Rabu, 1 Mei 2019

Tangani Kasus Diare pada Sapi dengan Baycox

Tangani Kasus Diare pada Sapi dengan Baycox

Foto: 
Suasana seminar

Melalui Bayer Livestock Academy 2019, SHS dan Bayer semakin mendukung berbagai kegiatan pendidikan berkelanjutan untuk industri sapi potong dan sapi perah nasional
 
 
 
Persoalan penyakit kerap kali menjadi masalah yang cukup merugikan, tak terkecuali penyakit pada sapi. Oleh karenanya, PT Bayer Indonesia bersama PT SHS Internasional mengadakan seminar yang membahas mengenai penyakit pada sapi. Acara yang dikemas dengan nama Bayer Livestock Academy 2019 ini dilaksanakan di Hotel Holiday Inn Pasteur, Bandung (25/4). Kegiatan ini merupakan acara rutin yang diadakan oleh Bayer dan SHS di hampir setiap tahunnya. Kali ini, temanya ‘Diare dan Ancaman Parasit Pada Peternakan Sapi’ dan ternyata berhasil me¬nyedot perhatian para peserta yang hadir. 
 
 
Dikatakan Tri Handayaning Tyas, Head of Sales and Marketing PT Bayer Indonesia, bahwa Bayer berusaha mendukung pemerintah dalam rangka meningkatkan produksi susu nasional pada sapi perah dan juga menyukseskan program Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) pada sapi potong. Dengan demikian, melalui seminar kali ini Bayer bersama SHS ingin berperan dengan mengundang para ahli di bidang sapi perah dan sapi potong. 
 
 
Tri juga menyampaikan bahwa dalam mewujudkan program yang dicanangkan pemerintah seringkali terjadi hambatan dalam pelaksanaannya diantaranya penyakit. Beberapa penyakit pada sapi yang sering terjadi contohnya, diare dan penyakit akibat parasit. “Parasit sepertinya merupakan hal sepele, tetapi jika tidak tertangani akan mempengaruhi produktivitas dari hewan ataupun sapi itu sendiri,” tegas Tri. 
 
 
Product Manager PT SHS Internasional, Lusianingsih Winoto mengemukakan bahwa melalui Bayer Livestock Academy 2019, SHS dan Bayer dapat semakin mendukung berbagai kegiatan pendidikan berkelanjutan untuk industri sapi. SHS juga selalu mendukung pemerintah dalam meningkatkan hasil ternak untuk kesejahteraan manusia. Tentunya hal ini tidak lepas dari kesehatan hewan dalam menghasilkan produktivitas yang baik 
 
 
Dia menerangkan bahwa ada beberapa penyakit yang selama ini tidak disadari yakni penyakit akibat parasit. Penyakit ini juga dapat mengakibatkan efek yang negatif pada ternak. “Yang namanya parasit, tentunya akan menggerogoti performa dari hewan, sehingga kita harus mencari solusi terbaik,”tegasnya.
 
 
 
Kasus Diare 
Kasus diare seringkali terjadi pada peternakan sapi, baik sapi potong maupun sapi perah. Kurnia Achjadi selaku staff ahli Kementerian Pertanian RI menuturkan bahwa di Indonesia kasus diare ini sering ditemukan. Data penyakit sapi perah yang diperoleh dari KPBS Pengalengan pada 2018, penyakit yang sering muncul adalah diare yaitu sebesar 23 %. 
 
 
Dia juga menyampaikan bahwa gejala klinis yang terjadi pada sapi terkena diare adalah peningkatan frekuensi defekasi, peningkatan jumlah cairan pada kotoran, konsistensi kotoran yang seperti minyak cat, penurunan waktu istirahat dari saluran pencernaan, dan dehidrasi. Banyak hal yang menyebabkan kasus ini terjadi salah satu diantaranya akibat bakteri seperti E.coli, Salmonella Spp, Lysteria monocytogenes, dll. Faktor lain seperti kandang yang tidak nyaman, lembab, kotor, kurang terkena sinar matahari juga menjadi faktor pendukung munculnya penyakit tersebut. 
 
 
Diare juga bisa diakibatkan karena invasi parasit golongan coccidia yang menyerang usus halus seperti Eimeria bovis, Eimeria alabamensis, dan Eimeria auburnensis. Penyakit ini sering disebut juga sebagai koksidiosis. Kurnia menjelaskan bahwa koksidiosis memiliki ciri khusus yakni kotoran bersifat cair berisi lendir dan biasanya terdapat darah. 
 
 
Kasus diare juga tidak hanya terjadi pada sapi dewasa saja, tetapi juga sering terjadi pada sapi yang baru lahir (pedet). Menurut Kurnia, pedet yang diare diakibatkan oleh berbagai faktor resiko yang berhubungan dengan manajemen seperti nutrisi induk, jumlah dan kualitas kolostrum, akibat kedinginan dan kelelahan, populasi yang terlalu padat, buruknya sistem drainase, bercampurnya sapi dara dan induk yang melahirkan, serta kualitas SDM. Selain itu, diare pada pedet dapat terjadi akibat kontaminasi bakteri patogen dan infeksi parasit Eimeria. 
 
 
Deddy Fachruddin Kurniawan CEO Dairy Pro, menambahkan bahwa 56 % penyebab kematian pedet adalah karena diare, sedangkan akibat penyakit pernafasan 22,5 %, komplikasi kelahiran 5,3 %, dan akibat hal lain 15,7 %. Oleh karenanya diare menjadi penyakit yang cukup serius yang perlu diperhatikan pada sapi.
 
 
Deddy juga menyampaikan bahwa diare yang perlu diwaspai adalah koksidiosis yang merupakan diare berdarah yang dapat menjadi ancaman cukup besar, karena mampu menyebabkan banyak kerugian. Performa sapi akan jauh menurun. Selain itu, koksidiosis juga menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi. 
 
 
Menurutnya parasit koksidia bersiklus di saluran pencernaan. Pada umumnya koksidiosis terjadi secara tiba-tiba namun disertai feses yang berlendir dan berdarah. “Upaya yang dapat dilakukan dalam mengontrol koksidiosis yaitu dengan melakukan disinfeksi kandang pedet, grouping berdasarkan usia dan ukuran, mencegah over crowded, menerapkan konsep hygine, dan memberikan koksidiostat,”ujar Deddy. 
 
 
 
Baycox
Dalam memajukan industri peternakan sapi di Indonesia, Bayer selalu memberikan yang terbaik. Dalam kasus diare ini, Bayer memiliki Produk Baycox 5% yang mampu mencegah dan mengobati diare, terutama koksidiosis pada pedet. Product Manager PT Bayer Indonesia, Muhammad Aura Maulana mengatakan bahwa Baycox memiliki palatabilitas yang tinggi sehingga rasanya disukai oleh hewan. Ditambahkan Aura, Baycox mengandung 50 mg toltrazuril/ml. Produk ini dapat diberikan pada pedet usia 28 hari atau dapat pula diberikan 1-2 minggu setelah pedet masuk kandang campur. “Dosis yang bisa dipakai yaitu 15 mg toltrazulril/kg BW (Body Weight) atau 3 ml/10 kg BW,”jelas Aura. 
 
 
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, sapi yang diberikan Baycox juga memiliki rata-rata umur pertama kebuntingan lebih cepat dibandingkan dengan kontrol. Selain itu hasil uji efikasi komparatif menunjuk¬kan Baycoxx memiliki kemampuan proteksi terhadap berbagai sediaan antioksidan pada saluran kesehatan cerna. “Vili-vili usus sapi yang diberikan Baycox menunjukkan kondisi yang sangat baik dibandingkan vili usus yang diberikan diclazuril, sulfadimidine, maupun kontrol,”tegasnya. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain