Kamis, 1 Januari 2015

Harga Ayam Masih Jeblok, Telur Naik

Di penghujung 2014, belum ada tanda-tanda perbaikan harga live bird (ayam hidup) broiler (ayam pedaging) di tingkat peternak. Harga live bird di kandang masih di level Rp 13 – 16 ribu per kg kg.

Peternak broiler asal Bekasi, Djody Haryo Seno, mengungkapkan selama Desember 2014 harga live bird di Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi) masih berada di harga Rp 14 – 15 ribu per kg. Meskipun harga ayam hidup pernah mencapai Rp 16 ribu per kg tapi tidak lama turun lagi.

Ketua Perhimpunan Peternak Unggas Bersatu (PPUB) Bekasi ini menambahkan, harga DOC (Day Old Chick/ayam umur sehari) berada di kisaran Rp 1.000 – 1.500 per ekor. Sementara harga pakan masih berada di angka Rp 7.200 per kg. Menjelang perayaan Natal dan tahun baru, Djody mengatakan, tidak mempengaruhi peningkatan permintaan dan harga karena terjadinya kelebihan pasokan di pasaran.

Selama Desembet, kata Djody, banyak ayam yang ambruk akibat terserang penyakit. Wabah yang ditemui antara lain adalah Coli, CRD (Chronic Respiratory Disease), dan ND (Newcastle Disease) yang menyebabkan kematian ayam di kandang mencapai lebih dari 10 %. Dan, FCR (Feed Convertion Ratio) bengkak menjadi 1,7. Pada DOC juga banyak yang mengalami omphalitis.

Selain itu, Djody menduga perintah cutting (pemangkasan) DOC yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan juga tidak dilakukan sehingga kelebihan pasokan di pasaran masih terjadi. “Kondisi yang tidak menguntungkan ini membuat sebagian besar peternak di Bekasi harus gulung tikar. Dari 30 orang di 2004, saat ini hanya tersisa 3 orang atau 10 %,” ungkapnya.

Ia menyadari, satu-satunya jalan untuk bertahan ialah dengan meningkatkan efisiensi, yakni menekan biaya produksi dan mortalitas. Penggunaan closed house (kandang tertutup) bisa lebih efisien tetapi dengan kondisi peternak yang terus merugi tidak memungkinkan peternak untuk beralih ke closed house karena modalnya tinggi.

Djody meminta, pemerintah lebih menggenjot program kedaulatan pangan sehingga rendahnya harga live bird tidak dianggap menjadi masalah. “Jika peternak sudah mati, perusahaan besar saling bersaing, dan masyarakat ekonomi ASEAN sudah diberlakukan jangan sampai Indonesia mengimpor produk ayam karena kalah bersaing efisiensi dengan asing,” tegasnya.

Tidak jauh berbeda dengan di Jabodetabek, harga live bird di daerah Jogjakarta berada di kisaran Rp 13.500 – 14.000 per kg di Desember 2014. “Harga ayam sepanjang Desember 2014 terus berfluktuasi,” kata Hari Wibowo, peternak broiler asal Jogjakarta. Bahkan, di awal minggu ke-4 (22/12) harga live bird menyentuh Rp 13 ribu per kg. Tidak diketahui sebabnya, harga ayam di Desember tidak pernah baik meskipun ada perayaan Natal dan tahun baru bahkan malah anjlok di bawah HPP (harga pokok produksi).

Ia menambahkan, di bulan ini peternak masih menanggung kerugian sekitar Rp 2.000 per kg karena HPP berada di level Rp 15.500 per kg, dengan harga DOC dipatok Rp 3.500 per ekor. Sementara biaya operasional sebesar Rp 1.500 per kg. Hampir sama dengan harga di wilayah Jabodetabek, harga pakan di area Jogjakarta masih di kisaran Rp 7.100 – 7.200 per kg. Angka FCR di tingkat 1,6.

Disinggung masalah penyakit, pria yang sudah beternak selama 10 tahun ini mengungkapkan saat ini tidak ada ayam yang terdeteksi wabah tertentu. Hal ini mempengaruhi tingkat mortalitas ayam yang rendah, yakni di bawah 4 %. Meski demikian, ia mengeluhkan kualitas DOC yang rendah. “DOC yang datang di kandang kurang lincah, makan banyak, tapi nggak mau besar,” keluhnya. Ada juga DOC yang terkena omphalitis. Kondisi ini, lanjut dia, berimbas pada ayam yang sulit besar.

Sejauh ini jumlah peternak di Jogjakarta tidak mengalami penurunan. Akan tetapi, dilihat dari jumlah ayam, populasi ayam di setiap peternak hanya tersisa sekitar 30 – 40 % populasi awal.

Sedikit berbeda dengan harga live bird di 2 daerah sebelumnya, harga live bird di Parung Panjang, Bogor di Desember 2014 cenderung lebih tinggi dikisaran Rp 13.300 – 16.900 per kg. Yuyanto, peternak broiler asal Parung mengatakan, pada awal minggu ke-4 (23/12), harga berada di level Rp 16.700 per kg, kemudian meningkat Rp 200 per kg menjadi Rp 16.900 per kg (24/12). Dengan harga DOC antara Rp 1.650 –2.400 per ekor, harga konsentrat per kg berada di level Rp 6.950, dan biaya operasional yang mencapai Rp 1.500 per kg, HPP yang dikeluarkan Yuyanto mencapai Rp 14.300 – 14.600 per kg.

Harga yang lebih tinggi tersebut dilatarbelakangi oleh ketersediaan ayam yang langka di pasaran. “Sekarang jarang ada ayam yang performanya bagus,” kata Yuyanto. Pertumbuhan ayam lambat (sulit besar) meski konsumsi pakannya tinggi. Sekitar 8 % DOC yang ia beli dari perusahaan pembibitan berukuran kecil.

Banyak ayam umur 33 hari beratnya masih 1,2 – 1,3 kg. Akibatnya, dengan bobot badan ayam 1,53 kg, FCR melonjak ke angka 1,64. FCR ayam sehat pun, masih tergolong tinggi. Selain itu, pertumbuhan di kandang juga tidak merata.

Menyoal penyakit yang menyerang di kandang, Yuyanto menyampaikan Desember ini banyak ayam yang terkena virus gumboro.Virus ini juga merebak di wilayah Serang, Banten. Ia khawatir akan banyak peternak yang tumbang karena tidak memberi vaksin gumboro ke ayamnya.  

Di peternakan miliknya, tingkat mortalitas di kandang mencapai sekitar 6,1 % dari populasi atau memakan sekitar 2.000 ekor ayam. Selain gumboro, penyakit coli dan CRD juga masih ditemui di kandang.

Melihat kondisi yang tidak memungkinkan ini, Yuyanto mengaku sedang mengistirahatkan salah satu kandangnya. Ia berencana melakukan chick in kembali saat situasi sudah membaik. “Mungkin masukin ayam 2 – 3 minggu lagi,” ujarnya.

Harga Telur
Berbeda dengan broiler, komoditas telur ayam bisa dikatakan membaik. Harga telur di tingkat peternak tercatat naik. Gregorius Hosea, peternak layer (ayam petelur) di Tangerang menyampaikan harga telur di tingkat peternak sepanjang Desember 2014 berada di kisaran Rp 16 – 19 ribu per ekor. “Di minggu pertama telur masih di harga Rp 11 ribu per kg, lalu naik di minggu ke-2 menjadi Rp 16 ribu per kg,” terang pria yang akrab disapa Gerry ini. Di minggu ke-3, harga telur berada di harga Rp 19 ribu per kg, kemudian turun ke level Rp 18.600 per kg pada minggu ke-4 (26/12).

HPP telur selama Desember, kata dia, berada di kisaran Rp 17 – 18 ribu per kg. Sementara harga pakan, yakni jagung naik hingga ke angka Rp 4.700 – 5.000 per kg. Naiknya harga jagung dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat akhir-akhir ini.

Sementara itu, harga telur ayam di wilayah Sulawesi Selatan terpantau terus meningkat di sepanjang Desember 2014. “Di Desember harga telur meningkat tajam,” ujar Fendi, peternak layer di  Kabupaten Soppeng.

Harga telur di tingkat peternak pada minggu pertama Desember tercatat di level Rp 34.500 per rak. Kemudian, harga merangkak naik ke Rp 35.000 per rak di minggu ke-2. Harga lalu kembali naik di Rp 35.500 per rak di minggu berikutnya. Pada minggu ke-4, tepatnya (27/12) harga telur diperjualbelikan di level Rp 37.000 per rak. Harga telur di Desember ini, imbuhnya, lebih tinggi ketimbang di November yang rata-rata di angka Rp 32.000 – 32.500 per rak.

Fendi menganalisis, kenaikan harga ini dilatarbelakangi oleh perayaan Natal dan tahun baru 2015. Ia memprediksi, harga akan terus naik karena mendekati bulan Maulid pada kalender Islam yang jatuh di Januari 2015 mendatang. Di bulan tersebut, biasanya harga telur ayam tinggi. Sementara itu, ayam apkiran dijual dengan harga Rp 430 ribu per lusin atau sekitar Rp 35 ribu per ekor.

Bicara soal pakan, Fendi menyebut saat ini harga jagung di daerahnya diperjualbelikan di angka Rp 3.100 per kg. “Harga ini sedikit lebih tinggi dari harga di bulan sebelumnya yang berada di level Rp 3 ribu per kg,” kata pria yang sudah menekuni ternak layer sejak 1992 ini. Ia juga mengungkapkan, saat ini tidak ada masalah penyakit di peternakannya. Oleh karenanya, tingkat mortalitas dapat ditekan di angka 0,5 % dari total populasi yang mencapai 15 ribu ekor.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 184 / Jan 2014

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain