Sabtu, 1 Juni 2019

Silasenisasi Pakan Sapi Perah

Silasenisasi Pakan Sapi Perah

Foto: yopi


Kerjasama antara PTPN VIII dengan koperasi peternak sapi perah menjadi langkah baru untuk menjamin ketersediaan hijauan pakan sepanjang tahun dan pengembangan usaha sapi perah yang berkelanjutan sekaligus menuju dimulainya industri silase
 
 
 
Pasokan pakan terutama hijauan bagi peternak sapi perah skala rakyat menjadi persoalan klasik yang tak kunjung menemukan solusinya. Selama ini peternak mengandalkan hijauan liar yang ada sekitar peternakannya. Tergerusnya tegalan, kebun, bukit untuk area pemukiman semakin mempersulit peternak dalam mendapatkan hijauan.
 
 
Kabar baik untuk mengatasi persoalan ini datang dari Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, PTPN VIII, KPBS (Koperasi Peternakan Bandung Selatan) Pangalengan, PT. UPBS (Ultra Peternakan Bandung Selatan), dan KPSBU (Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara) Lembang menandatangani nota kesepahaman dalam penyediaan hijauan pakan sapi perah secara berkelanjutan awal tahun lalu. 
 
 
Menurut Kepala Divisi Tanaman PTPN VIII, Dian Hadiana Arief, area perkebunan yang disiapkan untuk pengembangan pakan ternak sekitar 3.000 ha yang tersebar di Pangalengan, Ciwidey, Sukabumi, Lembang, Bandung, Subang, dan Purwakarta. “Tetapi tentunya kondisi di lapangan bermacam-macam. Ada sebagian yang sedang digarap masyarakat dan ada area yang masih produktif,” ungkapnya kepada TROBOS Livestock pada kegiatan FGD (Focus Group Discussion) yang digelar di Gedung Sate Bandung (23/5).
 
 
Sebenarnya, lanjut Dian, alokasi 3.000 ha ini tidak terbatas untuk tanaman pangan seperti jagung tetapi bisa untuk pengembangan sumber daya lainnya yang berbasis sumber daya lahan. “Kami terbuka dengan berbagai potensi yang memungkinkan di area kami termasuk dalam pengembangan pakan ternak,” ujarnya. 
 
 
Ia mengatakan, terdapat 3 konsep kerjasama yang ditawarkan dalam pengembangan pakan ternak untuk sapi perah ini yaitu kerjasama usaha (KSU), kerjasama operasional (KSO), dan sewa lahan/kompensasi. Adapun produk yang akan dihasilkan dari kerjasama ini adalah komoditas jagung dan rumput dalam bentuk silase. “Sebetulnya kerjasama yang nanti lebih diarahkan ke KSO dan KSU dimana ada pihak dari PTPN VIII yang bekerjasama dengan mitra. PTPN VIII menyediakan lahan dan tenaga kerja sementara pihak mitra menyediakan modal dan off-taker (pembeli) sehingga kedua belah pihak ini melakukan kerjasama dan pembagian keuntungan,” urainya.
 
 
Dian menyampaikan, untuk kerjasama penyediaan pakan di sapi perah ini yang menjadi prioritas adalah kesepakatan harga yaitu dengan harga yang baik dan menguntungkan kedua belah pihak sangat menentukan. “Kami terus mencari bentuk agar kerjasama ini dapat terealisir. Bagaimana pun bagi kami, tanaman pakan merupakan hal yang baru sehingga kami akan belajar dan mencoba bersama-sama dengan para praktisi,” tandasnya. 
 
 
Dalam waktu dekat, PTPN VIII akan melakukan uji coba terlebih dahulu dengan skala 50-100 ha sehingga semua pihak mendapatkan gambaran biaya produksi yang akan muncul. Salah satu kendala adalah biaya pengangkutan apapun, silase maupun pakan ternak misalnya dari luar atau ke Lembang membutuhkan biaya Rp 400 per kg sehingga kerjasama ini harus dapat dinikmati petani dan peternak dapat membeli lebih terjangkau. “Melalui kerjasama ini kami berharap PTPN VIII sebagai agen pembangunan mendapat kontribusi keuntungan dan masyarakat menerima dampak yang lebih baik,” kata Dian.
 
 
Kepala Biro Perekonomian Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Achmad Taufik Garsadi menyambut baik dan mendukung penuh kerjasama ini. “Kami mencoba menyelesaikan permasalahan pengembangan sapi perah khususnya di Jawa Barat karena secara umum pun di tingkat nasional sangat terkendala terkait dengan penyediaan pakan ini,” ujarnya.
 
 
Ia mengatakan, PTPN VIII yang memiliki HGU (Hak Guna Usaha) lebih dari 100 ribu ha di Jawa Barat sangat potensial untuk pengembangan berbagai komoditas termasuk peluang kerjasama jangka panjang dari lahan-lahan itu untuk penyediaan pakan ternak. “Kami akan mendukung dengan aturan agar kerjasama ini bisa menguntungkan kedua belah pihak. Apalagi Menteri BUMN sudah setuju dengan kerjasama ini dan kami juga sudah melaporkan ke Gubernur dan Sekretaris Daerah Jawa Barat sehingga tentunya menjadi semakin bersemangat untuk merealisasikannya karena hal ini bisa menjadi tonggak sejarah baru bisnis sapi perah di Jawa Barat,” tegas Taufik. 
 
 
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Koesmayadie TP mengatakan, meskipun usaha sapi perah cukup menjanjikan, peternakan sapi dalam negeri terkendala oleh kebutuhan hijauan pakan ternak (rumput dan legume) yang semakin terbatas. “Lahan hijauan pakan ternak (HPT) sebagai makanan pokok sapi perah masih minim. Untuk mengatasinya, para peternak seringkali mengganti pakan pokok sapi yang berupa rumput dengan jerami atau daun pisang. Hal itu akhirnya mempengaruhi produktivitas dan kualitas susu sapi yang dihasilkan,” sesalnya.
 
 
Untuk itu, lanjut Koesmayadie, kerjasama penyediaan lahan usaha peternakan dengan para pemilik lahan negara dan atau swasta seperti dengan PTPN VIII perlu segera diwujudkan mengingat permasalahan keterbatasan lahan yang dimiliki oleh para peternak untuk penyediaan hijauan pakan ternak merupakan permasalahan hampir di seluruh daerah di Jawa Barat pada sentra-sentra peternakan sapi perah. “Kepastian adanya lahan dalam upaya memenuhi upaya ketersediaan hijauan pakan sepanjang tahun merupakan jaminan dalam upaya pengembangan usaha sapi perah yang berkelanjutan,” tandasnya. 
 
 
 
Dioptimalkan 
Koperasi peternak sapi perah di Jawa Barat sangat antusias dan optimis melihat PTPN yang sangat terbuka dengan kerjasama ini. Apalagi pakan menjadi persoalan yang paling berat di sapi perah. Peternak tidak bisa menambah populasi dan meningkatkan produktivitas sapi karena persoalan di pakan terutama hijauan. “Kami sebagai bagian dari peternak sapi perah di Indonesia khususnya di Jawa Barat punya harapan besar kerjasama ini bisa terwujud dengan tahapan-tahapan yang bisa dilakukan terlebih dulu. Diharapkan kerjasama ini nantinya mengarah ke industri silase pakan ternak,” urai Ketua Umum KPBS Pangalengan, Aun Gunawan. 
 
 
Saat ini KPBS Pangalengan memiliki anggota sekitar 2.600 peternak dengan populasi sapi perah sekitar 13.000 ekor dan sekitar 7.000 ekor merupakan sapi indukan. Adapun produksi susu segar di kisaran 75-78 ton per hari. “Kami berharap, lokasi pengembangan pakan ternak ini dekat dengan peternak supaya mengolahnya gampang dan biaya transportasinya minim. Juga perlu kerja keras semua pihak untuk mensosialisasikan produk silase ini agar ketika peternak melihat, merasakan, dan menikmati hasilnya mereka bisa percaya,” terang Aun.
 
 
Ketua KPSBU Lembang, Dedi Setiadi juga mengaku optimis dan berharap kerjasama ini bisa segera dimulai. “Saya tidak melihat peternak sapi perah rakyat ini harus kemana karena sekarang tempat mengambil rumputnya habis untuk bangunan. Sekarang PTPN VIII hadir harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Lihat ke lapangan apa yang bisa dimulai. Kalau peternak rakyat sudah dipasok pakan cita-cita mereka untuk memelihara 10 ekor sapi perah tidak sulit,” paparnya.
 
 
Ketua Umum GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) ini mengenang perubahan peternak dalam manajemen pemeliharaan sapi perah yang dulunya menolak tetapi saat ini menggunakannya. Dulu, ketika sapi perah akan dikawinkan melalui IB (Inseminasi Buatan) semua peternak menolak, karena dianggap haram saat itu. Sekarang, peternak sudah bergantung pada IB. Sapi yang sebesar apapun sudah tidak mau dikawinkan dengan sapi jantan. 
 
 
Yang kedua, konsentrat. Dulu peternak menolak besar konsentrat karena bagi mereka itu tidak perlu. Sekarang satu pun tidak ada yang tidak pakai konsentrat. Sekarang konsentrat menjadi andalan. “Dulu, jerami paling buat pedet tapi sekarang kalau ada orang yang membawa jerami pakai mobil berebut tidak ada sisa. Berapa mobil pun jerami yang datang ke tempat saya habis padahal jerami sudah Rp 500 per kg,” katanya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 237/Juni 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain