Rabu, 1 Januari 2014

Gaduhnya Bisnis Broiler di 2013

Nilai tukar live bird yang di bawah HPPcdan berkepanjangan diyakini peternak sebagai parameter over supply. Tahun lalu dinilai sebagai tahun terberat

 

November tahun lalu, pemangku kepentingan perunggasan Kalimantan Selatan berani mengambil langkah penuh risiko. Semua perusahaan pembibitan yang ada di wilayah tersebut setuju memangkas 20 % dari total produksi DOC (ayam umur sehari) final stock (FS) masing-masing. Persetujuan ini dituangkan dalam sebuah dokumen yang juga ditandatangani dari elemen DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) tingkat I dan Dinas Peternakan setempat.

 

Sebagaimana keterangan yang disampaikan Rudi Budihartono, peternak broiler asal Kalsel kepada TROBOS Livestock, pemangkasan dilakukan 2 tahap. Pertama dilakukan pemangkasan 10 % pada 23 November, dan disusul 10 % lagi pada 27 November.

 

Dalam teknis pelaksanaannya, lanjut Rudi, pengawasan dilakukan dengan mendatangi tiap-tiap perusahaan breeding (pembibitan) di Kalsel oleh tim yang terdiri atas unsur peternak, dinas setempat, perusahaan breeding dan GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas) Komda Kalsel. “Untuk pemangkasan pertama berhasil, tetapi pada pemangkasan kedua disinyalir ada kecurangan. Tetapi kita sudah buat laporannya ke DPRD,” jelas Rudi.

 

Menurut dia, langkah pemangkasan ini akan dapat dirasakan dampaknya secara konkrit di akhir Desember. Meski demikian, saat ini pun sudah memberikan efek psikologis pada harga jual live bird (ayam hidup) di tingkat peternak wilayah tersebut. “Harga mulai terkoreksi ngangkat,” kata Rudi (18/12).

 

Rudi yang beternak sejak 2004 ini mengaku, 2013 adalah tahun terberat. Di tahun-tahun sebelumnya, ia menghitung, periode harga jual live bird yang di bawah HPP tidak lebih dari 1,5 siklus atau sekitar 2 bulanan saja. “Tapi tahun ini hampir sepanjang tahun,” keluh pemilik peternakan Adhom Farm yang berlokasi di Banjar, Kalsel ini.

 

Dia menyebut, untuk wilayahnya, harga ayam sempat terjun bebas di harga Rp 9.800 per ekor (pertengahan November). “Sedangkan HPP di kisaran Rp 15.500 – Rp 16.000, dengan harga DOC Rp 4.500 – Rp 5.000 per ekor,” ujarnya tak habis pikir. 

 

Menyusul situasi tersebut, peternak se-Kalsel mengadu ke DPRD dan kemudian oleh DPRD semua pemangku kepentingan dipertemukan. Dalam pertemuan terungkap secara terbuka data riil angka produksi DOC FS, produksi livebird peternak serta kekuatan pasar Kalsel. ”Disimpulkan bersama kala itu, bahwa terjadi over supply dan menuntut langkah aborsi sebanyak 20 %,” kata Rudi.

 

Cenderung Menasional
Fenomena serupa ditengarai tak hanya terjadi di Kalsel. Tekanan harga yang menurut sebagian peternak jeblok, menggejala hampir di semua daerah, kecenderungannya menasional. Sebagian besar peternak, terutama peternak mandiri, mengaku mengalami tekanan luar biasa tahun ini, utamanya kurun September – November. Dan mengkategorikan catatan 2013 sebagai rapot merah bisnis budidaya broiler.

 

Di satu sisi HPP merangkak naik akibat 3 kali kenaikan harga pakan dalam setahun, harga DOC yang tinggi serta dampak kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak), di sisi lain nilai tukar live bird justru melemah. Puncaknya adalah ketika tanpa jeda, September – November harga terus merosot tak kunjung membaik. Situasi ini sempat membuat gonjang-ganjing yang diwarnai demonstrasi peternak di halaman Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan di Ragunan, Jakarta.

 

Wahyu Suhadji, peternak broiler yang Ketua FKMP (Forum Komunikasi Masyarakat Perunggasan) Sulawesi Selatan, mengibaratkan apa yang dialami pada 2013 sebagai musibah tsunami kecil. Secara umum, setahun tersebut peternak menderita kerugian. Saat memberikan keterangan pada TROBOS Livestock (16/12), ia mengatakan harga broiler masih tertekan.

 

Titik terendah harga live bird di Makassar, kata Wahyu, adalah ketika harga ada di level Rp 9.000 per ekor (media akhir Oktober), sementara HPP di level Rp 16.000. Ia membuat ilustrasi, selama setahun hanya sekitar 35 % waktu-waktu menguntungkan bagi peternak. Selebihnya, 65 %, peternak harus menanggungtekor. Menurut dia, kondisi ini adalah situasi paling parah dibandingkan 2011 dan 2012. Pasalnya,saat itu harga sapronak masih relatif rendah.

 

Memberikan tambahan penjelasan,  Agus Wahyudi, Ketua Umum Perhimpunan Industri Peternakan Ayam Ras (Pintar) Lampung.  Agus menyebutkan, usaha peternakan komersial ayam pedaging di Lampung biasanya mengalami titik kritis dalam setahun hanya 3-4 kali saja, tetapi di 2013 sampai 6 – 7 kali. “Harga jual livebird hanya Rp 10 ribu per ekor, sementara HPP sudah di kisaran Rp 15.500 – Rp 16.000 per ekor,” ungkapnya.

 

Idem ditto untuk wilayah Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) yang merupakan pasar utama. Joko Susilo, peternak broiler asal Bogor menerangkan, selama tahun kemarin peternak mengalami periode 7 bulan untung dan 5 bulan rugi. Dan kerugian 5 bulan tersebut, menurut Joko, sangat signifikan. Lanjut dia, keuntungan dialami pada Januari, Februari, Mei, Juni, Juli, Agustus dan September. Sedangkan, kerugian pada Maret, April, Oktober, November dan Desember. “Khusus Oktober dan November, kerugiannya luar biasa,” ujarnya. Sehingga ia membenarkan, peternak Jabodetabek pada 2013 sebagian besar merugi.

 

Situasinya, sebagaimana dipaparkan Joko, Zurrahman, maupun Wahyu, tekanan di 2013 karena harga live bird yang melemah justru terjadi di saat HPP meningkat akibat kenaikan harga pakan yang cukup besar. “Seandainya kenaikan pakan tidak drastis mungkin masih nyaman bagi peternak,” ucap Joko setengah menggerutu.

 

Agus menyodorkan hitungan di Lampung. Ia mengatakan, jika chick-in sebanyak 6 juta ekor pada 2013, maka produksi live bird diperkirakan 200 ribu per hari. Padahal, serapan normal pasar hanya 180 ribu ekor per hari, dengan asumsi daya beli konsumen bagus. “Dengan serapan normal saja ada kelebihan 20 ribu per hari. Kalau kondisi tidak normal atau melemah, bisa berlebih 50 – 75 ribu per harinya,” jelasnya.

 

Untuk Kalimantan Selatan Rudi kembali menyebut 20 % over supply.  Angkanya, produksi DOC per bulan di Kalsel sebanyak 6,3 juta, sementara demand hanya 4,7 juta per bulan. “Lebih rincinya, terjadi selisih sekitar 30 – 40 ribu ekor per hari,” sebut anggota dari Forum Komunikasi Inti Broiler Kalimantan Selatan ini.

 

Rudi tak menampik, produksi DOC Kalimantan selatan juga memasok Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Tetapi menurut dia, data tersebut sudah termasuk pasar yang dikirim ke Kalimantan Tengah. “Karena itu semua stakeholder perunggasan Kalsel setuju terjadi over supply 20 %,” katanya.

 

Menghitung Demand
Kalkulasi berikut kerap diperdebatkan dan menjadi justifikasi adanya over supply. Produk FS saat ini merupakan hasil dari GPS impor pada 2011, karena perlu 1,5 tahun bagi GPS sampai menghasilkan FS. Dengan asumsi kebutuhan FS sekitar 2 miliar di 2012 atau 35 juta/minggu, dan 1 GPS menghasilkan kurang lebih 5 ribu FS, maka kebutuhan impor GPS 2011 hanya 450 ribu (sudah memperhitungkan deplesi). Tetapi faktanya, impor GPS 2011 tercatat 545.003 ekor. Artinya ada kelebihan 125 ribu ekor GPS yang berpotensi menjadi kelebihan ratusan juta DOC FS dalam setahun. Maka wajar apabila ditengarai terjadi banjir DOC FS yang sekaligus menjadi over supply dari live bird. Dan banjir produk ini memuncak di 2013. 

 

Menanggapi ini, Sekjen GPPU, Chandra Gunawan memberikan keterangannya kepada TROBOS Livestock. Ia menyebut, produksi DOC FS di 2013, sebagaimana diproyeksikan pada awal tahun adalah 2,156 miliar. Sama dengan 41 – 42 juta ekor per pekan.

 

Chandra menambahkan catatan, untuk angka produksi semester II 2013 akan ada koreksi. Dengan faktor kejadian penyakit, tekanan cuaca, dan beberapa faktor lain, produksi di paruh kedua terkoreksi sekitar 5 %. Sehingga angka produksi semester II akan berkisar di angka 39 juta ekor DOC per pekan. “Angka pastinya akan keluar Januari, karena masih kami hitung,” imbuh dia.

 

Dihadapkan pada asumsi dan kalkulasi di atas, Chandra tak menampik kesimpulan over supply akan terbaca apabila asumsi dihitung dari demand FS. Tetapi ia mengingatkan, apabila dihitung berdasarkan demand PS maka angka impor GPS tersebut justru masih kurang.

 

Chandra punya hitungan sendiri. Impor 450 ribu GPS hanya akan menghasilkan 16,2 juta PS, padahal kebutuhan PS 2012 18 – 19 juta ekor. Dengan impor 545 ribu GPS, didapat 18,6 juta PS di 2012 dan terbukti tidak ada impor PS di tahun tersebut karena permintaan PS mampu tercukupi dari lokal. PS ini menghasilkan DOC FS 1,9 miliar/th atau 37,4 juta/minggu dengan demand akhir 1,845 miliar DOC setahun.

 

Bottle Neck
Soal tudingan perusahaan pembibitan memproduksi DOC tanpa mengindahkan kemampuan serap pasar dan menyebabkan banjir, Chandra punya penjelasan. Menurut dia, demand tidaklah selalu tinggi sepanjang waktu. Di waktu-waktu tertentu permintan menurun, daya beli konsumen melemah, harga live bird jelek, sehingga peternak mengurangi chick in, alhasil serapan DOC menyusut. “Di saat seperti inilah, terlihat seolah over supply,” ia berargumen. Tetapi, Chandra melanjutkan dalih, di waktu berbeda demand demikian tinggi sampai berebut. Artinya, menurut dia, ini tak lebih merupakan dinamika pasar.

 

Dan soal indikasi terpuruknya harga live bird yang berlangsung sampai lebih dari sebulan (September – November) adalah rentetan dampak dari Lebaran. Dijelaskan Chandra, produksi breeding 42 juta per pekan. Dan saat Lebaran, ada 1 pekan telur tetas (hatching egg/HE) oleh breeding tidak ditetaskan 100 %, terkait cuti libur tenaga kerja, transportasi, dan sebagainya. “Lebaran lalu hanya 50 % yang ditetaskan, dari produksi normal 42 juta,” terangnya.

 

Artinya, lanjut Chandra, sekitar 21 juta tersimpan dan ditetaskan di pekan-pekan berikutnya. Biasanya telur “menginap” ini habis 5 – 6 pekan, ternyata tahun ini melanjut hingga 8 – 10 pekan. 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 172/ Januari 2014

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain