Sabtu, 15 Juni 2019

Waspada Mutasi Virus Flu Burung, Pasar Unggas Hidup Diawasi

Waspada Mutasi Virus Flu Burung, Pasar Unggas Hidup Diawasi

Foto: ist/dok.DitjenPKH


Bandung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pemerintah terus melakukan pengawasan pasar unggas hidup untuk memonitor perkembangan virus flu burung (FB).

 

Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian menjelaskan surveilans flu burung (FB) atau avian influenza (AI) di pasar unggas hidup (live bird market/LBM) telah dimulai sejak tahun 2009 terutama di di Jabodetabek. Kegiatan ini brguna untuk memonitor virus AI H5N1dan efektivitas program pengendalian FB dari daerah asal unggas hidup.

 

Surveilans LBM ini kemudian diperluas sehingga mencakup wilayah di bawah unit pelaksana teknis balai veteriner di seluruh Indoneaia, serta menjadi bagian dari program surveilans rutin AI.

 

Kegiatan surveilans LBM sejak tahun 2009 ini berhasil memonitor kemajuan pengendalian AI, mengidentifikasi awal munculnya virus AI baru, dan mendata profil dasar pasar unggas hidup di wilayah target surveilans.

 

Fadjar menyodorkan data Kementerian Pertanian angka tahunan kasus FB turun dari 2751 pada tahun 2007 ke 476 pada tahun 2018. Virus influenza H5N1 menyerang semua jenis unggas domestik termasuk ayam, bebek, dan burung puyuh, serta diketahui dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi.

 

Dia mengingatkan, flu burung adalah penyakit yang dapat ditularkan ke manusia (zoonosis). Dalam rangka melindungi kesehatan manusia dan produksi ternak unggas di Indonesia, pemerintah gencar melakukan program pengandalian dan penanggulangan FB, termasuk surveilans LBM.

 

Luuk Schoonman dari FAO ECTAD Indonesia menjelaskan bahwa kegiatan ini mampu memonitor sirkulasi virus AI baik virus H5N1 galur (clade) 2.1.3 ataupun 2.3.2 serta mendeteksi awal munculnya virus influenza baru, seperti pada surveilans virus H9N2 dan virus influenza A subtipe lainnya.

 

Lanjut Fadjar, program yang ada saat ini merupakan kerjasama antara Kementan dengan FAO melalui dukungan USAID, serta partisipasi pemerintah daerah.

 

"Suksesnya kegiatan surveilans ini tidak lepas dari kerjasama yang baik antara lembaga/instansi Pemerintah baik pusat maupun daerah, akademisi, mitra kerja dan donor, para petugas surveilans pasar serta para penguji di laboratorium,” jelas Fadjar.

 

Fadjar menegaskan perlu keterlibatan semua pihak untuk berbagi perencanaan dan pelaksanaan surveilans LBM. Perencanaan itu adalah bagian dari program pencegahan, pengendalian, dan penganggulangan FB di wilayah masing-masing serta dalam rangka penguatan sistem monitoring virus FB secara online (IVM Online). ramdan

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain