Selasa, 1 Januari 2019

Optimis Tetap Tumbuh

Optimis Tetap Tumbuh

Foto: trobos


Tahun politik diyakini menjadi salah satu penunjang industri perunggasan bisa terus berkembang 
 
 
 
Pesta demokrasi di Indonesia akan berlangsung hampir sepanjang 2019 sehingga banyak pihak mengatakan tahun ini sebagai tahun politik. Banyak aktivitas politik yang akan berlangsung hingga puncaknya dengan terpilih dan dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019 – 2023. 
 
 
Kemeriahan pesta demokrasi ini secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan konsumsi protein hewani termasuk asal daging dan telur ayam. Dengan aktivitas politik yang dilakukan bisa berdampak pada industri perunggasan broiler (ayam pedaging) dan layer (ayam petelur). “Permintaan akan daging dan telur ayam akan melonjak naik terutama pada Maret – April 2019. Karena orang kampanye butuh nasi kotak, isinya kalau bukan ayam ya telur,” ungkap Ketua Umum GPMT (Gabungan Pengusaha Makanan Ternak), Desianto Budi Utomo kepada TROBOS Livestock (20/12). 
 
 
Diperkirakan, peningkatan permintaan daging dan telur ayam tidak hanya terjadi pada momentum kampanye. Konsumsi dipastikan akan meningkat di tahun politik dengan tipe permintaan yang bervariasi sehingga ada kemungkinan permintaan naik yang berdampak pada harga yang ikut naik. “Namun bagi kami sebagai peternak untuk menaikkan harga ayam dan telurnya pun tidak terlalu gencar, karena sudah diatur oleh pemerintah. Bisa-bisa kalau menaikkan harga malah salah dan nanti kena operasi pasar oleh Satgas Pangan,” kilah Wakil Ketua Umum Pinsar (Perhimpunan Insar Perunggasan Rakyat) Indonesia, Eddy Wahyudin.
 
 
Desianto pun memprediksi, industri perunggasan di tanah air di tahun ini akan tumbuh sekitar 6 – 8 % saja. “Industri perunggasan akan tetap tumbuh meski pertumbuhan ekonomi agak melambat dari 5,5 % menjadi 5,2 %,” ujarnya optimis.
 
 
Senada dengan itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita meyakinkan, industri perunggasan tumbuh dengan baik. Bahkan, pertumbuhannya akan lebih maju dari tahun sebelumnya. “Banyak orang termasuk usaha-usaha kecil yang ingin menjadi importir Grand Parents Stock (GPS). Artinya minat orang beternak tinggi sekali,” ujarnya. 
 
 
 
Potensi Perluasan Pasar
Keinginan Timor Leste akan pasokan DOC (ayam umur sehari) berkelanjutan dari Indonesia menandakan produk yang dihasilkan berkualitas dan sesuai standar. Sudah barang tentu, Indonesia harus menghasilkan produk ekspor yang sudah diyakini negara lain.
 
 
Ketut mengungkapkan, peluang perluasan pasar untuk komoditas peternakan khususnya perunggasan di pasar global masih sangat terbuka lebar. Permintaan dari Timur Tengah dan negara lainnya di Asia sangat berpotensi untuk dilakukan penjajakan. “Timor Leste menginginkan kembali DOC kita karena mereka sudah mempercayai teknik atau strategi pengendalian penyakit yang kita lakukan. Sungguh apresiasi buat kita,” ujarnya bersemangat.
 
 
Lebih lanjut Ketut menilai, keunggulan halal menjadi daya tarik tersendiri untuk ekspor produk peternakan ke negara-negara tersebut. Saat ini masalah kesehatan dan keamanan produk hewan menjadi isu penting dalam pedagangan internasional dan kadang menjadi hambatan dalam menembus pasar global. Oleh karenanya, dukungan dari seluruh pelaku usaha terkait sangat dibutuhkan, utamanya dalam penerapan standar-standar internasional mulai dari hulu hingga hilir. Penerapan standar internasional diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk peternakan Indonesia.
 
 
“Kunci utama membuka peluang ekspor adalah status kesehatan hewan. Sehingga kami tak lupa dalam berbagai kesempatan baik regional maupun internasional, memberikan informasi terkait jaminan kesehatan hewan dan keamanan pangan untuk produk yang akan diekspor. Ini dilakukan guna menembus dan memperlancar hambatan lalu lintas perdagangan,” tegas Ketut. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 232/Januari 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain