Sabtu, 1 Juni 2019

Sapi PO Unggul Hasil Seleksi

Sapi PO Unggul Hasil Seleksi

Foto: 


Mempunyai keunggulan adaptif terhadap pakan berserat kasar tinggi dan rendah protein kasar, sehingga cocok dikembangkan di daerah marginal
 
 
 
Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu sapi potong lokal yang banyak tersebar di tanah air, namun kualitasnya dari hari ke hari menurun. Guna meningkatkan kualitas dan nilai tambah memelihara sapi PO diperlukan adanya sentuhan teknologi. 
 
 
Diungkapkan Aryogi, peneliti dari Balitbang Pertanian Loka Penelitian Sapi Potong (Lolitsapi) Grati, Pasuruan, Jawa Timur bahwa kualitas sapi PO di peternak sekarang sudah berbeda dengan sapi PO yang dahulu. Oleh karena itu, Lolitsapi yang merupakan unit pelaksana teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian berinisiasi untuk membuat galur sapi potong yang berkualitas, salah satunya sapi PO. Sejak 2002 – 2003 , mulai menyeleksi sapi PO sehingga pada 2017 terbentuklah sapi POGASI (PO Grati Hasil Seleksi) Agrinak yang merupakan galur baru sapi potong lokal Indonesia, telah dilakukan sidang pelepasan galur sapi unggul akhir tahun 2019 yang diusulkan oleh Lolitsapi Grati, Pasuruan, Jawa Timur untuk disahkan Kementerian Pertanian.
 
 
 
Galur Sapi POGASI 
Ia menceritakan galur sapi POGASI Agrinak berasal dari sapi PO yang berada di daerah-daerah sentra sapi PO di Jawa Timur, misalnya Kabupaten Tuban, Lamongan dan Nganjuk. Lalu, wilayah Jawa Tengah, diantaranya Kabupaten Rembang, Blora, Grobogan dan Sragen. “Kemudian dibentuk menjadi galur sapi POGASI di Lolitsapi yang merupakan daerah dataran rendah yang berdekatan dengan pantai, kawasan persawahan tadah hujan, lahan kering, tanah berpasir, serta temperatur udara panas,” paparnya. 
 
 
Guna mendapatkan galur baru sapi POGASI Agrinak, ia utarakan telah dilakukan serangkaian penelitian selama lebih dari 14 tahun atau sampai mencapai generasi ke empat (F4). Sapi PO yang dijaring dari daerah-daerah sentra sapi PO di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada 2002 – 2003, dikembangkan dengan tatalaksana budidaya model Lolitsapi, kemudian di seleksi dan diatur perkawinannya secara bertahap dan terus menerus menggunakan Close Nucleous Breeding System (CNBS). Kriteria utama seleksi adalah bahwa pada umur sekitar 24 bulan mencapai tinggi gumba di atas rata-rata populasi. 
 
 
Untuk ciri-ciri eksterior sapi POGASI Agrinak diantaranya, warna badan putih polos dengan cenderung kekuningan, tanduk bungkul (pendek dan besar) dan gumba tumbuh ke atas, tidak jatuh ke samping/belakang. Lalu, daun telinga lurus ke samping (tidak menggantung), rambut di ujung ekor berwarna hitam kelam serta gelambir berlipat kecil dan banyak. “Keunggulan yang menonjol Sapi POGASI Agrinak yaitu adaptif terhadap pakan serat kasar tinggi dan protein kasar rendah, sehingga sangat cocok dikembangkan di daerah marginal. Bisa dibayangkan, kalau dipelihara dengan manajemen yang baik tentunya pertumbuhannya akan lebih optimal,” pungkasnya. 
 
 
Calon sapi POGASI sendiri sudah dilakukan uji multilokasi dibeberapa provinsi mulai dari Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. 
 
 
 
Seleksi Mutu Genetik 
Kegiatan seleksi, dipaparkan Aryogi dilakukan terhadap populasi sapi PO yang ada di Lolitsapi, mulai generasi pertama (F1) di 2003 – 2004 untuk memperoleh sapi bibit dengan keseragaman dan produktivitas yang semakin tinggi, dengan pemberian pakan berserat kasar tinggi dan protein rendah serta menggunakan Kandang Kelompok Model Litbangtan. 
 
 
Pada 2017 – 2018 telah diperoleh sapi bibit generasi ke empat (F4) berbagai status fisiologis/umur sebagai galur baru sapi POGASI Agrinak. Metode seleksi yang diterapkan mengacu pada program perbaikan genetik yang menghasilkan peningkatan rata-rata fenotip populasi dari satu generasi ke generasi berikutnya, atau yang disebut dengan respon seleksi pada kondisi nutrien pakan berserat kasar tinggi dan rendah protein. 
 
 
Dalam upaya mencapai peningkatan mutu genetik, digunakan beberapa sifat sebagai kriteria seleksi, yaitu berat lahir, berat badan, tinggi gumba dan ciri khas sapi PO saat sapih, umur 12, 18 serta 24 bulan. Selain itu, karakter PO yang umum dicari yaitu ukuran tubuh yang tinggi dan besar, kualitas daging bagus, tahan panas dan efisiensi pakan serta reproduksinya baik. . “Dari seleksi tersebut, ditemukan sapi – sapi yang mempunyai sifat-sifat unggul yang terangkum di sapi POGASI dan setelah diteliti melalui hasil biomolekuler pun sapi tersebut berbeda dengan sapi – sapi yang ada di peternak walaupun sapi PO murni. Perbedaannya mempunyai kualitas genetik lebih baik dibandingkan sapi PO yang ada di peternak,” tuturnya. 
 
 
Khusus untuk mendapatkan calon pejantan, sambungnya dilakukan tambahan kriteria seleksi berupa pencapaian tinggi gumba minimal 135 cm pada umur sekitar 24 bulan, serta libido, kualitas dan kuantitas semen yang tertinggi pada umur 18 dan 24 bulan. 
 
 
Aryogi menuturkan melalui seleksi dan pengaturan perkawinan di setiap generasi, diperoleh peningkatan berat badan sapi, dimana respon seleksi telah mampu meningkatkan berat lahir pedet antar generasi yang berkorelasi positif terhadap berat sapih sampai berat umur 3 tahun yang juga semakin tinggi antar generasi. 
 
 
Peningkatan nilai heritabilitas berat badan dengan estimasi nilai heritabilitas berat lahir sapi POGASI Agrinak adalah 0,28 + 0,12 yaitu masih dalam rentang nilai yang ditetapkan oleh Hardjosubroto (1994) yang sebesar 0,2 – 0,58 tetapi lebih tinggi dari nilai heritabilitas sapi potong lokal lainnya, seperti sapi bali sebesar 0,09 + 0,07. Hal ini menunjukkan bahwa korelasi ragam fenotipe dengan ragam genetik adalah cukup tinggi sehingga seleksi berdasarkan fenotipe berat lahir individu akan cukup efektif. Seleksi pada berat lahir dapat memperbaiki mutu genetik sifat berat sapih, umur setahun dan pertambahan berat badan harian lepas sapih, karena sifat-sifat tersebut berkorelasi terhadap genetik variasi yang tinggi.
 
 
“Berat lahir sapi POGASI bisa mencapai 26 – 28 kg, sedangkan sapi PO yang tersebar di masyarakat hanya 22 – 23 kg. Sedangkan untuk ADG (Pertumbuhan Bobot Badan Harian) sapi muda POGASI mencapai 0,6 kg/hari dan sapi dewasa mencapai hanya 1 kg lebih perhari dengan Calving Interval yaitu 12 – 13 bulan,” urainya. 
 
 
Sementara untuk estimasi nilai heritabilitas berat sapih pada sapi POGASI Agrinak, ia kemukakan adalah 0,47 + 0,15 yaitu lebih tinggi dibanding nilai heritabilitas yang biasa ditemukan pada sapi-sapi keturunan ongole yang dikembangkan di beberapa negara lain. Seperti nilai heritabilitas breed ongole yang dikembangkan di Brazil (sapi Nellore) sebesar 0,13. Berat sapih dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama manajemen pemeliharaan dan komponen genetik induk (maternal genetic effect) seperti produksi susu dan perilaku menyusui induk. 
 
 
Nilai heritabilitas berat sapih sapi POGASI Agrinak ini termasuk kategori tinggi karena lebih dari 0,4. Tingginya nilai heritabilitas pada berat sapih ini menunjukkan bahwa seleksi atas dasar performa individu akan lebih efektif dalam meningkatkan pertumbuhan pada berat sapih, yang mengindikasikan bahwa sifat-sifat ini dapat meningkatkan respon seleksi. “Jadi dengan umur lepas sapih pada 7 bulan mencapai bobot badan 170 kg, sementara sapi PO yang ada di masyarakat dengan umur yang sama hanya 130 – 140 kg,” ungkap Aryogi. 
 
 
Selain itu, tambahnya sapi POGASI Agrinak mempunyai kemampuan yang tinggi dalam memanfaatkan pakan yang mengandung serat kasar tinggi dan protein kasar rendah, ini disebabkan karena mampu menjaga kondisi ideal karakteristik rumennya, yaitu keseimbangan perbandingan antara C2, C3 dan C4 serta pH dan kandungan NH3- nya.“Kita melakukan penelitian skala laboratorium dengan pakan yang kandungan nutrisinya minimal dan ternyata hasilnya masih bisa beranak serta kondisi fisiologisnya tidak terpengaruh sebagaimana jika diberikan pakan dengan kualitas baik. Maka bisa dismpulkan, telah terjadi efisiensi pakan didalam tubuh sapi POGASI,” terang Aryogi. 
 
 
Sebagai sapi potong pun, ia utarakan sapi POGASI mempunyai kualitas daging yang baik seperti merah,rasanya juicy, padat dan perlemakannya ekstraseluler yang bisa bertahan di suhu kamar sehingga dagingnya tidak mudah atau cepat mengalami penurunan berat karena keluarnya kandungan air dari daging. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain