Rabu, 1 Mei 2019

Giat Pembibitan Ayam Lokal

Giat Pembibitan Ayam Lokal

Foto: ramdan


Permintaan yang terus meningkat, membuat para pembibit ayam lokal harus mampu menyediakan DOC dengan kualitas dan kuantitas yang tepat. Kemunculan para pembibit ayam persilangan menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha di bisnis ini
 
 
 
Bisnis ayam lokal semakin menunjukkan eksistensinya. Para pelaku usaha pembibitan (breeding) sebagai penyedia DOC (ayam umur sehari) ayam lokal terus menjaga bahkan meningkatkan kapasitas produksinya. Pangsa pasar yang digarap pun tidak hanya fokus di Jawa tetapi mulai merambah ke berbagai daerah di luar pulau Jawa.
 
 
Seperti yang diutarakan Direktur PT Putra Perkasa Genetika (PPG), Ang Hendra. Menurutnya, atas permintaan pasar yang ada, perusahaan yang berfokus pada pembibitan unggas sejak 1994 ini mengalami peningkatan produksi DOC ayam lokal yang signifikan. “Ada peningkatan produksi DOC dari tahun ke tahun. Produksi DOC ayam lokal dalam sebulan saat ini mencapai 600 ribu ekor, dan di tahun ini ditargetkan bisa mencapai 1 juta ekor per bulan,” ujarnya kepada TROBOS Livestock (4/4). 
 
 
Guna merealisasikan target itu, perusahaan yang berbasis di Bogor Jawa Barat ini sedang menyiapkan sarana hatchery (penetasan). Saat ini, PPG memiliki 12 mesin hatchery multi stage dengan kapasitas per mesin sebanyak 90 ribu butir telur. 
 
 
Sebagai produsen DOC ayam lokal, PPG memproduksi sendiri indukannya. Terhitung sejak awal terjun di bisnis pembibitan ayam lokal, sekarang sudah masuk tahun ke-8. “Butuh waktu yang lama untuk mendapatkan pure line. Meski sebenarnya tahun ke-5 sudah stabil, tapi tidak bisa berhenti begitu saja untuk regenerasi. Genetiknya kan harus tetap jalan. Kalau tidak, bakal turun kualitasnya,” jelas Hendra. 
 
 
Untuk menghasilkan bibit yang baik, sambung Hendra, ada proses seleksi genetik. Ada tim khusus yang menangani itu, semacam Research and Development (R&D). “Dialah yang bertugas memilih calon-calon indukan yang baik. Bukan sembarang kawin begitu saja,” terangnya. Ada alurnya untuk line pejantan dan line betina. Line betina yang diharapkan telurnya banyak, sementara line pejantan diharapkan bisa mempertahankan berat badan dan kekebalan imun tubuhnya. Pembibitan dijalankan melalui perkawinan alami dengan rasio 1 jantan untuk 10 betina. 
 
 
Jauh sebelum usaha pembibitan yang dikelola Hendra, masih berdiri kokoh hingga saat ini usaha pembibitan ayam lokal di daerah Cipanas, Kabupaten Cianjur Jawa Barat, yang sudah dikenal luas sebagai pemasok DOC dan diakui sebagai pionir produsen DOC ayam lokal berskala besar bernama Jimmy’s Farm.
 
 
Didirikan Benny Arifin pada 1968, kala itu Jimmy’s Farm berfokus pada pembibitan broiler (ayam pedaging). Namun badai krisis moneter pada 1998, membuat usahanya gulung tikar. Sejak itulah, Benny mulai terjun di usaha pembibitan ayam lokal hingga berkembang sampai saat ini. 
 
 
Diakui Manajer Jimmy’s Farm, Yohan Kurniawan, ada peningkatan permintaan yang terjadi pada industri pembibitan ayam lokal. Meski tak banyak, namun Yohan melihat menjamurnya rumah makan dengan menu utama ayam lokal, berdampak pada peningkatkan tersebut. “Kalau kita sendiri, peningkatan permintaan DOC sekitar 20 – 30 %. Meskipun sedikit, tapi meningkat setiap tahun,” kilahnya. 
 
 
Benny menerangkan, dalam proses breeding ayam lokal tidak bisa menggunakan satu jenis ayam lokal, mau tidak mau harus dilakukan kawin silang agar tidak inbreeding (kawin sedarah). Ia mencari sumber ayam lokal di daerah Jawa, Sumatera, bahkan Kalimantan. Sebagai pembibit, tahu jenis dan kualitas ayam lokal calon bibitnya. “Saya berburu ke daerah asal dan langsung ke peternak lokal. Kemurnian ayam yang dicari bukan persoalan, yang penting ayam lokal,” ucapnya.
 
 
Beberapa jenis ayam lokal seperti sentul, campuran cemani, pelung, arab dikawinsilangkan untuk mendapatkan bibit yang baik. “Pemilihan banyak jenis ayam lokal ini untuk memudahkan replacement induk. Kalau hanya menggunakan 1 jenis ayam lokal semisal sentul saja atau cemani saja, akan kesulitan mendapatkan replacement-nya,” kata Yohan.
 
 
Saat ini, Jimmy’s Farm memiliki indukan 8 ribu ekor dengan kapasitas kandang 15 ribu ekor. Dari jumlah indukan tersebut, nantinya akan diapkir sebanyak 2.500 ekor. Namun begitu, Yohan sudah menyiapkan replacement sebanyak 5 ribu ekor untuk calon bibitnya. Melalui kawin alami, Yohan menjelaskan, perbandingan jantan dan betina adalah 1:8. Tapi tidak menutup kemungkinan ada saja jantan yang berlebih dalam 1 kandang. 
 
 
Dalam kondisi normal, produksi DOC ayam lokal Jimmy’s Farm sekitar 11 ribu ekor per minggu. Namun dengan kondisi ayam yang sebagian akan diapkir, produksi telur sudah menurun hingga mencapai 6.500 ekor DOC per minggu. 
 
 
 
Perluas Pasar
Usaha pembibitan ayam lokal yang terus mengalami peningkatan juga dibenarkan Naryanto. Menurut Direktur PT Sumber Unggas Indonesia (SUI) ini, bisnis ayam lokal berkembang pesat 3 tahun belakangan. Bisnis SUI sendiri mengalami peningkatan hampir 100 % setiap tahunnya. 
 
 
SUI yang berpusat di daerah Parung, Bogor Jawa Barat ini mampu memproduksi DOC sebanyak 500 ribu ekor per bulan. Untuk menghasilkan angka itu, terdapat hatchery sebanyak 12 unit setter single dengan kapasitas 40 ribu butir per mesin. Menggunakan sistem single, bukan tanpa alasan. “Pertimbangannya, lebih steril karena all in all out dan juga kualitas DOC lebih bagus dan seragam. Sementara untuk produktivitas indukan, rata-rata sekitar 80 – 85 %, karena kita menggunakan sistem kawin alami,” terang pria yang disapa Anto ini. 
 
 
Anto menyampaikan, awal mula SUI bermain di pembibitan ayam lokal karena segmen pasarnya yang masih terbatas, dan juga skala usahanya masih dilindungi, tidak seperti ayam ras. “Masih untuk UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), jadi kita lihat pemainnya tidak banyak. Perusahaan besar tidak ikut bisnis ini, dan prospek pasarnya masih sangat menjanjikan,” ungkapnya.
 
 
Konsumsi ayam lokal setiap tahun meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, namun produksi DOC dari breeder-breeder yang ada sekarang masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar. Karena konsentrasi breeder-breeder yang ada saat ini bisa dibilang 90 % di Pulau Jawa. Untuk itu, SUI melakukan ekspansi dengan membuka unit hatchery di daerah Susut Kabupaten Bangli Provinsi Bali. 
 
 
Hatchery di Bali ini, mampu memproduksi DOC sekitar 90.000 – 100.000 ekor per bulan untuk memenuhi kebutuhan 3 provinsi, yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Ke depan, SUI berencana untuk membangun breeding farm di Bali mengingat pangsa pasar di Bali dan provinsi sekitarnya cukup besar sehingga bisa menjadi usaha yang sangat menjanjikan. “Kami berharap, keberadaan kami bisa meningkatkan gairah peternak ayam lokal karena bisa mendapatkan DOC yang harganya lebih kompetitif,” ucap Anto. 
 
 
Selama ini, peternak di luar Jawa dibebani biaya transportasi DOC yang sangat tinggi di kisaran Rp 2.000 – 3.000 per ekor. Dengan adanya hatchery di Bali, peternak Bali dan sekitarnya  hanya dibebankan biaya transportasi Rp 500 per ekor. “Selisihnya jauh sekali, sehingga dengan harga DOC ayam lokal yang lebih terjangkau bisa meringankan beban peternak ayam lokal di Bali,” jelasnya. 
 
 
Tidak hanya di Bali, Provinsi Jambi juga menjadi target pasar SUI di Pulau Sumatera.  “Setelah Lebaran kami akan membuka hatchery di Jambi, dengan estimasi awal produksi DOC sekitar 10 Juni 2019 sudah mulai menetas dengan kapasitas masih separuh dari hatchery Bali yaitu sekitar 40.000 – 48.000 ekor per bulan,” ungkap Anto. 
 
 
Selain untuk peternak ayam lokal di Jambi, keberadaan hatchery tersebut untuk memenuhi kebutuhan peternak di Palembang, Pekanbaru, dan Padang. Sama halnya dengan Bali, telur masih didatangkan dari Parung, karena pertimbangan biaya yang sangat besar untuk membuat breeding farm. “Sementara kita ambil jalan pintas untuk hatchery dulu, sambil melihat pasarnya,” terangnya.  
 
 
 
Peternak Mandiri
Permintaan pasar yang semakin meningkat terhadap DOC ayam lokal dirasakan para anggota dari Gabungan Pembibit Ayam Lokal Indonesia (Gapali). Meningkatnya jumlah penduduk dan taraf hidup masyarakat Indonesia yang semakin baik membuat permintaan terhadap pangan juga meningkat, tak terkecuali terhadap daging ayam lokal. Permintaan yang terus meningkat, membuat para pembibit ayam lokal harus mampu menyediakan DOC dengan kualitas dan kuantitas yang tepat. 
 
 
Meski demikian, pertumbuhan usaha peternakan ayam lokal di Indonesia diharapkan tetap tumbuh alami bukan karena dipaksa. “Gapali tak menampik jika permintaan terhadap ayam lokal terus meningkat setiap tahunnya, namun terus terang pertumbuhan itu tidak bisa serta merta langsung lari ke industrialisasi,” tandas Ketua Gapali, Bambang Krista. Industrialisasi bisa saja dilakukan, tapi jika pasarnya belum siap, otomatis kalau kelebihan pasokan, harga akan jatuh. Sedangkan peternak-peternak ayam lokal yang ada adalah peternak mandiri. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 236/Mei 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain