Sabtu, 6 Juli 2019

Ekspor Produk Peternakan Didominasi Obat Hewan

Ekspor Produk Peternakan Didominasi Obat Hewan

Foto: dok.TrobosLivestock


Surabaya (TROBOSLIVESTOCK.COM). Obat Hewan mendominasi mata dagang ekspor produk peternakan dan kesehatan hewan, senilai Rp 23,5 triliun dari total ekspor Rp 32,9 triliun.

 

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita melalui keterangan tertulis (5/7) menyebutkan, berdasarkan data realisasi rekomendasi ekspor Ditjen PKH pada 4.5 tahun terakhir, (2015 sampai dengan 2019 semester I), kontribusi ekspor terbesar pada kelompok obat hewan sebesar Rp 23,5 triliun, dengan tujuan negara Belgia, USA, Mesir, Jepang, Australia dan 88 negara tujuan lainnya.

 

Ekspor babi ke Singapura sebesar Rp 3.04 triliun. Produk susu dan olahannya menghasilkan sebesar Rp 3.07 triliun untuk pasar ekspor Malaysia, Filipina, Australia, PNG, Vietnam dan 26 negara lainnya. Kelompok pakan ternak asal tumbuhan menyumbang Rp 3.34 triliun masuk ke 16 negara.

 

Produk hewan non pangan, telur ayam tetas, daging dan produk olahannya, pakan ternak, kambing/domba, Day Old Chicken (DOC), dan semen beku juga menyumbang devisa cukup besar.

 

Ekspose Produk Ekspor

Pavilliun Livestock Export pada Indo Livestock 2019 menjadi etalase promosi bagi produk-produk peternakan yang telah diekspor ke berbagai negara. Para pelaku usaha tersebut berkesempatan menampilkan produk dan berbagai informasinya di Pavilliun tersebut untuk menarik calon partner bisnis yang berkunjung selama event berlangsung baik dari dalam maupun luar negeri.

 

Pavilliun Export diisi oleh BBIB Singosari dan BIB Lembang yang telah melakukan ekspor semen beku ke Malaysia, Madagaskar, Kyrgyztan, dan Timor Leste. Juga PT Santosa Agrindo (Santori) yang telah melakukan ekspor daging wagyu dengan brand ‘Tokusen’ ke Myanmar. Tak ketinggalan PT Charoen Phokpand Indonesia dan PT Japfa Comfeed Indonesia.

 

Benyamin Limi, Regional Head CPI Jawa Timur menuturkan, perjalanan menuju ekspor perdana produk olahan ayam ke Jepang pada 2018 bukanlah hal yang mudah. Apalagi Jepang terkenal di dunia sangat ketat dalam seleksi makanannya ke negaranya.

 

Sejak 2014, Jepang telah mengirimkan delegasinya dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (MAFF) untuk secara berkelanjutan melakukan penilaian kepada unit usaha pengolahan makanan PT CPI. Hingga akhirnya April 2018 dilakukan ekspor perdana ke Jepang. "Kalau produk kita sudah masuk ke Jepang, sudah pasti kita akan mudah masuk ke negara-negera lain" ujarnya

 

Ia menyebutkan kualitasnya yang tinggi, dan penerapan sistem manajemen serta bio sekuriti harus sesuai dengan standar internasional. Menurut Benyamin Limi, selain pernah melepas ekspor produk-produk olahan berbasis ayam, pihaknya juga mengekspor pakan ternak. 

 

"Kualitas pakan ternak yang diproduksi CPIN telah diakui oleh negara lain sehingga layak untuk terus ditingkatkan" pungkasnya.

 

Pusat Veteriner Farma (PUSVETMA) juga memperkenalkan produk vaksin dan bahan diagnosa (antigen, kit elisa dan antisera) kepada stakeholder Peternakan. Beberapa produk unggulan Pusvetma yang dipromosikan yakni Antravet (vaksin Anthrax), Septivet (Vaksin Septichaemia epizootica), Neo Rabivet (Vaksin Rabies), JD Vet (Vaksin Jembrana), Brucivet (Vaksin Brucella), Afluvet (Vaksin AI), Antigen Brucella RBT, Antigen untuk penyakit unggas (AI/ND/Salmonela Pullorum/Mycoplasma), Kit Elisa Rabies serta Kit Elisa Jembrana.

 

Saat ini vaksin Septivet untuk penyakit SE dan Brucivet untuk penyakit Brucella sudah di ekspor ke Timor Leste. Kedepan Pusvetma berupaya untuk dapat mengekspor produknya ke negara mitra asia lainnya. Kesiapan Pusvetma menawarkan produknya ke pasar ekspor tersebut, didasarkan kualitas produk yang dihasilkan telah melalui proses produksi yang memenuhi standard dan jaminan mutu produk yang dihasilkan. ist/ramdan

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain