Rabu, 10 Juli 2019

Segudang Keunggulan Vaksin AI Rekombinan

Segudang Keunggulan Vaksin AI Rekombinan

Foto: dok.ntr


Yogyakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Vaksin avian influenza (AI) rekombinan sebagai buah kemajuan teknologi vaksin kekinian, memiliki segudang keunggulan yang tak dimiliki teknologi vaksin sebelumnya.

 

“Penggunaan vaksin rekombinan dipercaya lebih aman karena tidak menggunakan virion Al utuh. Dengan backbone virus mareks, vaksin rekombinan dapat diberikan in ovo atau pada saat DOC, sehingga dapat digunakan pada ayam broiler yang memiliki siklus produksi pendek,” tutur Prof Michael Haryadi Wibowo pada pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah mada di Balai Senat UGM, Selasa (9/7).

 

Keuntungan lain penggunaan vaksin rekombinan, dijelaskan Haryadi, adalah dapat menginduksi tidak hanya kekebalan humoral sebagaimana umumnya vaksin, namun juga menumbuhkan kekebalan seluler, termasuk perangkat imunitas terhadap virus, yaitu CD4+ dan CD8+.

 

Di samping itu, lanjut dia, dengan teknologi rekombinan Al memungkinkan dapat diterapkan strategi differenciated from vaccinated (DIVA) animal, yaitu metode untuk mengetahui unggas yang divaksin menginduksi antibodi HA tetapi tidak ditemukan antibodi protein NP atau M. ”Menurut hemat saya, kita tidak boleh terlalu alergi dengan teknologi maju yang sudah banyak digunakan dan terbukti memberikan keuntungan komprehensif bagi industri perunggasan. Penting diperhatikan adalah prinsip kehati-hatian tanpa harus melanggar perundangan di Indonesia,” ungkap Haryadi.

 

Dia menyatakan, vaksin rekombinan mampu menjadi jawaban vaksin AI inaktif ber-adjuvant minyak. Pada 2013, secara ilmiah dilaporkan penggunaan vaksin inaktif virus utuh di negara endemis dapat mengalami kegagalan vaksinasi. Kegagalan vaksin tersebut disebabkan oleh kuantitas antigen yang tidak memadai dan ketidakcocokan antara seed vaksin dan virus yang bersirkulasi di lapangan. Kegagalan vaksinasi diakibatkan oleh kesalahan teknis vaksinasi dan penanganan vaksin. Beberapa hal tersebut membuat vaksinasi gagal menginduksi kekebalan yang diharapkan.

 

AI Masih Mengancam

Pada pidatonya, Haryadi melontarkan pertanyaan retoris, mengapa penyakit Al masih.muncul di industri perunggasan sampai saat ini?

 

“Menurut hemat saya, ada yang terlupakan di lapangan, yaitu bahwa praktik biosekuriti mulai kendur dilaksanakan. Pada tingkat operasional di lapangan banyak dijumpai kotak telur dan keranjang ayam broiler yang keluar masuk farm tanpa perlakuan desinfeksi secara memadai. Pekerja farm, lalulintas sarana produksi, kolektor telur, afkir unggas, dan tamu farm berpeluang besar dalam penularan Al,” ungkap dia prihatin.

 

Padahal, dia menegaskan, sejumlah prosedur pengamanan diperlukan untuk membatasi kontak agen penyebab penyakit dengan unggas di farm. Sanitasi dan desinfeksi mempunyai peran penting menurunkan populasi virus Al di farm karena dapat merusak amplop virus tersebut. Akibatnya, reseptor HA yang menempel pada amplop virus menjadi rusak dan tidak fungsional sehingga proses infeksi menjadi gagal. 

 

”Faktor lain yang tidak kalah penting adalah lalu lintas unggas yang sejauh ini belum dapat sepenuhnya dikendalikan. Transportasi unggas dari farm ke pasar unggas hidup dan depopenjualan ayam hidup yang berasal dari berbagai lokasi, umur, dan spesies unggas memungkinkan terjadi penularan dan propagasi virus Al,” paparnya. 

 

Mata rantai lalu lintas tersebut perlu mendapatkan penanganan tersendiri untuk mengurangi resiko penularan persistensi dan infeksi virus Al. “Prinsip penting bahwa hanya ayam sehat dan tidak membawa virus Al saja yang boleh ditransportasi keluar daerah, merupakan hal mendasar dalam mencegah penyebaran virus Al,” Haryadi menandaskan.

 

Penanggulangan AI, Multidimensi

Secara khusus Haryadi menggarisbawahi, upaya penanggulangan dan pengendalian penyakit unggas, terlebih AI H5-H9, tidak bisa mengandalkan satu cara saja. “Harus bersinergi dengan berbagai faktor pengendalian sebagaimana digariskan oleh pemerintah, disertai komitmen yang kuat oleh pelaku usaha perunggasan,” ujarnya.

Selain biosekuriti, dia menyebutkan evaluasi tata kelola peternakan secara menyeluruh pun perlu dilakukan. Antara lain: aplikasi konsep early feeding, kualitas pakan dan minum, ventilasi, dan kelembaban farm.

 

“Penumpukan kotoran basah di farm menyebabkan tingginya amonia di kandang sehingga akan mengiritasi saluran pernapasan yang dapat merusak silia pertahanan di saluran pernapasan unggas,” tutur dia. Kondisi tersebut mempermudah patogen respirasi, virus (AIV-H5, AIV-H9, IBV, virus New Castle Disease, dan virus ILT) dan bakteri E coli (avian pathogenic Escherichia coli / APEC). Mikoplasma dapat dengan mudah menginfeksi sel saluran respirasi. 

 

Haryadi juga menyinggung kompleksitas pencegahan dan penanganan AI dengan berbagai kasus penyakit imunosupresi (penyakit yang menekan sistem kekebalan tubuh ayam) yang banyak dilaporkan di lapangan, antara lain kasus IBH dan IBD, penyakitparasit (koksidia dan cacing), nekrotik enteritis, serta mikotoksikosis.

 

“Mikotoksin dan penyakit imunosupresif tersebut dapat menghambat perkembangan imunitas yang ditimbulkan oleh vaksinasi sehingga menjadi faktor utama pemicu berbagai masalahkesehatan unggas,” dia menjelaskan.

 

Terlebih, pada era pakan tanpa antibiotic growth promotor (AGP), strategi utama pencegahan penyakit ditujukan untuk menjaga milieu intestinal pada kondisi seimbang, meningkatkan integritas fight junction sel epitel mukosa saluran pencernaan dan mencegah kebocoran mukosa oleh berbagai sebab, serta meningkatkan tata laksana pemeliharaan unggas.

 

“Untuk itu, peternak dituntut mampu mengidentifikasi, menangani, dan menghilangkan faktor pendukung penyakit-penyakit tersebut, termasuk berbagai faktor stres dan reservoir yang bersirkulasi di lingkungan kandang,” tandas Haryadi. ntr

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain