Minggu, 1 Desember 2013

Layer Jibaku Menuju Pasar Tunggal

Menyiapkan peternak layer yang mayoritas skala kecil agar tetap mendapat ruang dan kesempatan tumbuh, di tengah terbukanya pasar tunggal ASEAN

 

ASEAN Economy Community(Kawasan Ekonomi ASEAN) sudah di depan mata. Kesepakatan negara-negara anggota ASEAN ini bermakna di 2015 tidak ada lagi hambatan (barrier) perdagangan antar negara tersebut. Pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara ini hampir jadi kenyataan. Segala bentuk proteksi oleh pemerintah bagi pelaku dalam negeri saat itu “diharamkan”, tak terkecuali berlaku bagi industri perunggasan.

 

Hartono, Ketua Umum Pinsar (Pusat Informasi Pasar) Unggas Nasional mengibaratkan pasar bebas sebagai pisau bermata dua, ada sisi positif dan ada kelemahannya. “Pertanyaannya apakah kita sudah siap untuk bertarung bebas? Itu dulu yg mesti dilihat,” ucapnya.

 

Ia melanjutkan, kalau belum cukup kuat berarti harus ada sesuatu yang perlu dilakukan. “Kalau petani atau peternak kita belum mampu, ya diajari sehingga mampu. Apakah mau sistemnya seperti Nazi, yang tidak mampu dibiarkan mati?” ujarnya beretorika. Tentu saja tidak begitu, jawab dia pula, menurut Hartono harus ada yang dilakukan, harus ada yang dipersiapkan.

 

Kembali dia melontarkan tanya, “Apa yang sudah pemerintah lakukan untuk menyiapkan?” Begitu pula untuk perdagangan APEC (Asia Pacific Economy Community) yang sudah digagas 15 tahun yang lalu, apa yang sudah disiapkan pemerintah dan pelaku usaha dalam negeri.

 

Hartono berpandangan sangat tidak adil ketika petani/peternak dalam negeri diharuskan bertarung dengan kondisi saat ini. Ia menyoroti misal HPP (Harga Pokok Produksi) sebuah produk tak bisa dibandingkan apple to apple (secara langsung) an sich. Biaya hidup di negara ini dibandingkan dengan negara pesaing harus turut menjadi variabel pembanding, menurut Hartono.

 

Ia mencontohkan, kesehatan dan pendidikan di negara tersebut disubsidi sementara di negara ini petani/peternak menanggung sendiri. Ini tentu mempengaruhi tingkat kelayakan. Belum lagi infrastruktur transportasi yang memadai sampai pelosok dan disediakan pemerintah, sementara peternak Indonesia harus menanggung beban yang tinggi. “Ada banyak parameter yang harus dihitung teliti, baru kita bisa membandingkan. Kalau tidak, pasti kita akan vonis petani kita tidak efisien. Jadi HPP tak sebatas di produksi saja,” ujar dia. Banyaknya subsidi tidak langsung yang dinikmati untuk bisa hidup layak, menjadikan petani luar negeri tidak masalah dengan angka HPP tersebut. Hartono meyakini, petani/peternak dalam negeri tidak dapat hidup layak, karena banyak faktor lain yang dibebankan padanya. Termasuk suku bunga kredit, transportasi, sampai biaya sosial masyarakat.

 

Kembangkan Hilir
Gagasan pengembangan industri hilir, pengolahan telur menjadi produk telur cair atau tepung telur atau bahakan turunannya sempat mengemuka sebagai alternatif menjaga harga telur agar tidak fluktuatif (buffer).

 

Robby Susanto peternak layer asal Solo pun tak menampik, pengembangan usaha pengolahan telur perlu. “Kalau dibilang nggak perlu, salah. Jadi itu perlu,” kata Robby. Tetapi menurut dia persoalan harga naik turun dengan urusan pengolahan telur adalah 2 hal yang berbeda, dan harus dipisahkan. “Itu bisa digabung kalau anda bisa buktikan bahwa telur betul-betul berlimpah atau oversupply,” tutur dia. Menurut dia, fluktuasi harga adalah hasil kerjaan broker, yang mahir mempermainkan harga di tingkat peternak.

 

Gagasan pengembangan industri hilir, pengolahan telur menjadi produk telur cair atau tepung telur atau bahakan turunannya sempat mengemuka sebagai alternatif menjaga harga telur agar tidak fluktuatif (buffer).

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi Desember 2013

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain