Sabtu, 1 Desember 2018

Korporasi Domba Berbasis Pesantren

Korporasi Domba Berbasis Pesantren

Foto: ramdan


Sinergi HPDKI dengan pemerintah, asosiasi, pelaku usaha swasta, perbankan, dan pesantren menumbuhkan wirausaha baru di bisnis domba dan kambing khususnya di kalangan para santri sekaligus menggerakan dan memberdayakan ekonomi umat
 
 
 
Kampung Cibulakan, Desa Cinta, Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Garut, Jawa Barat bisa dikatakan sebagai daerah yang religius karena memiliki Pondok Pesantren Nurul Hidayah. Namun tidak sekedar aktivitas keagamaan yang rutin dilakukan di pesantren ini, para santri pun diajak untuk menekuni wirausaha baru yang berfokus di bidang peternakan. 
 
 
Predikat Garut sebagai salah satu sentra ternak domba di Jawa Barat dan konsep klasterisasi penggemukan yang digagas oleh HPDKI (Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia) mendorong para santri di pesantren ini mengembangkan peternakan domba secara intensif. Guna memperkuat pengembangan bisnis ini, Cecep Saipul Milah selaku pengurus Pondok Pesantren Nurul Hidayah bersama dengan santri dan orang tua santri membentuk Kelompok Peternak Pondok Pesantren Nurul Hidayah. 
 
 
Meski beternak domba namun pria berumur 25 tahun ini tidak melupakan kewajibannya untuk mengajar di pesantren setiap hari. Setelah mengajar di sore hari, Cecep selalu menyempatkan diri ke kandang untuk memastikan domba dalam keadaan baik. Bahkan, tidak segan untuk membantu anggota kelompoknya dalam memberi pakan domba. 
 
 
Setiap anggota kelompok mempunyai tugas masing – masing diantaranya administrasi, manajerial, dan lapangan. “Kalau saya di manajerial, di administrasi satu orang dan 7 orang sisanya mengelola di kandang seperti pemberian pakan, pembersihan kandang, dan piket harian,” katanya Ketua Kelompok Peternak Pondok Pesantren Nurul Hidayah ini kepada TROBOS Livestock.
 
 
Cecep bersama kelompoknya mengaku tertarik memelihara domba karena merupakan sunah seperti yang Nabi Muhammad SAW pernah lakukan. “Saat ini pemeliharaan domba sudah memasuki periode kedua. Sebelum mengikuti program ini, pesantren hanya mempunyai domba sebanyak 30 ekor, sekarang populasi kurang lebih sejumlah 263 ekor dengan mayoritas domba betina untuk penggemukan,” jelasnya.
 
 
 Usaha penggemukan domba di pesantren juga menggeliat di Sukamanah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat tepatnya di pesantren Nurul Huda. Deden Herlan, pengajar di pesantren ini setiap pagi atau sore sehabis mengajar membantu anak kandang memberikan pakan ke 100 domba ekor gemuk di kandang. “Staf pengajar di pesantren sekaligus anak kandang yang khusus memelihara domba ada dua orang. Mereka bergantian memberi pakan, membersihkan kandang, dan menjaga domba,” ujarnya.
 
 
Ia menyebutkan domba bakalan yang dipelihara awalnya mempunyai bobot badan berkisar 15 – 17 kg per ekor. Setelah dipelihara selama 3 bulan (satu periode) bobot badannya mencapai 25 – 30 kg per ekor. “Rata-rata pertambahan bobot badan dalam satu periode 10,2 kg per ekor. Adapun untung yang diperoleh sekitar Rp 3 juta per periode,” ungkapnya.
 
 
Sementara itu, 8 orang alumni pesantren di sekitar Kecamatan Gempol, Cirebon melakukan kegiatan beternak domba yang dijadikan sebagai mata pencaharian. Alumni pesantren yang tergabung dalam Kelompok Peternak Santri Subuh yang berlokasi di Desa Tegal Karang, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon ini melakukan rotasi dalam memelihara domba mulai dari memberi pakan, membersihkan, dan menjaga kandang. 
 
 
Sejak 3 bulan lalu, kelompok ini mulai beternak domba sebanyak 200 ekor. “Kami memelihara domba, karena daging domba sudah banyak dikonsumsi oleh masyarakat tidak hanya daging sapi dan ayam, sehingga prospek usahanya cukup besar,” kata Ketua Kelompok Peternak Santri Subuh Sambudi.
 
 
Adapun pengelolaan ternak dilakukan secara bergiliran. Pakan yang diberikan pada pagi dan sore hari yaitu konsentrat, sedangkan siang hari pakan hijauan.“Konsentrat diberikan 0,7 % dan hijauan 0,5 %,” ucapnya.
 
 
Kelompok Ternak Santri Subuh masih memilih segmen penggemukan domba, karena mendapatkan keuntungannya lebih cepat dibandingkan pembiakan. Selain itu, di segmen pembiakan butuh lahan yang luas dan ketersediaan pakan hijauan yang harus banyak. Berbeda dengan penggemukan yang pemeliharaannya hanya memerlukan waktu kurang lebih 3 bulan, serta pakan dan hijauannya pun tidak terlalu banyak. Adapun bakalan yang dipelihara merupakan domba betina ekor gemuk dengan bobot badan di kisaran 15 – 17 kg per ekor.
 
 
 
Berbasis Pesantren
Cecep, Deden, dan Sambudi merupakan peternak yang mengikuti program klasterisasi penggemukan domba berbasis pesantren. Mereka membuat kegiatan beternak domba dengan sistem pemeliharaan secara intensif yang difasilitasi oleh PT Agro Investama, perusahaan peternakan yang berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat.
 
 
Nuryanto, staf R & D (Research and Development) PT Agro Investama menjelaskan PT Agro Investama yang memiliki salah satu unit usaha di bidang pemeliharaan domba berkeinginan untuk berkolaborasi bersama masyarakat dalam memenuhi permintaan pasar baik domestik maupun ekspor. Sejak awal 2018, PT Agro Investama bekerjasama dengan HPDKI untuk memulai dan mengembangkan program pemberdayaan masyarakat melalui program korporasi peternakan rakyat usaha budidaya domba berbasis sistem klaster yang telah dikembangkan HPDKI sejak 2017.
 
 
Melalui program ini, PT Agro Investama ditunjuk sebagai off taker untuk bersama para peternak rakyat membentuk usahanya menjadi sebuah sistem korporasi. Juga membina masyarakat peternak domba agar usahanya menjadi lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan. “Dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki, kami membagi pengalaman kepada para peternak dalam usaha budidaya domba berupa teknologi pemeliharaan, pakan, kesehatan ternak dan keuangan,” terang Nuryanto.
 
 
Bersamaan dengan perkembangan klasterisasi yang telah berjalan, HPDKI dan PT Agro Investama memperluas sasaran target pengembangannya tidak hanya dikhususkan untuk kelompok peternak domba sebagai penggerak ekonomi di pedesaan. Namun model klasterisasi ini juga dapat diterapkan di lingkungan pesantren melalui pemberdayaan santri atau masyarakat sekitar pesantren sebagai model kegiatan ekonomi umat yang digagas oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan pemerintah dimana domba menjadi bagian dari agenda arus baru ekonomi Indonesia dengan nama program Prodombas (Program Domba Nasional). “HPDKI dan PT Agro Investama berkeinginan turut serta dalam mendukung dan berkontribusi atas agenda tersebut yang kemudian melibatkan Hipsi (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia) Jawa Barat dalam mengakomodir perluasan dari sasaran kegiatan korporasi peternakan rakyat usaha budidaya domba,” paparnya.
 
 
Saat ini dari total klaster yang sudah berjalan 50 % diantaranya berada di lingkungan pesantren atau santri yang tersebar di wilayah Jawa Barat sebagai model. Dalam perjalanannya, program korporasi peternakan rakyat melalui model klaster di lingkungan pesantren atau santri ini tidak sepenuhnya dapat diadopsi, misalnya seperti dalam hal pembiayaan permodalan yang menggunakan skema KUR (Kredit Usaha Rakyat) dari bank komersial, ada beberapa diantaranya yang menolak namun ada yang juga membolehkan. Untuk permasalahan yang seperti ini, dicarikan alternatif pembiayaan lain dari pihak ketiga. Ke depan, sarana pembiayaan dalam kegiatan ini dimungkinkan berkolaborasi dengan Bumdes (Badan Usaha Milik Desa), Fintect (Financial Technology) maupun program pembiayaan lainnya yang lebih mudah dan terjangkau untuk peternak. “Pada prinsipnya, skema klasterisasi tidak berubah, namun dalam hal besaran nilai dan skema keuangannya disesuaikan dan menjadi keputusan peternak,” ujar Nuryanto.
 
 
 
Pemberdayaaan Ekonomi Umat
Ide untuk mendorong santri agar mempunyai kemampuan tidak hanya ilmu agama tetapi kemampuan usaha untuk meningkatkan perekonomiannya sebenarnya sudah tercetus sejak lama. Bahkan di Jawa Barat ada istilah “Santri Kudu Bisa Ngaji Jeung Ngejo”, artinya bagaimana santri yang sudah mempunyai ilmu agama tetapi harus bisa mempunyai ekonomi yang baik juga.
 
 
“Saya melihat banyak santri lulusan pesantren kurang kemampuannya untuk berekonomi, padahal harus berhadapan dengan masyarakat. Untuk itu, kami berupaya bagaimana melakukan peningkatan kemampuan mereka dalam kegiatan ekonomi, khususnya beternak karena mereka akan berada di lapangan,” papar Ketua Umum HPDKI, Yudi Guntara Noor. 
 
 
Pria yang menjadi salah satu pembina di Hipsi (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia) ini menyebutkan HPDKI mulai mengembangkan sistem klasterisasi domba dan kambing di pesantren. Tujuannya agar ke depan, selain meningkatkan populasi domba juga dapat meningkatkan ekonomi umat melalui kegiatan ekonomi pesantren yang sejalan dengan program MUI terkait pemberdayaan ekonomi umat.
 
 
Pesantren dipilih untuk pengembangan program klasterisasi ini karena memiliki beberapa aspek diantaranya jumlah santri yang cukup banyak, sehingga mempunyai kemampuan untuk mengembangkan populasi domba dan kambing. “Hanya potensi tersebut belum tergali, karena dari segi ekonomi pun masih tertinggal sehingga program kami masuk guna meningkatkan kegiatan ekonomi berbasis pesantren,” tegas Yudi.
 
 
Dari segi aspek moralitas, santri bisa lebih dipercaya kalau dititipkan sesuatu. Karena dalam program klusterisasi ini, salah satunya harus ada pihak perbankan yang akan melihat bagaimana kejujuran para peternak dalam menerima pinjaman. “Kami berasumsi, santri minimal mempunyai moral terkait kejujuran yang sudah dapat dipegang,” cetusnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 231/Desember 2018
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain