Kamis, 25 April 2019

Pemerintah Perlu Kampanyekan Konsumsi Broiler Saat Harga Jatuh

Pemerintah Perlu Kampanyekan Konsumsi Broiler Saat Harga Jatuh

Foto: dok.ntr


Yogyakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pelaku perunggasan broiler berharap pemerintah gencar mempromosikan konsumsi / demand saat harga ayam broiler jatuh, sehingga tidak terpaku untuk mengatur suplai.

 

Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Achmad Dawami menyatakan pemerintah sebenarnya cukup melakukan hal yang sederhana saat harga broiler hancur. “Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, harusnya bilang begini di media. Ayo masyarakat Indonesia, mumpung harga ayam sedang murah, mari ramai-ramai membeli daging ayam. Untuk mencukupi kebutuhan gizi keluarga, demi kecerdasan anak,” ungkapnya di sela meninjau Laboratorium Pasca Panen Peternakan UGM - Japfa di PIAT Berbah bersama wartawan dan pejabat kampus pada 23/4 sore.

 

Dia meyakini dorongan berupa sugesti verbal secara langsung dari pejabat di media massa akan efektif mendongkrak belanja daging broiler masyarakat, sehingga permintaan akan merangkak naik dan sesuai hukum pasar harga akan ikut terkerek. Menurut dia, hal semacam itu juga dilakukan oleh negeri jiran, Malaysia.

 

Menurut Dawami, hal yang sangat sederhana itu saja tidak dilakukan, atau setidaknya terlewat  oleh pemerintah, padahal merupakan hal mendasar untuk mendorong sisi demand broiler. “Selama ini selalu saja suplai yang maunya diotak-atik,” tegas Deputy Head of Commercial Poultry Division Japfa ini.

 

Dia menyambung, Malaysia tidak perlu menentukan bottom price broiler, tapi menetapkan selling price. Saat harga turun, pemerintah melaksanakan promosi konsumsi daging ayam.

 

Di sisi lain, secara pribadi - bukan dalam kapasitas sebagai ketua asosiasi - dia mengakui bahwa produksi ayam broiler nasional memang oversuplai. Oversuplai membuat harga livebird rentan terjerembab, terlebih pada bulan-bulan sepi dari hajatan, hari besar/hari raya dan liburan. Produksi DOC nasional menurut data pemerintah sebesar 3,13 miliar ekor pertahun.

 

“Tapi harus di ingat, konsumsi ayam kita baru 12 kg/kapita, setara Rp 420 ribu perorang pertahun. Jauh dibawah negara tetangga Malaysia yang mencapai 38 kilogram perkapita. Its too far,” ujarnya gemas. Sehingga, sambung dia, persoalan oversuplai produksi ini jalan keluar sebenarnya adalah dengan mendorong sisi konsumsi. Ironisnya, untuk konsumsi rokok, Dawami menyebutkan konsumsinya mencapai Rp 1,8 juta perorang pertahun.

 

Japfa sendiri, menurut Dawami, telah melakukan promosi konsumsi ayam dan telur melalui even Japfa4Kids. “Kesadaran konsumsi protein hewani ini bukan hanya Japfa yang menikmati, tapi semua produsen ayam dan telur,” ungkapnya. 

 

Pola suplai-demand di Indonesia dinyatakan oleh Dawami cukup unik. Pada masa sepi terjadi oversuplai. Tetapi pada festival lebaran misalnya, permintaan ayam broiler meningkat hingga 40%. “Khususnya permintaan daging broiler mentah. Untuk suplai restoran, katering, dan hotel,” tandasnya.

 

Manajer RPA Japfa - UGM Dodi Agung P menjelaskan, permintaan daging ayam ke RPA selama puasa dan lebaran meningkat 30%. “Tetapi kapasitas produksi RPA tidak bisa sekejap ditingkatkan. Maka RPA memenuhinya dengan mengeluarkan stok karkas ayam yang di cold storage. Makanya kita selalu mengisi ruang penyimpanan dingin untuk mengatasi lonjakan permintaan pada waktu-waktu tertentu,” ungkapnya. ntr

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain