Kamis, 1 Agustus 2019

Jeli Menyeleksi Ternak Unggul

Jeli Menyeleksi Ternak Unggul

Foto: istimewa


Sangat penting memastikan persyaratan dan karakteristik dari ternak yang dikonteskan untuk meraih kategori unggulan. Bibit yang berkualitas menjadi modal dalam perbaikan mutu genetik ternak sebagai bibit pengganti yang dapat diandalkan
 
 
Guna meningkatkan kualitas bibit ternak dan daya saing daerah, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat menggelar Kontes Ternak (7-8/7) dan Ketangkasan Domba Garut (6-7/7) di Lapangan Burangrang Cisarua KBB. Kegiatan kali ini sebagai upaya KBB yang AKUR yaitu Aspiratif, Kreatif, Unggul dan Religius. 
 
 
Adapun komoditas ternak yang dikonteskan antara lain sapi perah dengan kategori umur 7 – 9 bulan,  10 – 11 bulan, 12 – 13 bulan, dan sapi perah laktasi ke-2. Kemudian, sapi potong PO (peranakan ongol) jantan umur 24 – 36 bulan, PO betina umur 18 – 24 bulan, dan penggemukan jantan potensial. Selanjutnya yaitu domba garut dengan kategori ratu bibit (ganti gigi 1 – 2 pasang), raja pedaging (ganti gigi maksimum 2 pasang), petet jantan (ganti gigi maksimum 1 pasang), raja kasep calon pejantan, serta domba garut penggemukan. Adapula kambing PE (peranakan etawa) dengan kategori jantan (ganti gigi 1 – 2 pasang), ratu bibit (ganti gigi 1 – 2 pasang), petet jantan (ganti gigi maksimum 1 pasang) dan petet betina (ganti gigi maksimum 1 pasang), serta komoditas ayam pelung.
 
 
Proses Penilaian Kontes 
Pada kategori sapi potong PO jantan, ciri-ciri yang baik diantaranya warna tubuh putih sampai abu-abu, ujung ekor dan bulu sekitar mata berwarna hitam. Kemudian badannya besar, gelambir panjang menggantung dari leher sampai belakang kaki depan, memiliki tanduk serta telinga berukuran kecil dan tegak ke samping. Untuk kategori sapi potong PO betina, ciri-ciri yang baik hampir sama, namun yang membedakan yaitu persyaratan minimum kuantitatifnya.
 
 
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Dwi Cipto Budinuryanto, selaku tim juri mengatakan, terdapat dua hal yang menjadi persyaratan utama yaitu kualitatif dan kuantitatif. Persyaratan kualitatif dilihat melalui sifat-sifat sapi PO-nya, sedangkan persyaratan kuantitatif terdiri dari umur, tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada. “Untuk kategori sapi potong PO jantan, dari lima ekor sapi yang dikonteskan hanya satu ekor yang memenuhi persyaratan SNI yaitu 12 – 36 bulan,” sesal Dwi saat menilai sapi yang dikonteskan.
 
 
Ia menilai, masih banyak peternak yang tidak mengindahkan persyaratan yang telah ditentukan yaitu khusus sapi potong PO jantan. Sebab masih ditemui beberapa sapi hasil persilangan antara PO dengan Brahman. Hal ini dapat dilihat dari bentuk telinganya yang jatuh ke bawah, sementara telinga sapi PO berukuran kecil dan tegak ke samping. Warna mata sapi PO berwarna hitam, begitu pula dengan warna ekornya. Ciri-ciri lainnya yang menggambarkan sapi PO yaitu bergelambir sampai di bagian bawah dari kaki depan. “Sebelum mengikuti kontes, peternak harus memastikan sapi yang dibawa sesuai dengan persyaratannya, baik dari segi umur maupun karakteristiknya sebagai sapi PO,” himbau Dwi.
 
 
Hal lain yang perlu diperhatikan pada sapi potong PO jantan, lanjut Dwi, yaitu skrotum kemudian testis yang menggantung ke belakang. Menurut SNI (Standar Nasional Indonesia) Nomor 7651 Tahun 2015, lingkarnya 26 cm ke atas dan berbentuk simetris. Sedangkan untuk betina umurnya 18 – 24 bulan dengan karakteristik yang sama dengan pejantan, baik dari mata hingga gelambir.
 
 
Tim juri kontes wakil dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternak Jawa Barat, Wito Prawigit menambahkan, ukuran panjang tubuh sapi yang tidak lebih dari ukuran tingginya, dapat disimpulkan performanya kurang proporsional. “Terdapat kelas-kelas yang dibedakan berdasarkan tinggi tubuh sapi, misalnya 113 cm, 116 cm, atau 119 cm. Ketika umur sapi 18 – 24 bulan tingginya 119 cm, maka sapi termasuk kelas satu, sedangkan jika di bawah itu, misalnya tingginya 116 cm termasuk kelas dua, serta tinggi 113 cm termasuk kelas 3,” jelasnya.
 
 
Sementara itu, pada penilaian kontes komoditas domba garut dengan kategori ratu bibit, raja pedaging, petet jantan, raja kasep calon pejantan, dan untuk pedaging domba garut penggemukan mengacu pada SNI Domba Garut Tahun 2015. Sebagai contoh, umur yang baik untuk domba pedaging yaitu 18 – 24 bulan dengan minimum bobot badan 31 kg.
 
 
Juri kontes domba dari Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, An An Nurmeidiansyah menjelaskan, untuk kategori ratu bibit diutamakan yang membawa anak. Umumnya akan dilakukan pertimbangan lain sebab untuk kategori ratu bibit ada dua kriteria khusus yaitu kesehatan yang meliputi mata, teling, kulit, bulu, kuku, anus, serta alat reproduksi. Yang kedua yaitu kebersihan tubuh, bulu, keserasian tanduk dan bentuh tubuh. Sedangkan pada penilaian komoditas petet pejantan kriterianya sama dengan bibit dan raja pejantan yaitu kesehatan dan adeg-adeg, yang meliputi raut muka, bulu, tanduk, leher, badan, kaki dan alat reproduksi.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 239/Agustus 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain