Jumat, 1 Pebruari 2019

Dinamika Kemitraan Broiler

Dinamika Kemitraan Broiler

Foto: ramdan


Program kemitraan berkembang di berbagai daerah di tanah air. Kenaikan harga sapronak dan fluktuasi harga ayam hidup di tingkat peternak menuntut efisiensi dilakukan level kandang guna menekan biaya produksi sekaligus untuk memastikan usaha bisa berkelanjutan
 
 
 
Bisnis kemitraan broiler (ayam pedaging) berkembang mewarnai dinamika di industri perunggasan nasional. Bisnis yang dijalankan oleh perusahaan terintegrasi maupun peternak mandiri sebagai inti dan masyarakat yang berminat beternak sebagai mitra ini telah menyebar di berbagai wilayah di Indonesia. 
 
 
Di Sumatera Utara, bisnis kemitraan berkembang dalam periode 2002 – 2010 dan mengalami masa kejayaan pada rentang waktu 2002 – 2005. “Pada masa itu banyak peternak baru yang membangun kandang dan menambah populasi karena pendapatan peternak cukup berlebih. “Kala itu, sebelum kasus AI (flu burung) merebak memelihara ayam tidak sesulit sekarang. Pasokan DOC (ayam umur sehari) dan harga ayam aman serta harga sapronak (sarana produksi ternak) pun lebih stabil tidak seperti saat ini,” kenang Yan Sophyan, Head of Region Sumatera Utara, Intertama Group – perusahaan perunggasan yang salah satunya menjalankan bisnis kemitraan broiler, kepada TROBOS Livestock.  
 
 
Secara bisnis, lanjut Yan, kemitraan di broiler ini mengalami pasang surut dan anggar kekuatan, artinya yang masih punya kekuatan secara finansial maupun sapronak akan terus bertahan dan terus ekspansi. “Para pelaku yang awalnya tidak memiliki sumber sapronak, belakangan ini mulai berusaha untuk melengkapi dirinya dengan sumber dan sarana penunjang sapronak tersebut seperti (breeding, hatchery, dan feedmill). Dan sebaliknya, bagi mereka yang tidak kuat akan terseleksi dengan sendirinya,” ujarnya.
 
 
Ia mengatakan, jika dilihat dari kacamata pelaku sebagai integrasi, bisnis perunggasan broiler di tanah air sepertinya masih sangat prospektif. Sementara dari kacamata pelaku sebagai peternak mandiri, bisnis perunggasan broiler ini dirasakan sudah sangat lesu/kurang bergairah karena faktor harga dan ketersediaan sapronak maupun harga live bird (ayam hidup) di tingkat peternak. “Peternak mandiri, belakangan ini sudah banyak berkurang dan mengalihkan usahanya dengan ikut bermitra ke salah satu perusahaan integrasi yang memiliki fasilitas pola kerjasama kemitraan dengan harapan masih bisa memanfaatkan aset yang ada untuk tetap dijadikan usaha yang bisa memberikan keuntungan atau aset dikontrakan,” ungkap Yan.
 
 
Taopik Robina, Head of Operation Commercial Farm PT Indojaya Agrinusa –perusahaan perunggasan yang salah satunya menjalankan bisnis kemitraan broiler di Sumatera Utara dan sekitarnya, berpendapat kemitraan broiler berawal dari krisis moneter sekitar 1998 akibat runtuh & terpuruknya segala lini perekonomian termasuk perunggasan. Pada saat itu para peternak broiler tidak mampu lagi menjalankan usahanya, sehingga di bentuk pola kerjasama yang tujuannya untuk sama – sama menyelamatkan produksi broiler di Indonesia. “Saat ini bisnis kemitraan broiler di tanah air terus berkembang, berawal dari pulau Jawa ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, serta mulai masuk ke wilayah – wilayah yang baru berkembang & mulai tersebar di seluruh pelosok tanah air,” jelasnya. 
 
 
 
Model Kemitraan
Terdapat beberapa model yang dikembangkan dalam bisnis kemitraan broiler ini. Saat ini yang terbanyak adalah pola ikatan harga kontrak antara inti dan plasma dengan kepastian kesepakatan di awal sehingga tidak begitu berpengaruh terhadap harga sapronak dan live bird. “Ada juga yang sapronak kontrak di awal tapi live bird berdasarkan harga pasar, untung ruginya dibagi sesuai kesepakatan. Adapula pola lain yaitu peternak mitra di kasih patokan langsung hasil dan biasanya dianggap biaya pemeliharaan, tapi ini sudah sangat jarang,” terang Taopik.
 
 
Adapun populasi broiler yang umumnya dipelihara peternak mitra bervariasi. Untuk peternak pemula biasanya populasi broiler berkisar 5.000 – 10.000 ekor, yang sudah berkembang bisa lebih dari 20.000 ekor, bahkan sudah banyak yang punya populasi di atas 50.000 ekor, serta untuk closed house (kandang tertutup) biasanya di mulai dari populasi 20.000 ekor. “Semua tipe kandang digunakan peternak mitra di Sumatera namun masih di dominasi kandang panggung, open house dan positive pressure, serta ada beberapa yang sudah beralih atau berencana menggunakan closed house,” ungkapnya. 
 
 
Yan menimpali, secara umum model kemitraan yang ada di bisnis peternakan broiler hampir sama yaitu pola harga kontrak (kontrak DOC, pakan, obat dan daging), adapula model semi pribadi atau model makloon modifikasi. “Pada umumnya, semua model kemitraan memiliki target atau tujuan yang sama yaitu mendapatkan keuntungan dan tentunya juga sama-sama menanggung risiko (risiko budidaya dan risiko harga/pasar) yang nilainya sesuai dengan kesepakatan di awal yang dituangkan dalam kontrak atau perjanjian kerjasama,” paparnya.
 
 
Perusahaan/peternak sebagai inti berperan dalam penyediaan sapronak, pendampingan, pelayanan dan informasi teknologi pemeliharaan, serta panen. Sedangkan peternak mitra berperan dalam mempersiapkan kandang, peralatan, dan tenaga kerja; menjaga sapronak yang dikirim ke kandang; serta berusaha untuk bisa mencapai target-target yang sudah diarahkan oleh inti. “Untuk peternak mitra kami tersebar di seputaran Langkat Hulu, Langkat Hilir, Binjai, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai. Rata-rata populasi ayam yang dipelihara peternak mitra banyak 5.000 ekor dengan sistem perkandangan yang digunakan umumnya berupa open house,” katanya. 
 
 
Ia memberikan gambaran, saat ini model kerjasama yang dikembangkan umumnya dengan pola harga kontrak. Untuk pola harga kontrak ini, dengan kondisi harga broiler ditingkat peternak yang fluktuatif, pihak inti sudah sedemikian cermat menghitung atau mengkalkulasikan besaran nilai kontrak daging yang akan ditetapkan ke peternak selain nilai kontrak sapronaknya, dengan harapan sama-sama bisa mendapatkan keuntungan atau bisa menekan kerugian. “Prinsipnya tugas peternak dengan sapronak yang ada dan pendampingan serta pelayanan dari petugas inti dilapangan diharapkan performa bisa maksimal, sehingga peternak bisa mendapatkan keuntungan atau penghasilan yang wajar,” kilah Yan.
 
 
Taopik menambahkan, justru kemitraan berfungsi untuk melindungi peternak mitra dari harga live bird di pasar yang fluktuatif. Biasanya, parameter kontrak berdasarkan harga sapronak dan hitungan harga beli/kontrak live birdnya. Harga pasar biasanya adalah risiko inti, apabila harga pasar di atas harga kontrak, beberapa inti memberi bonus dari selisih harga pasar kecuali sistem kemitraan yang cuma modal sapronak danhasil mengikuti fluktuasi pasar. “Keuntungan produksi rata-rata mitra tanpa perhitungan insentif saat harga bagus sekitar Rp 1.500 – 2.000 per kg atau setara Rp 2.500 – 3.500 per ekor. Seandainya rata-rata panen 1,8 kg, performa exellence keuntungan mitra bisa lebih dari itu dan di beberapa kemitraan dipengaruhi oleh bonus selisih pasar, perhitungannya didasari harga kontrak di awal yang telah disepakati,” urainya. 
 
 
Di Jawa Timur khususnya di Malang juga berkembang pola kemitraan broiler yang salah satunya dijalankan oleh Kholiq, peternak mandiri yang sudah merintis bisnis peternakan ini sejak 1995 melalui bendera Telur Intan Malang. Kholiq menjalankan pola kemitraan sebagai inti dengan sekitar 150 peternak plasma dengan rata-rata populasi sekitar 1.000 – 15.000 ekor per peternak yang tersebar di daerah Malang timur khususnya di Kecamatan Tumpang dan Kecamatan Poncokusumo. 
 
 
Kholiq mengatakan, pada pola kemitraan yang dikembangkannya peternak mitra tidak akan menanggung kerugian karena sudah ada jaminan biaya operasional untuk budidaya. Peternak mitra akan mendapatkan insentif jika harga jual ayam di atas HPP (Harga Pokok Produksi) dengan pembagian 60 % untuk inti dan 40 % untuk mitra. Kalau ada perubahan harga sapronak, harga kontrak diperbaiki. 
 
 
“Bisnis kemitraan broiler di Malang berkembang pada rentang waktu 2000 sampai 2009. Kemitraan sempat babak belur pada rentang 2015 – 2016 dan sejak tahun lalu mulai berkembang lebih baik lagi,” kilah Kholiq. 
 
 
Bergeser ke tatar Sunda, di wilayah III Cirebon yang mencakup Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan ini juga merupakan salah satu sentra kemitraan broiler di Jawa Barat. Alido Group misalnya, berperan sebagai inti mengembangkan kemitraan broiler di daerah Kuningan dan Cirebon. Agus Setya Trisdiana, generasi kedua yang mengelola Alido Group berpendapat, pada kemitraan pola kontrak, peternak mitra berpotensi mendapatkan keuntungan maksimal kalau hasil produksinya bagus, namun sebaliknya jika produksi jelek, peternak mitra juga berpotensi rugi atau tidak dapat keuntungan. “HPP (Harga Pokok Produksi) inti pada pola kontrak ini mengikuti produksi peternak mitra. Jika hasil produksi mitra jelek, HPP naik tapi tidak terlalu banyak,” kata peternak mandiri ini.
 
 
Berbeda dengan pola kemitraan makloon yang tidak ada risiko merugi bagi peternak mitra meskipun hasil produksi jelek. Namun pendapatan terbatas dan kalau produksi jelek masih ada lebihnya bagi peternak mitra karena mendapatkan uang operasional. “Kami lebih memilih mengembangkan model kemitraan kontrak dengan mengikuti perubahan sesuai kenaikan atau penurunan harga DOC dan pakan. Peternak mitra menyediakan kandang yang umumnya open house  dan kami memasok DOC, pakan, dan harga dagingnya berdasarkan harga kontrak,” ujar jelas pria yang memiliki sekitar 400 mitra dengan populasi ayam yang dipelihara rata-rata 3.000 ekor per peternak ini. 
 
 
Tri Hardiyanto, peternak mandiri di Bogor Jawa Barat turut berbagi pengalaman dalam mengembangkan pola kemitraan broiler. Awalnya, Tri mengembangkan pola makloon ke peternak mitranya yang tersebar di daerah Jawa Barat dan Banten. Dalam perkembangannya, ia pun mengembangkan program kemitraan seperti yang umum digunakan. “Dari beragam model kemitraan yang ada, kami mencoba untuk membuat model versi kami sendiri agar lebih menarik. Aturan dibuat tidak baku dan bisa berubah sesuai keadaan karena sebagai inti tidak bisa mengatur atau mengendalikan harga, hanya bisa berselancar diantara itu. Yang penting peternak plasma bisa berlanjut pelihara ayam serta kami masih ada untung dan bisa terus mendukung mitra asalkan bisa bekerja dan memelihara ayam dengan sebaik mungkin. Inti dari model ini adalah peternak plasma tidak bisa menanggung rugi,” tandasnya.
 
 
Pemilik Tri Group ini menekankan, sebagai inti fokus bagaimana biaya produksi peternak mitra tertutupi. “Untuk margin peternak mitra adalah kelebihan dari prestasi mereka dan kelebihan harga pasar. Hitungannya HPP sekian, harga pasar sekian, ada lebih sekian. Kalau harga pasar kurang maka peternak mitra mendapat biaya pemeliharaan sehingga tidak rugi,” ucapnya.
 
 
Tri menilai, sekarang ini peternak mitra menjadi primadona karena jumlah inti lebih banyak dibandingkan peternak mitra. Banyaknya inti ini karena pelaku usaha yang bermain di anak ayam dan pakan bertambah bukan menurun sehingga inti menjadi bertambah baik yang berasal dari mandiri maupun perusahaan integrasi. Di semua wilayah di Indonesia inti itu pasti bertambah pemainnya yang ditunjang dengan produksi DOC meningkat sekitar 15 % di tahun ini. “Program kemitraan ini justru menguntungkan bagi peternak mitra karena bisa memilih dan pindah kemanapun sesuai selera dengan mudahnya,” ucapnya. 
 
 
Sementara itu di wilayah Priangan Timur, Ajat Darajat, peternak mandiri di Ciamis Jawa Barat menjalankan kemitraan dengan komoditas utama ayam pejantan. Sejak 1980, Pemilik Naratas Poultry Shop ini menjalankan pola makloon untuk peternak mitranya. Meski menurun jumlahnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, saat ini ada sekitar 300 peternak mitra yang tersebar di daerah Priangan Timur dengan populasi setiap mitra di kisaran 2.000 – 10.000 ekor. “Peran peternak mitra hanya beternak dan tidak bakalan rugi karena semua ditangani inti. Upahnya tergantung prestasi IP (Indeks Performa) dan FCR (rasio konversi pakan) yang dicapai,” ungkapnya.
 
 
Untuk pemasaran ayam pejantan hasil produksi, lanjut Ajat, masih dijual melalui inti agar bandar tidak akan bisa menekan harga. Selain itu karena para peternak mitra masih susah untuk menjualnya, tidak paham pasar dengan baik, dan mudah ditekan oleh bandar.  
 
 
Tidak hanya untuk ayam pejantan, sejak awal 2017, Ajat mengembangkan kemitraan broiler bersama 5 peternak mitra dengan total 10 kandang. Tidak tanggung-tanggung kandang yang digunakan adalah closed house dengan kapastias total 420 ribu ekor. “Sebagai inti, kami hanya sebatas penyediaan DOC dan pakan. Kebetulan kami didukung oleh salah satu perusahaan integrasi dalam penyediaannya. Sedangkan biaya pembuatan kandang ditanggung oleh peternak mitra,” ungkapnya.
 
 
Ajat mengakui, investasi di awal untuk pembuatan closed house sangat besar namun akan sebanding hasil produksi yang dicapai dengan HPP yang lebih bagus. “Dengan sistem closed house ini, peternak mitra bisa bertahan karena harga penjualan ayam rata-rata dalam setahun di atas rata-rata harga kontrak,” klaimnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 233/Februari 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain