Kamis, 1 Agustus 2019

Upaya Pengendalian AI Terkini

Upaya Pengendalian AI Terkini

Foto: trobos


Prinsip penting bahwa hanya ayam sehat dan tidak membawa virus Al saja yang boleh ditransportasi keluar daerah, merupakan hal mendasar dalam mencegah penyebaran virus Al
 
 
Avian influenza (AI) adalah penyakit viral yang masih menjadi perhatian stakeholder perunggasan di tanah air. Sifatnya yang mudah menular dan zoonosis, serta bermutasi membuat penyakit ini harus dikendalikan penyebarannya secara optimal.
 
 
Data Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menunjukkan, pada tahun-tahun sebelum 2010 kejadian AI pada unggas dilaporkan di atas 1.000 kejadian per tahun, lalu menurun di kisaran 300 – 500 kejadian hingga 2014, dan hingga 2018 rata-rata di bawah 200 kejadian per tahun. Sejak 2012 hanya 3 clade H5 yang masih terdeteksi (clade 2.3.2.1c, 2.1.3.2a, 2.1.3.2b). Virus H5N1 clade 2.3.2.1c lebih dominan bersirkulasi di Indonesia saat ini. Virus H9N2 masih dideteksi di beberapa wilayah Indonesia. “Kecenderungan penurunan kejadian AI ini tentu menggembirakan kita. Namun demikian kita tidak dapat lengah mengingat sifat virus AI yang dinamis serta risiko masuknya virus AI subtipe eksotik tidak dapat diabaikan. Kerjasama semua pemangku kepentingan merupakan suatu keharusan dalam mencegah, mendeteksi, dan mengendalikan AI,” ajak Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Fadjar Sumping Tjatur Rasa kepada TROBOS Livestock. 
 
 
AI telah ditetapkan sebagai Penyakit Hewan Menular Strategis sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 4026/Kpts/OT.140/4/2013. Menurut Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 juncto Undang-undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, pemerintah pusat dan daerah sesuai kewenangannya melakukan pengamanan terhadap penyakit hewan menular strategis, dan “setiap orang yang memelihara dan/atau mengusahakan hewan wajib melakukan pengamanan terhadap penyakit hewan menular strategis”. Pengamanan tersebut antara lain meliputi penerapan biosekuriti, pengebalan hewan, serta pengawasan lalu lintas hewan dan produk hewan.
 
 
Kementerian Pertanian mempromosikan biosekuriti dalam rangka membangun ketahanan usaha peternakan terhadap ancaman berbagai penyakit. Kementerian Pertanian telah mengembangkan model “Biosekuriti 3 Zona” yang efektif dan hemat biaya bagi peternak komersial skala kecil, termasuk membina peternakan percontohan dan melakukan edukasi peternak. Penilaian biosekuriti diterapkan pula pada Sertifikasi Kompartemen Bebas AI. “Tak kalah pentingnya adalah program biosekuriti di rantai pemasaran unggas hidup (live bird market),” cetus Fadjar.
 
 
Ia  menyatakan, Kementerian Pertanian menjamin kualitas vaksin AI H5N1, H9N2 dan kombinasi kedua vaksin tersebut melalui mekanisme registrasi dan pengawasan peredaran obat hewan. Pemerintah juga melaksanakan jejaring Influenza Virus Monitoring (IVM) untuk memonitor dinamika virus AI yang bersirkulasi. IVM digunakan untuk memetakan karakter virus AI sehingga strain tantang yang digunakan untuk pengujian dan sertifikasi mutu vaksin AI tetap mutakhir. IVM juga merekomendasikan seed vaksin termutakhir. Kementerian Pertanian mempromosikan vaksinasi 3 Tepat (tepat vaksin, tepat jadwal, dan tepat teknik vaksinasi).
 
 
Selain itu, lanjut Fadjar, sertifikasi kompartemen bebas AI menjamin pengadaan (restocking) DOC (ayam umur sehari) pada peternakan unggas komersial dipasok dari peternakan pembibit bersertifikat kompartemen bebas AI. Pengendalian importasi unggas dan produk unggas dilakukan untuk mencegah masuknya virus AI subtipe eksotik, serta pengawasan lalu lintas unggas dan produk unggas di dalam wilayah NKRI dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit antar wilayah. “IVM juga bertujuan untuk deteksi dini virus AI pada hewan subtipe atau strain eksotik (HxNx),” tegas Fadjar.
 
 
Teknologi Vaksin Terkini
Vaksin AI rekombinan sebagai buah kemajuan teknologi vaksin kekinian, memiliki segudang keunggulan yang tak dimiliki teknologi vaksin sebelumnya. “Penggunaan vaksin rekombinan dipercaya lebih aman karena tidak menggunakan virion Al utuh. Dengan backbone virus mareks, vaksin rekombinan dapat diberikan in ovo atau pada saat DOC (ayam umur sehari), sehingga dapat digunakan pada broiler yang memiliki siklus produksi pendek,” ungkap Prof Michael Haryadi Wibowo pada pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, di Balai Senat UGM, Selasa (9/7).
 
 
Vaksin rekombinan dapat menutupi kelemahan penggunaan vaksin inaktif adjuvant minyak pada broiler (ayam pedaging) yang terkendala oleh siklus produksi yang pendek. “Saya perkirakan hanya 15 – 20 % total populasi broiler di Indonesia yang divaksin Al sehingga memberikan peluang individu peka terhadap infeksi virus AI sebanyak 80 – 85 %,” paparnya.
 
 
Keuntungan lain penggunaan vaksin rekombinan, dijelaskan Michael, adalah dapat menginduksi tidak hanya kekebalan humoral sebagaimana umumnya vaksin, namun juga menumbuhkan kekebalan seluler, termasuk perangkat imunitas terhadap virus, yaitu, CD4+ dan CD8+. Di samping itu, lanjut dia, dengan teknologi rekombinan Al memungkinkan dapat diterapkan strategi differenciated from vaccinated (DIVA) animal, yaitu metode untuk mengetahui unggas yang divaksin menginduksi antibodi HA tetapi tidak ditemukan antibodi protein NP atau M.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 239/Agustus 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain