Senin, 1 Juli 2019

Peternak Broiler di Ujung Tanduk

Peternak Broiler di Ujung Tanduk

Foto: nuruddin


Mengurangi populasi ayam yang dipelihara hingga menghentikan usaha menjadi imbas dari harga ayam hidup broiler yang terpuruk secara berkepanjangan. Tidak hanya solusi instan, solusi yang komprehensif sangat dinantikan peternak untuk kelangsungan usahanya
 
 
Anomali harga live bird (ayam hidup) broiler (ayam pedaging) di tingkat peternak pasca Lebaran membuat peternak mau tak mau harus menelan pil pahit atas kerugian yang dialami. Bercermin dari rata-rata harga ayam hidup selama sembilan bulan terakhir, peternak lebih banyak ruginya daripada untungnya. Hal ini merupakan pukulan berat untuk peternak mandiri, sebab yang harusnya pada momen Lebaran mendapatkan untung malah jadi buntung.
 
 
Ketua Pinsar (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat) Indonesia regional Jawa Timur, Kholiq, membeberkan fakta di lapangan bahwa akibat terpuruknya harga broiler sudah banyak peternak yang mengurangi populasi ayamnya. Bahkan ada pula yang mulai tidak melakukan chick-in. “Setahu saya untuk di Malang saja ada lima orang peternak yang sudah tidak chick-in. Sebab modalnya habis sampai menjual tanah, mobil, menjaminkan sertifikat dan lainnya ke bank,” ungkap Kholiq prihatin.
 
 
Wakil Sekretaris Jenderal I Pinsar Indonesia, Muhlis Wahyudi juga menyampaikan fakta bahwa di Bandung Raya, Jawa Barat sudah tiga orang peternak yang telah gulung tikar alias bangkrut pasca Lebaran. Peternak yang mengurangi populasi yaitu sekitar 30 – 50 % dari populasi normal juga banyak. “Sudah banyak peternak mandiri yang nyungsep,” keluh Ketua Umum FKPB (Forum Komunikasi Peternak Bandung) ini.  
 
 
Sekretaris Jenderal GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional), Sugeng Wahyudi, mendapat informasi bahwa di Jawa Tengah sudah ada peternak yang menutup usahanya. “Bila kondisi seperti ini tidak ada perbaikan maka penutupan usaha akan disusul oleh peternak lainnya. Untuk melanjutkan usaha, peternak sangat terbebani dengan berbagai tantangannya sehingga pengurangan populasi sudah otomatis ada, sekadar untuk bertahan. Populasi ayam yang dikurangi sekitar 30 – 40 % dari populasi normal,” urainya.
 
 
Hal ini diamini oleh Ketua Pinsar Indonesia Wilayah Jawa Tengah, Pardjuni yang mengatakan di Jawa Tengah beberapa peternak sudah berhenti melakukan usaha budidaya broiler. Adapula beberapa peternak yang berutang serta menjual aset-aset miliknya demi melanjutkan usahanya ini. “Peternak yang “bertahan” ini sebenarnya sudah bisa dikatakan “mati” (usahanya, red), hanya mereka sedang mengulur waktu dengan mengurangi populasi ayam yang dipelihara,” sesalnya.
 
 
Harga Terpuruk
Jika di rata-rata selama sembilan bulan terakhir peternak broiler mengalami kerugian, karena HPP (harga pokok produksi) juga tinggi yaitu Rp 18.000 – 19.000 per kg. “HPP yang tinggi karena harga jagung mahal, pun harga DOC (ayam umur sehari) selama sembilan bulan terakhir tidak mengikuti hukum pasar. Dan selama 20 tahun bergelut di bidang perayaman, baru kali ini harga ayam hidup terpuruk di momen Lebaran, ungkap Ketua Umum Pinsar Indonesia, Singgih Januratmoko.
 
 
Menurutnya, ketidak-sesuaian dengan hukum pasar yang terjadi di lapangan adalah harga ayam yang rendah, namun harga DOC menjulang tinggi. “Sebab jika DOC dihitung secara jumlah tidaklah over supply (kelebihan pasokan) dan jumlah kandangnya mencukupi. Tetapi over supply dalam arti kebutuhan masyarakat atau konsumsi akan daging ayam,” keluhnya.
 
 
Ia mengungkapkan, selalu memperingatkan pemerintah meskipun tidak secara resmi yaitu melalui pesan Whatsapp sejak November atas kondisi yang terjadi ditingkat peternak. Pinsar Jawa Tengah pun telah menyampaikan kepada Menteri Pertanian jika telah terjadi kelebihan pasokan ayam, namun nyatanya data yang ada tidak sesuai dengan yang ada di lapangan. “Jika dikalkulasi kerugian sejak sembilan bulan belakangan hampir menyentuh triliunan rupiah,” kilah Singgih.
 
 
Sugeng berpendapat, masalah ini sangat memberatkan pelaku usaha akibat hantaman harga ayam hidup yang jauh di bawah HPP. Khususnya, memberatkan pembudidaya broiler FS (final stock) terlebih lagi UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Ironisnya, harga DOC sampai dengan Mei lalu masih relatif tinggi yaitu di atas Rp 6.000 per ekor.
 
 
“Pemerintah mengklaim bahwa DOC over supply. Ini ironis karena tidak mencerminkan hukum pasar. Baru akhir-akhir ini harga DOC turun yaitu dengan posisi tertinggi Rp 4.850 per ekor (19/6) sedangkan sebelumnya Rp 6.000 per ekor,” ungkapnya.
 
 
Dia pun melaporkan bahwa HPP di tingkat peternak per (19/6) yaitu Rp 18.000 – 18.300 per kg. Sedangkan harga ayam hidup dengan berat 1,6 kg di tingkat peternak dijual sebesar Rp 8.000 per kg. “Fenomena ini sudah sangat luar biasa ekstrem yang terasa di seluruh Pulau Jawa,” keluh Sugeng.
 
 
Bagikan Ayam Gratis
Sebagai bentuk keprihatinan dan aksi protes akan harga ayam hidup yang anjlok di tingkat peternak, Apayo (Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta) dan Pinsar Indonesia daerah DIY Yogyakarta membagikan ayam hidup secara gratis sebanyak 6.500 ekor kepada masyarakat pada (26/6). Pun di hari yang sama, aksi bagi-bagi ayam secara gratis ini dilakukan serempak di beberapa daerah di Jawa Tengah yaitu di Solo dan Semarang. 
 
 
“HPP ayam hidup hanya Rp 18.700 per kg dan jika menjadi karkas Rp 30.000 per kg. Sementara di pasaran harga ayam selalu dijual di atas HPP antara Rp 29.000 – 30.000 per kg. Padahal pedagang ayam membeli ke peternak hanya Rp 7.000 – 8.000 per kg ayam hidup, bahkan ada yang minta harga di bawahnya,” keluh Ketua Apayo, Hari Wibowo.
 
 
Hari mengatakan, kondisi ini membuat peternak merugi. Dengan dibagikannya ayam secara gratis ini, supaya masyarakat khususnya di Yogyakarta mengetahui kondisi sebenarnya dari peternak broiler saat ini. Seharusnya masyarakat dapat diuntungkan dengan anjloknya harga ayam hidup ini, namun harga di tingkat konsumen mencapai Rp 29.000 – 30.000 per kg.
 
 
Situasi ini sangat membingungkan dan berdampak negatif bagi peternak. “Peternak harus menanggung kerugian yang sangat besar. Sementara pihak penjual ayam bisa menjual ayam dengan harga tinggi, sehingga mereka mendapat keuntungan yang sangat fantastis,” protes Hari.
 
 
Hari dan beberapa peternak awalnya menganggap hal ini akan berangsur normal. Sayangnya, perkiraan tersebut meleset. Bahkan kondisi harga ayam hidup setiap bulannya semakin merosot di posisi kurang dari Rp 10.000 per kg. 
 
 
Sebelum aksi protes bagi-bagi ayam secara gratis ini dilakukan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengambil langkah sebagai solusi untuk merespon terjunnya harga ayam hidup di tingkat peternak. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag, Tjahya Widayanti, mengeluarkan Surat Edaran No. 158/PDN/SD/6/2019 tertanggal 17 Juni 2019. Surat Edaran tersebut berisikan tentang tindak lanjut hasil rapat koordinasi perunggasan yang diselenggarakan oleh Ditjen PKH Kementan di Surakarta, Jawa Tengah, pada 14 Juni 2019, serta memperhatikan harga live bird di tingkat peternak (farm gate) yang terus menurun, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam Surat Edaran itu disampaikan kepada para pelaku usaha perunggasan, baik perusahaan integrator, peternak mandiri, maupun peternak UMKM, untuk melaksanakan pembagian live bird atau karkas secara gratis menggunakan dana CSR (Corporate Social Responsibility) secara langsung kepada masyarakat. Adapun target masyarakat tersebut antara lain panti asuhan, panti jompo, pondok pesantren, masyarakat miskin, dan pihak-pihak lain yang dipandang layak untuk dibantu khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
 
 
“Kami juga menghimbau agar Arphuin (Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia) untuk bekerja sama dengan pasar retail modern guna membantu menyerap stok live bird dan daging ayam terutama untuk di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur,” himbau Tjahya ketika ditemui di Surakarta, Jawa Tengah.
 
 
DOC Over Supply
Ketidakseimbangan antara supply & demand (pasokan dan permintaan) disinyalir menjadi biang kerok anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak. “Sejak November 2018 seolah-olah harga ayam tidak pernah bisa tinggi, bahkan di bawah HPP. Ini merupakan suatu kejadian yang sangat langka, sebab HPP-nya pun tinggi karena harga bahan bakunya juga tinggi,” terang Ketua Umum GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas), Achmad Dawami.
 
 
“Pertambahan dan/atau pengurangan permintaan ayam di Pulau Jawa luar biasa saat memasuki April, Mei, dan Juni 2019. Adapun harga anjlok di periode Lebaran ini, kemungkinan karena liburnya cukup panjang, peternak yang ketergantungan terhadap pedagang atau pemain ayam yang notabene di Jabodetabek masih belum kembali dari kampung halamannya,” jabarnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 238/Juli 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain