Rabu, 1 Juli 2015

Arief Daryanto: Kebijakan Stabilisasi Harga Ayam Ras

Tantangan utama industri perunggasan nasional adalah industri ini sangat sensitif terhadap harga input (biaya) dan harga output. Kemampuan industri dalam mengelola fluktuasi (volatilitas) harga input dan output ini merupakan kunci utama dalam menghadapi dinamika persaingan dalam industri ini.

 

Rawan Fluktuasi Harga

 

Tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh belahan dunia, bisnis peternakan ayam ras (broiler) merupakan suatu kegiatan usaha yang sangat sensitif terhadap biaya input dan harga outputnya (cost-and output price-senstitive). Biaya pakan dalam industri ayam ras memiliki kontribusi yang sangat besar, sekitar 65 – 70 % dari total biaya produksi secara keseluruhan.

 

Jika harga pakan naik, maka biaya produksi juga akan naik. Volatilitas harga pakan sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar internasional, mengingat sebagian input (misalnya jagung dan kedelai) masih diimpor. Harga ayam ras memiliki volatilitas harga yang sangat tinggi. Misalnya, ketika di pasar terjadi “excess supply” LB (live birds), maka harga LB akan tertekan ke bawah. Sebaliknya, jika terjadi “excess demand” LB, maka harga LB akan naik.

 

Fluktuasi harga DOC (day old chicken) pun dapat diterangkan dengan hukum ekonomi. Jika permintaan lebih tinggi dari penawaran, terjadi “excess demand”, maka harga DOC akan tinggi. Sebaliknya jika penawaran lebih banyak dari permintaan, terjadi “excess supply”, maka harga DOC akan turun.

 

Fluktuasi harga daging ayam ras sebenarnya bukan fenomena baru. Hal ini dikarenakan produk perunggasan secara umum bersifat musiman (seasonal), mudah rusak (perishable) dan permintaan tidak elastis (inelastic).

 

Sifat musiman berarti pada saat panen supply melimpah, demand tetap, maka harga cenderung menurun. Sebaliknya, pada saat paceklik, supply menipis, demand tetap (apalagi meningkat), harga cenderung naik. Jika tidak ada upaya pengelolaan logistik yang efektif, perbaikan infrastruktur pemasaran, perbaikan saluran pemasaran, perbaikan informasi pasar dan pengembangan industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah dari “perubahan bentuk” (form utilities, dari LB menjadi chilled, frozendan processed), maka fluktuasi harga yang terjadi akan terus berulang.

 

Perlu diketahui juga, permintaan daging broiler memang tidak stabil sepanjang tahun. Ada permintaan tinggi terhadap daging broiler terutama pada bulan Ramadan, hari raya, liburan, pemilu/pilkada dan bulan-bulan baik disaat masyarakat banyak menyelenggarakan perayaan, tetapi  terkadang masyarakat juga menunda permintaan daging ayam jika ada kebutuhan-kebutuhan lain yang mendesak misalnya pada waktu masuk sekolah.

 

Pilihan Kebijakan Pemerintah

 

Setidaknya ada dua pilihan kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah dalam menata industri perunggasan. Pertama, serahkan semuanya kepada mekanisme pasar, dan kedua, intervensi pasar yang cerdas sehingga tercipta stabilisasi harga.

               

Jika diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, maka perusahaan (pelaku) yang paling tangguh dan paling cerdas yang akan bertahan. Perusahaan yang paling tangguh merupakan perusahaan yang memiliki “financial balance sheet” yang kuat. Industri perunggasan global dua tahun ini mengalami masa-masa sulit sehingga banyak perusahaan yang selama ini “high profiles” mengalami kesulitan keuangan atau bangkrut. 

 

Butland (2014) menyebutkan, perusahaan Doux dan Marfrig (Brazil), Saha Farms (Thailand) dan 10 perusahaan di Amerika Serikat mengalami kesulitan keuangan atau terancam bangkrut. Perusahaan-perusahaan tersebut menunggu pinangan (merger & acquisition) dari perusahaan lain yang lebih kuat atau menunggu kebrangkutan. Kebijakan yang diserahkan kepada mekanisme pasar semacam ini merupakan “zero-sum game policy”. Kebijakan yang menghasilkan pemenang dan pecundang. Pemenang (winner) adalah pihak yang diuntungkan, pecundang (losser) adalah pihak yang dirugikan.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 191 / Agustus 2015

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain