Selasa, 1 Januari 2019

Agus Suwarna : Dari Sales ke Peternak Ayam

Agus Suwarna : Dari Sales ke Peternak Ayam

Foto: nova
Agus Suwarna

Dunia perunggasan sudah menjadi separuh bagian dari kehidupannya yang mendorongnya untuk tetap bertahan dan terus mengembangkan usahanya
 
 
 
Melakoni bisnis perunggasan sejak 18 tahun silam, membuat pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, 2 Maret 1969 ini jatuh hati. Agus merintis bisnis peternakan broiler (ayam pedaging) di mulai dengan menyewa kandang di akhir 2000 dan mendirikan Berkah Putra Chicken pada 6 Januari 2001. 
 
 
Usaha yang dijalankan alumni Jurusan Produksi Ternak di Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah angkatan 1988 ini terus berberkembang sampai saat ini dengan populasi tak kurang dari 200 ribu ekor. “Bagi saya, dunia perunggasan sudah menjadi separuh bagian dari kehidupan,” ungkapnya kepada TROBOS Livestock saat ditemui di kediamannya di daerah Tonjong, Bogor Jawa Barat.
 
 
Begitu lulus kuliah, Agus langsung terjun sebagai praktisi di perunggasan. Berbagai bidang keahlian ia lakoni dimulai dengan bekerja di farm komersial selama setahun, kemudian bekerja di peternakan pembibitan GPS (Grand Parent Stock) selama 2 tahun, lalu pindah menjadi sales pakan selama 7 tahun. “Saat menjadi sales pakan ini lah, saya mulai belajar memelihara ayam,” terangnya.  
 
 
 
Berinteraksi Dengan Peternak
Menyukai bidang peternakan dan ingin terjun di dunia ayam diakui Agus sejak ia duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Makanya, saat belajar di SMA (Sekolah Menengah Atas) mengambil jurusan biologi karena berkaitan dengan makhluk hidup.
 
 
Daya tarik bidang peternakan bagi Agus karena ia besar di daerah pedesaan yang terdapat berbagai macam komoditas peternakan seperti ayam, sapi, dan kambing. Ditambah lagi, dunia usaha di sekitar tempat tinggalnya juga didominasi peternakan ayam, sehingga ketika sudah terjun di bidang ini sulit untuk pindah ke lain hati.
 
 
Profesi sebagai sales pakan membuat Agus bisa mengenal dan berinteraksi dengan banyak peternak mulai dari yang memiliki populasi kecil sampai besar. “Saya rasakan waktu itu, usaha beternak ayam ini tidak terlalu sulit. Sepertinya menjadi peternak enak, banyak yang usahanya maju, ayam sakit yang ngurus malah sales. Peternak zaman dulu istilahnya berhasil, bisa kaya raya, dan hidupnya enak. Akhirnya saya memutuskan ingin mencoba memelihara ayam,” kenangnya.
 
 
Mencoba peruntungan di bisnis peternakan ayam dilakukan Agus pada saat Indonesia mengalami krisis ekonomi di 1997. Setelah krisis banyak kandang ayam yang terpaksa tutup dan kosong. “Bermodalkan sedikit tabungan saya mencoba sewa kandang di daerah Dramaga, Bogor yang memiliki kapasitas 4.000 ekor,” katanya. 
 
 
Karena tabungan sedikit dan hanya cukup untuk membeli DOC (ayam umur sehari), akhirnya Agus meminta bantuan melalui bermitra dengan pelaku usaha yang lebih besar yaitu Sahabat PS. “Sahabat PS membantu selama 2 periode dengan mengambil dan memasarkan ayam hasil panen. Waktu itu pun untuk mendapatkan DOC sangat sulit, namanya DOC emas, maka yang mendapat DOC pasti untung,” jelasnya.
 
 
Agus pun sempat menjadi mitra salah satu peternak besar asal Bogor. Ia bermitra selama 6 tahun dengan perhitungan jual beli menyangkut DOC dan pakan yang diambil serta proses pembayaran dilakukan setiap panen. “Mengingat usaha semakin berkembang dan omzet kian besar maka saya memutuskan untuk beternak secara mandiri mulai 2008 hingga sekarang,” ungkapnya.
 
 
 
Utamakan Kualitas Budidaya
Walaupun banyak aral melintang, apalagi peternak mandiri juga banyak yang berhenti namun beternak ayam bagi Agus sudah menjadi hobi yang sangat menyenangkan dan menjanjikan. “Bisa bertahan menjadi peternak memang susah tapi yang utama untuk bisa bertahan adalah senang dengan dunianya serta tekun,” tegasnya. 
 
 
Bagi Agus senantiasa menjaga hasil budidaya yang bagus selalu menjadi pegangannya. Ia terus mengarahkan anak kandang agar IP (Index Performa) dan FCR (Rasio Konversi Pakan) bagus sehingga produksi bagus dan biaya produksi bisa ditekan.
 
 
 Agus juga diuntungkan dengan lokasi kandang yang saling berdekatan sehingga “nangkap” ayam gampang. Bahkan ke penjual juga dekat sehingga harga yang di dapat lebih tinggi. “Saya hampir tidak menjual ke broker, kecuali pada situasi yang khusus tapi sangat jarang. Saya juga punya pelanggan rutin yaitu pemotong langsung,” tuturnya.
 
 
Selama berkecimpung menjadi peternak ayam diakui Agus dijalani mengikuti filosofi mengalir seperti air. “Kejadian berat dan luar biasa tidak pernah mengalami walaupun harga ayam hidup fluktuasi tapi karena saya menghitung untung rugi per tahun, setiap tahun pasti untung tidak pernah rugi,” kilahnya.
 
 
Ia pun menjalankan usaha ini dengan penuh kehati-hatian. Keuntungan yang di dapat tidak dihabiskan semua agar ketika mengalami kerugian tidak terpukul karena cadangan dana sudah disiapkan. “Jika untung tidak pernah dihambur-hamburkan sehingga ketika untungnya bagus uang harus dimanfaatkan sebagaimana mestinya,” tuturnya.
 
 
Prinsip yang Agus terapkan dalam menjalankan usaha ini adalah menjaga agar hasil produksi selalu berhasil dan pengelolaan keuangan yang baik. Untuk itu, dalam beternak Agus selalu fokus agar usaha ini bisa berhasil dengan baik karena ia berpandangan antara usaha yang berhasil dan tidak sangat tinggi perbedaannya.
 
 
Ke depan, Agus akan mengembangan usaha ini dengan tetap fokus di budidaya ayam. Ia pun belum berniat mengembangkan usaha di segmen hilir. Setahun belakangan ini, Berkah Putra Chicken memiliki anak perusahaan yaitu Dua Warna Perkasa. “Semua usaha ini dijalankan oleh keluarga sendiri. Saya 3 bersaudara dan perusahaan baru ini dikelola oleh adik saya yang telah 22 tahun berkecimpung di dunia peternakan juga,” terangnya.
 
 
Dua Warna Perkasa didirikan untuk menampung teman-teman yang ingin mencoba berinvestasi atau bermitra dengan sistem bagi hasil di bisnis peternakan broiler. “Usaha ini tidak didirikan secara menggebu-gebu, saya sangat selektif memilih mitra dan sejauh ini, telah ada 4 mitra,” jelasnya. 
 
 
Animo dari teman-teman Agus yang ingin bermitra sangat besar, namun ia tetap selektif dalam memilih mitra. “Mitra harus memahami kondisi saat ini karena pelihara ayam sangat sulit, banyak penyakit dan kegagalan sehingga harus fokus dan tekun jangan setengah-setengah, hasil panen juga harus dihemat jangan menjadi peternak yang boros,” tandas Agus. TROBOS/nova 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain