Jumat, 1 Pebruari 2019

Pembibitan Sapi di Pastura Padang Mengatas

Pembibitan Sapi di Pastura Padang Mengatas

Foto: 


Memproduksi bibit sapi unggul untuk disebarkan ke seluruh daerah di Indonesia guna mendukung peningkatan populasi nasional
 
 
 
Cuaca pagi yang dingin diiringi hujan rintik-rintik tidak menyurutkan gerombolan sapi merumput di area dengan topografi bergelombang dan berbukit landai di ketinggian 700 –900 m dari permukaan laut ini. Berlokasi di Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Padang Mengatas, Kecamatan Luhak Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, sapi-sapi tersebut dengan leluasa merumput di kebun rumput dan pastura seluas 268 ha dari total area 280 ha.
 
 
Sapi-sapi yang dipelihara dengan jenis simental, limousin, dan pesisir ini memang sudah terbiasa merumput sepanjang hari. Sapi-sapi ini dikelompokan sesuai status reproduksi yaitu kosong, beranak, dan bunting. Jumlah sapi per kelompok sangat dinamis di kisaran 100 – 150 ekor sesuai klasifikasi reproduksinya. 
 
 
Menurut Kepala BPTUHPT Padang Mengatas, Irwandi menyatakan, sapi-sapi ini digembalakan di paddock yang ada secara penuh baik siang maupun malam dengan pola merumput sistem rotasi. Terdapat sekitar 20 paddock dengan luas 6-10 ha. “Jika dalam kondisi normal, sapi-sapi digeser untuk merumput dari paddock ke paddock yang lain sekitar 2 bulan sekali. Namun pada musim kemarau, rotasi merumput bisa lebih cepat agar jangan sampai terjadi over grazing. Pengaturan rotasi ini penting juga untuk mencegah penyakit caplak karena sapi simental dan limousin ini rentan terkena caplak,” jelasnya kepada TROBOS Livestock. 
 
 
Ia melanjutkan, selama sistem rotasi berjalan, petugas secara penuh tetap mengontrol dan melakukan pemeriksaan terhadap sapi seperti kesehatan, kebuntingan, dan mengecek identitasnya. “Karena perkawinan di sini menggunakan IB (Inseminasi Buatan) maka petugas juga mengamati sapi-sapi yang berahi di lapangan dan siap di IB,” katanya. 
 
 
Irwandi mengungkapkan, awalnya indukan sapi didatangkan dari Australia. Namun saat ini, replacement stock bisa diproduksi sendiri. “Rata-rata pada umur 3 tahun anak sapi sudah menjadi indukan,” ujarnya. 
 
 
Kasubdit Standarisasi dan Mutu Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Muhammad Imron berpendapat, deteksi betina berahi yang dipelihara dengan manajamen padang penggembalaan dilihat dari tingkah lakunya. Sapi betina yang mengalami berahi akan menurun nafsu makannya, gelisah (selalu berdiri), dan pada puncak berahinya akan menunjukkan standing heat, yaitu “diam” pada saat dinaiki oleh sapi yang lain. Ciri standing heat ini yang paling mudah terlihat untuk deteksi berahi di padang penggembalaan. 
 
 
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan sapi sistem padang penggembalaan yaitu memastikan sapi betina yang ditempatkan dalam paddock yang sama tidak ada yang bunting untuk mempermudah manajemennya. Perhatikan kondisi rumput pastura dan segera melakukan rotasi grazing jika kondisi rumput sudah pendek atau mulai over grazing, serta tambahkan pakan konsentrat jika diperlukan. “Selalu perhatikan tanda-tanda gejala berahi pada kelompok tersebut dan segera lakukan IB pada sapi berahi. Lakukan pemeriksaan kebuntingan dan segera pisahkan sapi dari kelompok jika terdeteksi bunting,” terang Imron. 
 
 
Adapun kriteria indukan yang baik yaitu memiliki konformasi tubuh (bentuk badan, kaki, kepala) normal sesuai dengan tipe atau bangsanya, tidak cacat, sehat dan tidak mengidap penyakit menular, serta memiliki organ reproduksi yang sehat dengan siklus berahi yang normal. “Umur sapi betina siap dikawinkan untuk sapi dari bangsa Bos Taurus (Simmental, Limousin, FH) lebih cepat mencapai umur kawin yaitu kisaran 1,5 – 2 tahun. Sedangkan sapi lokal seperti PO, madura, dan bali dapat dikawinkan setelah mencapai umur 2 – 2,5 tahun,” katanya. 
 
 
Idealnya, sapi bisa bunting dan beranak setiap tahun, yaitu 9 bulan bunting dan 3 bulan setelah partus dapat dikawinkan lagi. Umumnya, sapi betina dipelihara dan produktif sampai umur 8-10 tahun. “Proses replacement stock diawali dengan seleksi pedet-pedet atau ternak muda. Sapi muda yang memiliki catatan performa dan produksi di atas rata-rata akan dicalonkan menjadi replacement stock untuk menggantikan sapi induk yang sudah tua/sakit dan harus diapkir,” jelas Imron.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 233/Februari 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain