Rabu, 1 Mei 2019

Ayam Kerdil, Untung Mengecil

Ayam Kerdil, Untung Mengecil

Foto: trobos


Banyak faktor penyebab munculnya kasus pertumbuhan ayam yang lambat. Manajemen dan tata laksana pemeliharaan yang baik serta kenyamanan kandang bisa memacu pertumbuhan ayam yang optimal
 
 
 
Harga DOC (ayam umur sehari) ditingkat peternak belum kunjung turun sejak beberapa bulan terakhir yang berimbas pada kenaikan Harga Pokok Produksi (HPP). Tidak hanya persoalan itu, peternak pun dilapangan menghadapi kendala salah satunya adalah ayam kerdil atau ayam dengan bobot badan kurang dari standar. 
 
 
Dikemukakan Eko Prasetio, Private Commercial Broiler Farm Consultant of Tri Group, sindrom kekerdilan (Slow Growth Syndrome) atau yang disebut dengan Runting Stunting Syndrome (RSS) dapat dialami sekelompok ayam, terutama di broiler (ayam pedaging). Gejalanya, lambat tumbuh yang ditandai dengan keterlambatan pencapaian bobot ayam berdasarkan umur tertentu. “Dalam 1 bulan terakhir ini kejadiannya cukup meningkat dengan derajat variasi yang lebar,” ungkapnya kepada TROBOS Livestock (25/4).
 
 
Ia memaparkan, kasus kekerdilan di farm akhir-akhir ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan terutama terjadi pada umur 3 minggu ke atas. Saat situasi normal, pencapaian bobot ayam di umur tersebut berkisar antara 900 sampai 980 gram di open house (kandang terbuka). Namun akhir-akhir ini hanya tercapai antara 850 sampai 900 gram. Situasi tersebut akan semakin berdampak terhadap pencapaian bobot ayam dari hari ke hari menjelang umur 4 minggu. 
 
 
“Berdasarkan monitoring berkala, penyebab dari kondisi itu adalah rendahnya pertambahan bobot badan harian (ADG/Average Daily Gain) rata-rata 80 % dari pencapaian standar pertambahan bobot badan ideal di closed house (kandang tertutup) dan rata-rata 65 sampai 75 % terjadi di kandang terbuka,” urainya. 
 
 
Pertumbuhan ayam yang lambat pun, pernah dialami di peternakan milik Rudhi Budhi Hartono, peternak broiler di Banjarmasin, Kalimantan Selatan 5 bulan terakhir. Ia mengemukakan awal medio November dan puncaknya Desember 2018, populasi ayam sebanyak 30 % dari setiap flock mengalami pertumbuhan yang lambat. Bahkan, jika dihitung dari total flock yang ada sebanyak 90 % terserang slow growth. “Bersyukur Januari 2019 sudah recovery, Februari sampai saat ini sudah normal kembali,” cetus pemilik PT Adhom Farm Indonesia ini.
 
 
 
Lebih Banyak di Broiler
Slow Growth Syndrome atau yang disebut juga RSS merupakan salah satu sindrom dengan kondisi gangguan pertumbuhan pada ayam (terutama ayam pedaging) yang menyebabkan kekerdilan. Nama lain juga sering disebut malabsorpsion syndrome, pale bird syndrome, dan viral arthritis. 
 
 
Technical Education & Consultation PT Medion, Christina Lilis menerangkan, kekerdilan ini di lapangan seringkali terbagi menjadi 2 jenis kejadian, yaitu “Runting”, biasanya ayam mengalami gagal tumbuh atau kerdil yang bersifat permanen. Bobotnya hanya 50 – 75 % dibanding ayam lain dalam satu umur. Kedua, “Stunting”, ayam mengalami pertumbuhan yang lambat dan bersifat temporary, bobotnya 75 – 90 % dibanding ayam yang lain. “Dari laporan kasus yang ada, kasus runting berkisar sekitar 3 – 5 % sedangkan kasus stunting angkanya mencapai 50 % (dalam rataan 5 – 50 %),” tegasnya. 
 
 
Berdasarkan data yang telah Medion kumpulkan dari personil lapang mulai 2015-2019 menunjukkan bahwa kasus Slow Growth Syndrome yang menyerang cukup tinggi hanya pada 2017 dan menurun pada 2018 kemarin. “Kemungkinan sindrom ini masih jarang muncul pada 2019 ini (lihat gambar 1),” jelas Lilis. Kasus kekerdilan terutama ditemukan pada ayam pedaging, namun dapat juga menyerang ayam petelur dan pembibit (breeder). Gejala gangguan pertumbuhan mulai terlihat pada umur 4-21 hari.
 
 
 
Gejala Klinis
Dari kasus yang dijumpai, pada saat ayam mengalami perlambatan tumbuh maka konsekuensinya organ kekebalan juga ikut mengalami perlambatan pertumbuhan. Hal inilah yang menyebabkan ayam tidak optimal dalam meminimalkan efek penyakit infeksius, bahkan di beberapa kasus respon vaksinasi yang dilakukan juga tidak optimal sehingga titer antibodi yang dihasilkan tidak seragam. “Kerentanan terhadap penyakit infeksi ini ditambah lagi oleh strategi tatalaksana pemeliharaan yang tidak selalu memberikan dampak yang sama meskipun dengan tambahan sarana untuk mengoptimalkannya,” terang Eko. 
 
 
Contoh yang bisa dijumpai di lapangan adalah, karena perkembangan saluran cerna juga mengalami perlambatan, pergantian jenis pakan ataupun pemberian tambahan suportif terapi tidak memberikan dampak yang signifikan karena variasi gangguan penyerapan oleh anatomi usus yang tidak seragam mendekati normal. Di saat keterserapan nutrisi pada titik yang tidak optimal maka pertambahan bobot ayam dan juga tingkat ketahanan tubuh ayam terhadap penyakit juga tidak akan optimal. Apalagi ditambah dengan adanya penurunan kualitas pakan serta fluktuasi cuaca dari waktu ke waktu. Hal tersebut akan saling berinteraksi dan memberikan dampak yang lebih parah pada kasus lambat tumbuh atau slow growth ini.
 
 
Lilis menjabarkan salah satu virus yang sudah diidentifikasi menjadi penyebab utama kekerdilan adalah reo virus. Saat menginfeksi, virus ini menimbulkan gejala klinis yang nampak seperti pertumbuhan yang tidak seragam yang dapat teramati sejak ayam berumur 4-6 hari. Bobot badan dapat hanya mencapai 40 % di bawah standar. Tanda-tanda spesifik lainnya yang sering ditemui adalah pertumbuhan bulu yang tidak normal pada bulu sayap primer. Pada kasus yang lebih parah terlihat bulu sayap primer patah dan pertumbuhan bulu lain tidak teratur sehingga sering terlihat berdiri seperti baling-baling atau dikenal dengan nama Helicopter Disease.
 
 
Dilihat dari perubahan patologi anatomi yaitu perut ayam yang sakit akan mengembang dan mengeras. Kondisi ini biasanya akan nampak pada ayam yang berumur sekitar 3-4 minggu, karena adanya ransum yang tidak tercerna. Perubahan patologi yang terjadi saat dilakukan nekropsi antara lain terjadi pembesaran proventrikulus yang disertai dengan kematian jaringan, perdarahan dan radang usus ringan, degenerasi pankreas, hati mengecil, serta kantung empedu menebal. Pada beberapa kasus, ventrikulus pada ayam kerdil akan kecil dan lembek. Selain itu, ditemukan juga usus yang tidak berkembang (seperti karet).
 
 
Dari hasil pantauan tenaga lapangan Medion, Lilis menerangkan, masalah kekerdilan masih jarang terjadi dan biasanya hanya disebabkan faktor non infeksius. Sedangkan akibat infeksi bibit penyakit seperti penyakit RSS masih jarang. Namun, kejadian RSS dapat menyerang 30 – 40 % dari total populasi, dengan perbedaan bobot badan yang sangat jauh di bawah standar.
 
 
Hingga saat ini, kasus kekerdilan adalah salah satu kasus yang cukup sulit didiagnosa. Alasannya, karena gejala klinis yang terlihat hanya berupa gangguan pertumbuhan (kekerdilan). Pada saat nekropsi (bedah bangkai) pun perubahan patologi anatomi yang ditimbulkan sangat bervariasi, tergantung dari faktor penyebab mana yang lebih mendominasi. Keberagaman dan kompleksitas agen penyebab sindrom kekerdilan ini menyebabkan kesulitan dalam melakukan diagnosis secara pasti, ditambah lagi dengan gejala klinis yang diperparah oleh faktor eksternal misalnya stres akibat brooding yang kurang optimal. “Untuk membantu meneguhkan diagnosa dapat dilakukan uji laboratorium yaitu uji Polymerase Chain Reaction (PCR),” urai Lilis.
 
 
 
Multi Faktor
Bagi Rudhi faktor DOC dan pakan pabrikan yang berubah kualitasnya karena waktu itu, harga jagung sedang tinggi diduga menjadi pemicu kejadian slow growth di farm-nya. Kondisi itu ditunjang dengan kemampuan sumber daya manusia di kandang. “Kalau kejadian itu diakibatkan pelarangan AGP (Antibiotic Growth Promoters) kemungkinannya kecil, karena regulasi tersebut sudah dimulai sejak awal 2018. Namun yang terjadi di farm, ayam tumbuh lambat di periode November – Desember 2018,” ungkapnya.
 
 
Head of AHS Central Java & Outer Island PT Sierad Produce Tbk, Sumarno Wignodihardjo berpendapat, dari diagnosa ayam kerdil seringkali yang menjadi kambing hitam adalah DOC atau pakan, padahal dari sisi manajemen kontribusinya paling besar. “Peneguhan diagnosa tidak cukup dengan melihat gejala klinis dan melakukan nekropsi tetapi juga dengan melakukan histopatologi terhadap sampel organ hati, ginjal, jantung,” cetusnya.
 
 
Praktisi perunggasan, Boedi Poerwanto turut berkomentar, slow growth ini sebelumnya muncul dengan penyebab diantaranya dari genetik, penyakit, dan manajemen pakan. Namun muncul lagi di awal 2018, karena pengaruh pelarangan antibiotik di pakan. “Perlu diketahui munculnya penyakit slow growth ini tidak hanya single factor, tetapi multi faktor,” jelasnya.
 
 
Jika dari sisi genetik, di breeding kalau tidak ada lagi virus yang menyebabkan RSS, dipastikan DOC-nya tidak akan terserang penyakit ini. Meskipun telur HE-nya merupakan bibit muda. Kalau muncul saat ini, Boedi memprediksi dari manajemen pakan seperti kualitas pakan, distribusi pakan, dan jumlah tempat pakan. Peternak masih ada juga yang beranggapan yang penting tempat makannya ada, padahal ayam mempunyai status sosial. “Maka ayam yang kuat menjadi besar dan sebaliknya, kondisi tersebut oleh peternak menjadi multitafsir seperti karena penyakit atau dan lainnya. Padahal, kalau dievaluasi manajemen pakannya tidak baik,” urainya.
 
 
Lilis pun turut menerangkan, kasus kekerdilan ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya faktor infeksius dan non infeksius. Agen infeksius yang menyebabkan kekerdilan antara lain  Reovirus, Entero-like virus, dan Picornavirus. Reovirus (penyakitnya sering disebut helicopter disease) akan menginfeksi vili-vili sel epitel usus halus yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan penyerapan nutrisi sehingga target bobot badan tidak tercapai. Helicopter disease dominan ditemukan di ayam pedaging, meskipun data juga ditemukan di ayam petelur maupun pembibit. Sementara agen bakterial yang terlibat dalam kasus ini umumnya yang menginfeksi saluran pencernaan, seperti E. coli (colibacillosis) maupun Clostridium perfringens (necrotic enteritis).
 
 
Sedangkan faktor non infeksius, merupakan faktor yang berasal dari hal-hal yang berkaitan dengan manajemen dan kualitas DOC. Misalnya, kualitas DOC yang biasanya disebabkan oleh genetik induk, telur tetas berukuran kecil (berasal dari induk yang berumur muda atau berumur < 25 minggu), antibodi maternal terhadap Reovirus yang rendah, dan induk yang positif terhadap Salmonella sp. Lalu kualitas ransum, pertumbuhan ayam sangat dipengaruhi oleh kecukupan dan kandungan nutrisi ransum. Hal yang kadang terlewat dari pantauan adalah adanya jamur pada ransum. Kualitas ransum dapat berkurang akibat adanya jamur dan mikotoksin. Jamur dapat menurunkan nutrisi ransum. Lama penyimpanan ransum juga akan berpengaruh pada kandungan nutrisi. Kadar vitamin dalam ransum akan menurun seiring masa penyimpanan. 
 
 
Faktor lainnya adalah kekurangan ransum dan air minum. Hal ini akan menyebabkan kompetisi antar ayam. Dampaknya jumlah ransum yang masuk ke tubuh ayam kurang sehingga pertumbuhan bobot badannya tidak seragam. “Tidak ketinggalan faktor stres, karena dalam kondisi stres ayam akan memproduksi Adrenocorticotropic Hormone (ACTH) dalam jumlah yang berlebihan, sehingga akan menghambat proses metabolisme tubuh dan penurunan penyerapan nutrisi ransum,” papar Lilis.
 
 
 
Masa Brooding
Kasus ayam kerdil yang terjadi saat ini karena kondisi lingkungan yang dingin, tetapi di satu sisi akibat manajemen brooding yang tidak optimal. Namun, bagi peternak yang memiliki manajemen brooding yang baik, tidak ada masalah. Dalam budidaya ayam, manajemen pemeliharaan harus disesuaikan dengan kondisi bobot DOC, atau kondisi indukan dari DOC. “DOC yang diperoleh dengan bobot kurang dari 40 gram, maka suhu brooding harus lebih tinggi 1 – 2 0C dari DOC yang bobotnya 40 gram ke atas. Suhu brooding DOC dengan bobot 40 gram ke atas harus mencapai  32 0C. “Jadi pencetus ayam kerdil ini juga disebabkan karena brooding manajemen yang tidak stabil,” kata Syahrir Akil, Area Head PT Bintang Sejahtera Bersama – perusahaan peternakan broiler di wilayah Sulawesi.
 
 
Ia menambahkan masa kritis DOC dari menetas sampai 5 hari sehingga pada umur tersebut suhu pemeliharaan harus tercapai. Karena, anak ayam sama sekali tidak mampu mempertahankan suhu tubuhnya pada umur sampai 5 hari.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 236/Mei 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain