Senin, 1 Juli 2019

Wajah Peternakan Babi di Lampung Selatan

Wajah Peternakan Babi di Lampung Selatan

Foto: datuk


Perlunya bibit babi unggul di Lamsel agar selisih keuntungan yang diperoleh peternak lebih besar dibandingkan membesarkan bibit babi lokal
 
 
Selain sapi dan unggas, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung juga potensial untuk peternakan babi. Pasalnya, di samping ketersediaan pakan yang melimpah dan murah, juga terdapat ceruk pasar yang terbuka lebar yakni Jabodetabek yang aksesnya cukup dekat dari daerah ini.
 
 
Seperti salah satunya Nyoman Dana Puniah, warga Desa Sidowaluyo, Kecamatan  Sidomulyo, yang melihat ‘peluang emas’ tersebut. Pria asal Pulau Dewata ini sudah melakoni beternak babi sejak 10 tahun silam. Awalnya ia membangun kandang babi di samping rumahnya dengan kapasitas 30 ekor dengan mengusahakan penggemukan dengan mendatangkan bibit dari Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung.
 
 
Saat itu bibit berusia enam bulan dibeli seharga Rp 35 ribu/ekor. Lalu dibesarkan selama 3 bulan hingga bobotnya menjadi 80 hingga 90 kg dan dijual dengan harga Rp 40 ribu/kg. Adapun formulasi pakan yang digunakan adalah campuran antara jagung halus dengan dedak dan konsentrat. Untuk menekan biaya pakan, Nyoman menggiling sendiri biji jagung kering, lalu mencampurnya dengan dedak plus konsentrat dengan mesin mixer.
 
 
Dalam perkembangannya, selain  beternak, Nyoman juga melihat ceruk bisnis lainnya yakni penjualan babi ke Jakarta. Biasanya setiap minggu, ia mengirim 2 ton babi ke ibukota tersebut. Pada hari-hari libur dan akhir tahun, volume pengiriman bisa bertambah karena permintaandaging babi di DKI Jakarta meningkat.
 
 
Kandang Terpadu
Untuk mengembangkan usahanya, sejak 2016, Nyoman membangun kandang terpadu pada lahan seluas 1 ha dengan kapasitas seribu ekor. Pada kandang tersebut, selain penggemukan juga dijalankan usaha breeding (pembibitan). Hingga kini Nyoman sudah menghabiskan dana hingga Rp 1 miliar untuk membangun dan melengkapi berbagai fasilitas di kandang tersebut. Untuk populasi babi di kandang ini baru seratusan ekor dan usaha breeding belum dimulai karena masih menunggu modal untuk pengadaan indukan dan sperma unggul dari Australia.
 
 
Di Lampung Selatan, ia menargetkan mampu memproduksi bibit babi unggul seperti di wilayah Solo yang nantinya akan disebarkan ke para peternak babi di Lampung sebagai upaya meningkatkan kualitas bibit babi di daerah ini. Apalagi populasi warga asal Bali di Lampung cukup besar yang tersebar di Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Timur, Tulang Bawang, Way Kanan, Pesisir  Barat dan kabupaten-kabupaten lainnya. Perkiraan Nyoman, populasi warga asal Bali di Lampung mencapai 2 juta jiwa, ketiga terbesar setelah Jawa dan Lampung sendiri.
 
 
Diakui Nyoman, mutu babi Lampung masih di bawah babi dari Kertosuro dan Klaten yang bibit babinya dari Solo. Sebab sperma yang dipakai untuk breeding di Solo diimpor dari Australia yang lebih unggul sehingga harga jual bibit berusia sebulan sudah mencapai Rp 600 ribu/ekor. Jika dibesarkan selama 3 hingga 4 bulan beratnya bisa mencapai 1 kuintal atau 100 kg.
 
 
Menurut Nyoman, keberhasilan beternak babi sangat ditentukan oleh kualitas bibit dan teknis pemeliharaan. Sebagian besar peternak babi di Lampung masih menggunakan bibit ‘kodok’ dari Tugumulyo, Sumsel yang jika dibesarkan beratnya paling tinggi hanya 25 hingga 30 kg dan hanya bisa dimanfaatkan untuk upacara-upacara adat dan tidak laku jika dikirim ke Jakarta.
 
 
Ia menerangkan warga asal Bali di Lampung belum terdidik dalam beternak babi yang baik dan benar, terutama soal pemeliharaan dan kebersihan kandang dan air serta kecukupan pasokan air minum. “Kecukupan dan kebersihan air sangat menentukan kesehatan babi dan percepatan pertumbuhannya,” ujar Nyoman. Jika mendapat pakan dan air yang cukup maka pertambahan bobot badan harian (Average Daily Gain) babi di bawah 30 kg mencapai 1 kg/hari. ADG tersebut melonjak menjadi 2 kg/hari jika bobotnya sudah di atas 30 kg. “Jadi ini patokannya dalam teknis budidaya babi dengan bibit babi unggul,” jelasnya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 238/Juli 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain