Kamis, 2 Mei 2019

Puasa dan Lebaran, Pedagang Minta Kuota Daging Impor Diatur

Puasa dan Lebaran, Pedagang Minta Kuota Daging Impor Diatur

Foto: dok.datuk


Bandarlampung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pedagang daging di Kota Bandarlampung mendesak pemerintah untuk mengatur kuota daging impor yang dipasarkan di Lampung selama dan menjelang Lebaran Idul Fitri 1440 Hijriyah.

 

Jika tidak ada pengaturan kuota maka banjirnya daging impor tidak saja merugikan pedagang daging tetapi juga peternak sapi.

 

Demikian dikatakan Ketua Persatuan Pedagang Daging (PPD) Kota Bandarlampung Tampan Sujarwadi kepada Trobos.com di Rumah Potong Hewan (RPH) Z-beef, Tanjungkarang Barat Bandarlampung, Rabu 1/5) siang.

 

“Menjelang puasa Ramadan hingga Lebaran Idul Fitri 1440 H menjadi peluang emas bagi peternak sapi dan pedagang daging di Provinsi Lampung untuk meraup keuntungan. Namun, realitanya sering tidak begitu menggembirakan karena daging impor membanjiri pasar, termasuk pasar tradisional yang menjadi pasar utama daging lokal,” ujar Ampan—panggilan akrab Tampan Sujarwadi.

 

Dijelaskannya, sebetulnya kenaikan permintaan daging menjelang bulan puasa tidak begitu signifikan. “Biasanya permintaan daging paing tinggi naik dua kali lipat pada H-2 dan H-1 jelang puasa Ramadan. Jika dalam kondisi normal sekarang kebutuhan daging di Kota Bandarlampung 40 ekor maka biasanya naik hingga 70-80 ekor,” lanjutnya.

 

Sementara menjelang lebaran, sambungnya, biasanya lonjakan permintaan daging baru terjadi dari H-7 dan mencapai puncaknya pada H-1 Lebaran Idul Fitri. Kenaikannya bisa mencapai 8-10 kali lipat. Di saat itu baru terjadi lonjakan harga daging di pasar tradisional seiring kenaikan harga sapi hidup menjelang lebaran. Untuk meredam kenaikan harga daging, seperti tahun-tahun sebelumnya pemerintah membanjiri pasar dengan daging impor.

 

Ampan mengaku, sebetulnya para pedagang daging tidak menolak daging impor sebagai upaya stabilisasi harga daging menjelang Lebaran. Tetapi atas nama para pedagang daging ia berharap dari sekarang agar instansi terkait menghitung kebutuhan riil daging untuk masyarakat merayakan Lebaran sehingga diketahui total kebutuhan riil/kongkret.

 

“Dari hasil perhitungan tersebut dikordinasikan dengan kami pemangku kepentingan, dan peternak sapi berapa yang mampu dipenuhi oleh sapi lokal. Sisanya baru dipenuhi dengan daging impor sehingga jelas kuotanya berapa. Sehingga tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, daging impor masuk secara liar dan membanjiri pasar tradisional. Akibatnya pedagang daging di pasar tradisional gigit jari,” akunya.

 

Jadi, tegas Ampan, dia minta pada momen puasa Ramadan dan Lebaran ini peternak dan pedagang daging di Lampung yang menjadi lumbung ternak tidak dirugikan atas banjirnya daging impor.

 

Ampan menggarisbawahi, jika tidak ada pengaturan kuota maka merajalelanya daging impor di pasar tradisional, tidak saja merugikan pedagang daging, tetapi juga peternak sapi yang selama setahun menunggu momen Lebaran untuk menjual sapi mereka.

 

“Hal ini perlu kita sampaikan kepada pemerintah agar tata niaga daging menjelang Lebaran tidak lagi kacau, seperti tahun-tahun sebelumnya,” tandas dia. datuk

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain