Kamis, 1 Pebruari 2018

Mengatasi Keguguran pada Babi

Pertanyaan:

 

Saya peternak babi dengan kapasitas populasi kurang lebih sebanyak 300 ekor induk dan sudah beternak turun temurun dari orang tua. Hanya, sejak musim hujan tahun lalu hingga sekarang, kami mengalami permasalahan pada induk babi bunting. Induk babi tersebut banyak sekali yang mengalami keguguran pada masa kebuntingan bulan kedua. Pada saat keguguran ada beberapa anak babi yang kelihatan sudah membusuk. Kami biasanya melakukan pengobatan dengan pemberian suntikan antibiotik pada induknya, akan tetapi beberapa hari ke depan induk tersebut tidak mau makan bahkan ada yang mati. Sebagai informasi bahwa kami masih meng­gunakan pakan campuran sisa restauran, ampas tahu dan bahan baku tambahan lainnya. Kira-kira apa yang harus kami lakukan pak? Mohon penjelasannya. Terimakasih.

 

 

Eddy Soemarno – Bali

 

Jawaban:

Terimakasih atas informasi mengenai permasalahan yang sedang dialami ternak babi milik bapak yaitu mengalami keguguran pada kebuntingan bulan kedua. Kami dapat merasakan keresahan bapak karena ternak babi yang semula diharapkan akan bisa menghasilkan uang dengan kelahiran anak-anak babi yang sehat dan banyak, namun sirna karena adanya keguguran. Akan tetapi, sayang sekali informasi peternakan yang kami dapatkan dari bapak sangat minim sehingga pembahasannya tidak bisa langsung fokus. Tetapi, kami berusaha membahas permasalahan ini dari hal yang biasa terjadi terutama pada peternakan babi.

 

Seperti kita ketahui bahwa kunci keberhasilan suatu peternakan secara umum selain faktor lingkungan adalah terletak pada faktor pakan, bibit dan manajemen. Dengan memiliki pemahaman yang baik tentang pakan, bibit dan manajemen, biasanya suatu peternakan akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Akan tetapi, jika terjadi suatu permasalahan pada peternakan tersebut seperti timbulnya penyakit atau kegagalan pertum­buhan dan sebagainya, menandakan bahwa terdapat ketidakseimbangan pada faktor-faktor tersebut. Sebagai gambaran bahwa secara genetik babi yang ada di Indonesia saat sekarang bisa dikatakan menurun dari tahun ke tahun, hal ini terutama disebabkan oleh kurangnya pejantan strain berbeda dari babi impor serta maraknya inbreeding (perkawinan sedarah). Hal ini juga bisa berpengaruh pada kualitas babi yang dihasilkan.

 

Babi yang mengalami keguguran banyak sekali penyebabnya, tapi sebagian besar akibat adanya masalah pada ransum. Berdasarkan info dari bapak, kami mencoba membahas dari sisi ransum babi, dimana babi merupakan ternak monogastrik yang mampu mengubah bahan makanan secara efisien. Limbah pertanian, peternakan dan sisa makanan manusia yang tidak termakan pun dapat digunakan oleh babi sebagai ransum. Besarnya konversi babi terhadap ransum yang benar biasanya sekitar 3,5 artinya untuk menghasilkan berat babi 1 kg dibutuhkan sebanyak 3,5 kg ransum. Namun ransum yang dimaksudkan disini adalah ransum yang memiliki kadar nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan babi.

 

Penggunaan limbah makanan sebagai ransum babi memang terasa dilema, karena disatu sisi harganya murah dan relatif mudah diperoleh. Namun, disatu sisi penyakit mengancam karena kita tidak mengetahui kadar nutrisi maupun derajat kesegaran makanan tersebut. Ransum yang basi cenderung sudah ditumbuhi oleh jamur yang bahkan sudah menghasilkan racun (toksin) terutama toxin jenis zearalenone yang saat sekarang su­dah mulai banyak ditemukan pada peternakan babi. Zearalenone adalah mikotoksin estrogenik nonsteroid yang diproduksi oleh banyak spesies jamur fusarium dan ditemukan di sejumlah tanaman sereal dan produk makanan lainnya. Zearalenone memiliki aktivitas estrogenik dan anabolik dimana efek utamanya adalah pada organ reproduksi dan fungsinya, yang menyebabkan hiperestrogen hingga terjadi keguguran.

 

Sehubungan dengan kejadian keguguran pada peternakan bapak yang bersifat masif, maka besar dugaan kami bahwa kasus tersebut diakibatkan oleh adanya infeksi mikotoksin zearalenone dalam ransum limbah atau ampas tahu yang bapak miliki. Namun untuk lebih jelasnya bisa diadakan uji laboratorium lebih lanjut ransum tersebut terhadap kan­dungan mikotoksin terutama zearalenone. Mikotoksin zearalenone tidak dapat dibunuh akan tetapi hanya dapat diikat (bind), sehingga mikotoksin tersebut tidak merugikan peternak.

 

Salah satu mycotoxin binder (pengikat mikotoksin) yang dapat mengikat zearalenone adalah ekstrak dari dinding sel yeast Saccharomyces cereviceae yang dikenal dengan Beta Glucan yang memiliki kemampuan luar biasa untuk mengikat zearalenone dalam ransum babi. MASTERSORB adalah salah satu produk mikotoksin binder generasi terbaru dari EW Nutrition GMBH, Jerman yang memiliki kandungan Beta Glucan selain Sylimarin yang dapat melindungi hati dari infeksi mikotoksin.

 

Jika menggunakan ransum kering maka MASTERSORB dapat di­gunakan dengan dosis pencegahan 0.5 – 1 kg per ton pakan, namun jika menggunakan ransum basah maka dosis yang digunakan adalah 1-2 kg per ton pakan. Untuk dosis pengobatan jika sudah terjadi kasus infeksi adalah 2 kg per ton MASTERSORB lewat pakan kering dan 3 kg per ton jika menggunakan pakan basah selama 7 hari berturut-turut sambil dilakukan pertukaran ransum dengan ransum yang lebih baik. Pemberian suntikan antibiotik terutama Oxytetracycle Long Acting (CENTRE OXYTE LA) pada induk yang mengalami keguguran sangat dianjurkan untuk mencegah infeksi sekunder dengan dosis 1 ml/ 10 kg berat badan dan tidak lebih dari 20 ml pada satu sisi penyuntikan. Demikian yang dapat kami sampaikan semoga ada manfaatnya, salam. lTROBOS/Adv

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain