengan pasar utama Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). ”Dari peternak ke pengepul dikirim ke Jakarta, kemudian ke agen besar terus ke sub agen baru ke konsumen,” tutur pria yang akrab disapa Dayat ini. Menurut Dayat, untuk efisiensi sebenarnya mata rantai bisa dikurangi satu. Ia menambahkan, kalau untuk pasar modern bisa langsung dari agen.

 

Sebagai contoh PT Lion Super Indo. Kepala Corporate Comunication & Sustainability, PT Lion Super Indo, Yuvlinda Susanta menyampaikan, pasokan telur ke pihaknya demikian ringkas. “Kalau kami untuk telur pemasoknya langsung dari peternak atau UKM,” ujarnya. Alhasil harga yang diperoleh lebih bagus sehingga harga di tingkat konsumen lebih terjangakau. Kepada TROBOS Livestock Yuvlinda menyebutkan, saat itu (18/10) Superindo menjual telur di outlet-nya sekitar Rp 16.900/kg atau lebih murah Rp 1.000/kg dari harga di warung maupun pasar becek. Ditambahkan dia, untuk penjualan telur Superindo hanya mengambil margin tidak lebih dari 5% dari harga yang diberikan pemasok. ”Karena kami menekankan perputaran yang cepat. Rata-rata untuk telur sekitar 2 – 3 hari sudah harus ganti yang baru, jadi ambil margin sedikit saja,” ungkap Yuvlinda saat ditemui di outletSuperindo Duren Tiga yang belum lama ini di-launching.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi November 2013

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain