Rabu, 1 Mei 2019

Memaksimalkan Potensi Ayam Lokal

Memaksimalkan Potensi Ayam Lokal

Foto: yan


Perlu dilakukan pemetaan kembali jenis ayam lokal/asli yang ada di Indonesia sekaligus mendorong pengembangan berbagai penelitian guna mengoptimalkan potensi genetiknya
 
 
 
Menjalankan usaha pembibitan ayam, bukan persoalan mengawinkan 2 jenis ayam saja tetapi pembibit harus memelihara dan memiliki galur murninya. Misalnya, jika ingin mengawinkan ayam pelung dengan ayam sentul maka kedua jenis ayam ini harus ada yang murninya. Pola seperti itu yang dilakukan di ayam ras.
 
 
Menurut Ahli Genetika dari Universitas Padjadjaran Bandung, Asep Anang, teknologi pemuliaan tidaklah sulit tetapi mutlak dilakukan dengan konsisten. Dan untuk melakukan pemuliaan, maka langkah pertama adalah menentukan objek bibit yang ditarget. “Apakah targetnya membentuk ayam lokal pedaging atau petelur, harus jelas. Seleksinya pun harus dilakukan terus menerus. Jadi tidak mungkin dalam waktu singkat hasilnya sudah bagus,” sebutnya.  
 
 
Dalam ilmu pemuliaan dikenal istilah diverse line (ternak murni). Ia menyebut ayam pelung murni, kedu murni, sentul murni sebagai contoh. Ternak murni ini memiliki gen-gen dan karakter populasi yang khas namun masih kompleks. Diantaranya ekspresi gen tahan penyakit, tidak mudah stres, dan masih banyak lagi. 
 
 
Dari ternak murni inilah kemudian dibentuk pure line (galur murni) dengan memanipulasi ke arah karakter yang diinginkan. Biasanya, male line (garis jantan) memiliki sifat tumbuh cepat sehingga digunakan sebagai dasar pengembangan jenis pedaging. Sementara female line (garis betina) punya sifat produksi telur, sebagai pegangan mengembangkan petelur. Berdasarkan pengalamannya, hasil seleksi sampai 3 generasi sudah stabil dan sudah didapat pure line. Tetapi semakin murni tetua di atasnya, persilangan akan lebih baik.
 
 
Sementara menurut Maria Ulfah, untuk menghasilkan galur murni bisa sampai 8 hingga 14 generasi. Meski biayanya mahal, namun akan sangat membantu para breeder untuk menuju industri. “8 generasi sudah seragam tapi masih suka eror, sehingga parameternya harus diikuti terus, sampai benar-benar mendapatkan hasil,” ujar Dosen Divisi Unggas Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB University ini. 
 
 
 
Pemetaan
Sebenarnya, Maria masih ragu dengan istilah ayam lokal. Asli dan lokal sering disebut dengan buras (bukan ras), namun perlu penjelasan lebih lanjut dari pemerintah, yang dimaksud native (asli) maupun yang lokal itu jenis apa saja untuk kondisi terkini. “Mungkin data sebelumnya sudah ada, tapi harus ada pemetaan kembali yang ada di lapangan seperti apa,” tukasnya. 
 
 
Maria menjelaskan, Food and Agriculture Organization (FAO) sudah menentukan dua breed yang ada di dunia, yaitu breed asli dan breed lintas batas. Dari breed lintas batas tersebut ada pengelompokkan lagi, yaitu breed lintas regional (breed lintas batas yang hanya ada di salah satu di antara 7 wilayah regional state of the world animal genetic resources) dan breed lintas internasional (breed yang ada di lebih 1 wilayah regional state of the world animal genetic resources). “Saya pribadi sebagai peneliti, akan mudah seperti itu. Ada breed asli dan breed lintas batas,” terangnya. 
 
 
Dari situ, perlu penjabaran kembali, native itu siapa dan lokal itu siapa. Karena orang cenderung menyebut native ini sebagai lokal juga. Padahal lokal itu diimpor dari negara lain, kemudian di Indonesia mengalami proses pemuliaan hingga lebih dari 5 generasi. 
 
 
Terkait dengan keragaman genetik, Maria mengatakan juga harus diperhitungkan, sehingga harus ada zona konservasi, pelestarian, dan pemanfaatan. “Sebenarnya pemerintah sudah punya program itu, tetapi barangkali untuk teknisnya perlu ditambahkan lagi, dengan sistem otonomi daerah,” sarannya. 
 
 
Selama ini pemerintah kesulitan untuk menangani banyak lokasi sehingga penting bagi pemerintah daerah untuk bisa memunculkan potensi dari ayam lokal masing-masing daerah. Apalagi sekarang sudah banyak ayam persilangan. Jangan sampai daerah-daerah yang mempunyai sumber daya genetik tercemari.
 
 
Seperti di Temanggung, ada ayam kedu dan cemani yang jumlahnya masih sedikit. “Ini harus melibatkan pemerintah karena kalau hanya masyarakat kecil fluktuasi hilangnya akan lebih cepat, bisa dijual atau mati,” ungkap Peneliti dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Tike Sartika. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 236/Mei 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain