Rabu, 1 Mei 2019

Rahasia Sukses Beternak Joper

Rahasia Sukses Beternak Joper

Foto: 
Atiek bersama para karyawannya

Program vaksinasisecara menyeluruh sejak awal pemeliharaan menjadi salah satu kunci sukses beternak ayam joper
 
 
 
Ayam joper yang lebih dikenal masyarakat sebagai ayam kampung dengan jenis Jowo Super mulai mendapat perhatian karena dianggap sebagai bisnis yang potensial. Adalah Isyawati Retnarum yang mulai menekuni bisnis ternak ayam kampung joper karena melihat peluang yang menjanjikan. Perempuan yang akrab dipanggil Atiek ini memulai bisnis ayam joper sejak 2007 hingga kini memiliki farm di wilayah Klaten yang dinamai Rafli & Danu’s Farm. 
 
 
Atiek bercerita bahwa dulu ia pernah bekerja di salah satu farm yang menekuni joper dan belajar banyak hal mulai dari persilangan, penetasan hingga pembesarannya. 
 
 
Setahun kemudian, Atiek dibantu oleh rekannya mencoba memproduksi ayam joper melalui hasil persilangan. Lambat laun, ia mencoba untuk memasarkan dari rumah ke rumah. “Pada awalnya ayam joper ini belum banyak yang melirik, tapi pelan-pelan saya berhasil memperkenalkan keunggulannya,” kisahnya. 
 
 
Kini, ia pun mendapatkan pesanan yang cukup banyak dengan pemasaran hampir di semua provinsi. “Ukurannya bervariasi, 5 ons, atau 6-7 ons, dengan usia 2 bulan. Kami juga memasarkan DOC (ayam umur sehari) yang saat ini produksinya telah mencapai ratusan ekor per bulan dan dijual dengan harga Rp 5.500 – 6.500 per ekor,” ujarnya. 
 
 
 
Manajemen Vaksinasi 
Menurut Atiek, pemeliharaan ayam joper cenderung mudah. Ayam yang merupakan persilangan antara jantan Bangkok dengan ras petelur ini termasuk tahan terhadap penyakit. “Pengaturan pakan lebih mudah asalkan kebutuhan protein tercukupi dan kandangpun harus memiliki ventilasi yang cukup,” jelasnya. Walaupun mudah secara pemeliharaan, tapi Atiek tidak mau ambil resiko dengan manajemen kesehatan ternak ayam jopernya. Apalagi kini ia telah membentuk plasma dengan beberapa peternak yang juga menekuni bisnis ini. “Untuk produksi, saya dan plasma mengatur sesuai kebutuhan pasar, karena dalam 1 tahun belum tentu ramai. Jadi kita membuat DOC-nya harus diperhitungkan berapa kira-kira kebutuhannya,” ujarnya. 
 
 
Wanita yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang kesehatan hewan ini pun menjalankan manajemen vaksinasi yang lengkap sejak awal pemeliharaan dan juga biosekuriti yang ketat di kandang.”Saya perlakukan sama seperti broiler (ayam pedaging). Program vaksinasi yang diterapkan dari awal menggunakan produk Medivac ND AI, Medivac, ND AI - IB, Medivac Gumboro A, Medivac Gumboro B, dan Medivac ND La Sota produksi Medion. Sejauh ini produk-produk tersebut memberikan hasil yang sangat baik,” terangnya. 
 
 
Ia mengaku tidak berani lalai dalam program vaksinasi karena resiko penyakit tetap ada dan kerugian bisa tinggi jika banyak yang mati. “Biasanya penyakit Gumboro terjadi pada musim pancaroba, yang ditandai dengan diare, keputihan dan diikuti oleh koksi dan juga pilek. Akan tetapi, asalkan vaksinasinya tidak terlambat maka semua masalah bisa teratasi dan kondisi akan cenderung aman,” klaimnya. 
 
 
Atiek menyampaikan pertimbangannya sejak awal menggunakan vaksin Medion karena memang sudah dikenal dan juga produk dalam negeri. Dirinya percaya produk Medion lebih aman dan barang selalu tersedia. “Salah satu yang penting adalah Medion menyediakan produk dosis kecil, sehingga bisa digunakan sesuai kebutuhan dan tidak banyak yang terbuang. Selain itu, jika ada keluhan, pelayanannya cepat dan vaksinatornya pun selalu siap,” pungkasnya. TROBOS/Adv 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain