Rabu, 26 Juni 2019

Rekam Jejak Dirjen 1516

Rekam Jejak Dirjen 1516

Foto: yan


Berbagai peristiwa dan perkembangan bidang peternakan dan kesehatan hewan di tanah air selama kurun waktu 13 bulan 12 hari menjadi cerminan kebijakan pemerintah yang sedang memerintah 
 
 
Muladno, Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor kembali meluncurkan buku Realita di Luar Kandang (RDLK) di Bogor pada (26/6). Pada peluncuran perdana buku ini dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah, peternak, perguruan tinggi, asosiasi dan perusahaan di bidang peternakan dan kesehatan hewan, AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia), serta para tokoh di bidang peternakan. 
 
 
Adapun buku RDLK jilid ke-3 ini bertajuk “Dirjen 1516”. Tajuk “Dirjen 1516” ini diangkat mengingat penggagas program SPR (Sekolah Peternakan Rakyat) ini pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian periode 1 Juni 2015 hingga 13 Juli 2016. 
 
 
Pada buku setebal 298 halaman ini berisi rekam jejak Muladno selama menjabat sebagai Dirjen PKH yang diberitakan oleh Majalah TROBOS Livestock. Juga artikel-artikel yang dibuat Muladno mengenai pandangannya terhadap isu-isu terkini di bidang peternakan. Tidak ketinggalan, artikel tentang drama pencopotan pakar genetika ternak ini sebagai Dirjen PKH dari beberapa media lainnya.
 
 
Muladno mengaku bangga, peluncuran bukunya dihadiri oleh orang-orang yang peduli peternakan rakyat. “Semoga dengan terbitnya buku ini bisa menambah wawasan kita semua serta bisa membangun rakyat kecil dari peternakan,” harapnya. 
 
 
Diakui Muladno, langkah untuk menghimpun dan menata peternak rakyat melalui SPR ini tidak gampang. “Kalau peternak tidak berhimpun, selamanya tidak pernah bisa membangun peternakan sehingga butuh bupati dan pemimpin daerah yang peduli terhadap peternak,” tandasnya. 
 
 
Ia menyatakan, penting membenahi, mengajari, dan mengonsolidasikan peternak kecil untuk membentuk perusahaan kolektif berjamaah termasuk memfasilitasi dan mendampingi perusahaan kolektif berjamaah itu untuk menjadi lebih profesional. “Guna mewujudkannya diperlukan berbagi peran antara akademisi/peneliti (iptek); birokrat (fasilitas & regulasi); serta investor/pengusaha (modal & jaringan bisnis). 
 
 
Selain itu, kewenangan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota harus jelas dan hierarki. Juga bagi-bagi ternak adalah urusan sosial, bukan urusan profesional. Jadi sebaiknya bantuan ternak ditangani kementerian sosial, bukan Kementerian Pertanian. Kementerian Pertanian tugasnya mencerdaskan petani/peternak/pekebun. 
 
 
Kepala BPMSPH (Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan), Hasan Abdullah Sanyata yang membuka acara peluncuran buku ini berharap buku ini bisa dibaca oleh berbagai kalangan khususnya para peternak agar bisa beternak dengan baik dan berhasil. “Program SPR sudah terbukti mampu menyentuh kebutuhan masyarakat terutama peternak kecil yang berhimpun agar bisa beternak dengan baik,” ujarnya. 
 
 
Sementara itu, Dirjen PKH, I Ketut Diarmita yang sambutannya dibacakan oleh Kasubdit Ruminansia Perah, A. Herdy Sartono mengapresiasi peran Muladno yang telah memberikan kontribusi positif demi pengembangan pembangunan peternakan ke depan. “Banyak hal yang bisa menjadi pelajaran dari buku ini tentang persoalan riil yang dihadapi peternak Indonesia dalam menemukan alternatif solusinya yang penting dan bermanfaat. Upaya beliau yang baik ini semoga senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan dan keselamatan untuk terus mengsumbangsihkan hasil karya nyata demi Indonesia, negeri tercinta,” paparnya. 
 
 
Bedah Buku 
Seiring dengan peluncuran buku ini dilakukan acara bedah buku yang menampilkan pembahas yaitu Suyoto, Bupati Bojonegoro periode 2009 – 2017; Sofyan Sjaf, Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB; Wagiman, Ketua Gugus Perwakilan Pemilik Ternak (GPPT) SPR Musi Banyuasin; serta Bambang Suharno, Penasehat Format (Forum Media Peternakan). Bertindak sebagai Wakil Ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) Rachmat Pambudy.
 
 
Sebelum kepada para pembahas, Rachmat turut berpendapat, setidaknya ada 3 Dirjen yang mempunyai latar belakang akademis atau sebagai akademisi termasuk Muladno. “Prof Mualdno bukan hanya Dirjen yang biasa tapi Dirjen yang luar biasa. Ada yang menarik ketika akan mengambil keputusan, sebagai seorang akademisi Prof Muladno selalu ingin mengembangkan berdasarkan kajian ilmiah,” ujarnya. 
 
 
Dalam paparannya, Suyoto mengenang, ketika menjabat sebagai bupati ia sengaja datang ke IPB untuk ketemu Muladno agar lebih tahu tentang SPR mengingat rakyat Bojonegoro banyak yang miskin. “Saya sebagai bupati berpikir ternak adalah solusi mengatasi kemiskinan di Bojonegoro. SPR bukan pendekatan yang instan tetapi menekankan pendekatan tentang kesejahteraan peternak. Peternak dituntut untuk belajar, berusaha secara berjamaah, dan mengedepankan keterbukaan,” paparnya.
 
 
Selain itu, SPR menekankan pendekatan kolaborasi yang bisa membuat transparansi dan keterbukaan antara semua pihak seperti teknisi, pengusaha, dan asosiasi. “Dari situ saya tahu urusan di luar kandang lebih rumit dari di dalam kendang,” ucap Suyoto.
 
 
Sofyan turut berpendapat, dari buku ini bisa menunjukkan Muladno sebagai sosok yang menggambarkan adanya tranformasi akademisi menjadi insan kamil. “Ada orang yang sedikit tahu tentang sedikit hal. Tetapi Prof Muladno berada pada proses banyak tahu tentang banyak hal karena sebagai seorang akademisi yang berasal dari ilmu eksakta mau belajar ilmu sosial,” katanya.
 
 
Ia melanjutkan, sebagai orang yang lahir dari kampus, Muladno ketika masuk di birokrasi untuk mengimbangi situasi. “Peran akademisi dan orang yang punya kepakaran seharusnya diberikan tempat untuk membangun serta dipelihara oleh negara. SPR telah membuktikan, memberikan pengetahuan yang lahir dari kesadaran dan tindakan. Ini lah pembangunan yang dilakukan dengan cara pemberdayaan dan kolaboratif seperti SPR,” urai Sofjan. 
 
 
Sedangkan Wagiman mengenang, sebelum mengenal SPR, ia tidak bisa mengubah pola pikirnya dalam beternak sebagai warisan dari nenek moyangnya. Setelah mengenal SPR banyak nilai-nilai yang dikembangkan melalui bisnis secara kolektif yaitu kejujuran, loyalitas terhadap anggota. “Setelah adanya SPR, kami jadi tahu cara memelihara ternak dan hitung-hitungan bisnis yang baik. Terima kasih Prof Muladno yang telah mendidik dan mengayomi kami dengan gigih sehingga setahap demi setahap bisa berbuat lebih baik,” ujarnya. 
 
 
Sementara Bambang menyampaikan, SPR menjadi menarik karena sebagai konsep original yang menggabungkan 4 pihak secara nyata di komunitas peternakan (akademisi, pemerintah, pelaku usaha, peternak). “SPR sudah melekat dan identik dengan sosok Prof Muladno. Dan SPR ini bisa diviralkan dan dikembangkan untuk komoditas yang lain,” tegasnya. TROBOS/yopi
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain