Kamis, 1 Agustus 2019

Monitoring Sirkulasi AI dengan Tes DIVA

Monitoring Sirkulasi AI dengan Tes DIVA

Foto: 


BBlitvet menciptakan tes DIVA AI berbentuk Elisa yang sangat bermanfaat sebagai alat surveillance untuk memonitor sirkulasi virus AI (baik H5N1 ataupun H9N2) pada peternakan ayam yang menerapkan program vaksinasi
 
 
Penyakit Avian Influenza (AI) masih menjadi momok yang cukup menakutkan bagi peternak unggas di Indonesia. Selain mengakibatkan mortalitas tinggi, penurunan produktivitas pun tidak dapat terelakkan. Oleh itu untuk mencegahnya salah satunya dilakukan dengan vaksinasi. 
 
 
Hanya menurut Dr Simson Tarigan, peneliti utama di Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementan sejak awal penerapan vaksinasi H5N1 di Indonesia, kekhawatiran muncul terhadap tidak terpantaunya penyakit AI pada peternakan ayam yang menerapkan program vaksinasi. Seperti diketahui, vaksinasi pada AI biasanya hanya melindungi ayam dari penyakit klinis tetapi tidak dapat melindungi ayam dari infeksi. Infeksi virus AI pada ayam yang sudah divaksin biasanya menimbulkan gejala klinis yang ringan atau bahkan tidak memperlihatkan gejala klinis atau subklinis sehingga keberadaan infeksi tidak disadari. 
 
 
“Oleh karena itu, untuk mengetahui kondisi apakah ayam tersebut terkena infeksi atau tidak BBlitvet menciptakan Kit Tes DIVA AI BBlitvet yaitu kit Tes DIVA (Differentiating Infected from Vaccinated Animal) dalam bentuk Elisa untuk Avian Influenza,” ungkapnya. 
 
 
Tes DIVA 
Pria yang akrab disapa Tarigan menjelaskan tes Diva awalnya digunakan dalam perdagangan, seperti yang diaplikasikan di Italia pada 2000 saat virus subtipe H7N1 mewabah pada kalkun. Wabah demikian meluas sehingga penanggulangannya tidak dapat lagi dilakukan dengan cara stamping out seperti sebelumnya, tetapi harus dengan vaksinasi. Salah satu persoalan utama yang muncul setelah wabah teratasi dengan kebijakan vaksinasi ini adalah meyakinkan negara importir bahwa seropositivitas kalkun yang diimpor tersebut adalah akibat vaksinasi bukan akibat infeksi. “Untuk meyakinkan negara importir, diciptakanlah sebuah tes DIVA yakni tes serologis yang bisa membedakan seropositivitas akibat infeksi atau vaksinasi,” jelasnya. 
 
 
Lanjutnya, terinspirasi keberhasilan tes DIVA di Italia, Indonesia berencana menerapkan metode yang sama. Vaksin H5N1 diganti dengan vaksin H5N2 sehingga kejadian infeksi pada peternakan ayam yang menerapkan vaksinasi dapat dimonitor dengan tes DIVA berbasis antibodi N1. Akan tetapi sistem DIVA ini tidak terlaksana karena salah satu prasyarat sistem DIVA, yakni penggunaan vaksin heterologus H5N2 tidak dapat dilaksanakan, kemungkinan karena peternak tidak yakin dengan keefektifannya. 
 
 
Selain neuraminidase heterologous, sistim DIVA pada AI yang telah diperkenalkan, antara lain: DIVA berbasis vaksin sub unit hemagglutinin, penempatan ayam senti¬nel yang peka AI dalam peternakan yang menerapkan vaksinasi, tes DIVA berbasis non-structural protein 1 (NS1) dan tes DIVA berbasis ectodomain protein M2 (M2e). DIVA berbasis vaksin subunit hemagglutinin tidak dapat diterapkan karena vaksin subunit yang memenuhi syarat belum tersedia, juga DIVA dengan penempatan sentinel ayam AI dalam peternakan yang menerapkan vaksinasi juga tidak dapat diterapkan karena resiko penyebaran penyakit. “Pada awalnya kami membuat tes DIVA berbasis NS1 akan tetapi hasilnya tidak memuaskan karena spesifitasnya rendah sehingga beralih mengembangkan tes DIVA berbasis M2e,” paparnya. 
 
 
Tarigan menyebutkan protein M2 terdapat didalam sitoplasma dan membran sel yang terinfeksi virus AI kecuali bagian ujung amino sepanjang 23 asam amino yang menyembul pada permukaan. Protein M2 diekspresikan dalam jumlah banyak pada sel terinfeksi sehingga hewan yang terinfeksi membentuk antibodi M2e. Akan tetapi, jumlah protein M2 yang dipacking dalam partikel virus sangat sedikit, hanya sekitar 5 % dari hemagglutin, sehingga hewan yang diimunisasi dengan virus inaktif tidak membentuk antibodi M2e. “Oleh karena itu, antibodi M2e dapat dipakai sebagai penanda hewan yang terinfeksi virus influenza. Berbeda dengan antibodi NS1, antibodi M2e tidak ditemukan pada ayam yang telah divaksin berkali kali,” jelasnya. 
 
 
Lulus Pengujian 
Kit DIVA AI produk BBlitvet, diutarakan Tarigan telah mengalami pengujian yang sangat intensif oleh suatu tim kerjasama yang terdiri dari peneliti BBlitvet, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Australia. Hasil pengujian ini telah dipublikasikan di Avian Pathology 44 (2015), Journal of Virological Methods 249 (2017) dan Plos One Jan (2018). 
 
 
Suatu percobaan dimana 200 DOC (ayam umur sehari) ras petelur dipelihara di kandang percobaan dan setelah berumur 48 hari ayam dibagi menjadi kelompok yang divaksin 1, 2, dan 3 kali. Dua minggu setelah vaksinasi terakhir ayam ditantang dengan virus H5N1. 
 
 
Sampel darah diambil setiap minggu sejak DOC sampai 7 minggu setelah ditantang. Percobaan ini menyediakan sampel serum dari ayam dengan berbagai status immunitas untuk pengujian tes DIVA M2e. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa antibodi M2e terbentuk 1 minggu dan bertahan sampai sekurang kurangnya sampai 7 minggu pasca infeksi. Antibody M2e sama sekali tidak terdeteksi pada ayam yang divaksin, sekalipun telah divaksin 3 kali. “Hasil penelitian ini menunjuk¬kan bahwa spesifitas tes DIVA M2e mencapai 100 %,” tegasnya.
 
 
Sambungnya, selain itu hasil percobaan juga dikukuhkan oleh studi surveillance yang dilakukan pada 20 peternakan ayam petelur komersial di Provinsi Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampel ayam pada peternakan tersebut diamati dari saat ayam belum bertelur sampai menjelang afkir (umur 68 minggu). Sampel ayam pada tiap peternakan diberi label, dan setiap 10 minggu sejak umur 18 minggu sampai 68 minggu diamati sampel darah, swab orofarings dan kloaka. “Sampel swab digunakan untuk deteksi virus H5N1 dengan isolasi virus dan PCR, sedangkan sampel darah/serum digunakan untuk pemeriksaan HI dan DIVA M2e ELISA. Pemeriksaan sampel serum dengan ELISA DIVA M2e menunjukkan hasil yang negatif untuk semua sampel serum. Tes DIVA yang negative selaras dengan semua hasil tes lain yang menyatakan ’tidak ada infeksi,” jelas Tarigan. 
 
 
Untuk setiap kit tes DIVA AI BBlitvet diutarakan Tarigan di packing dalam kotak sterofoam yang mengandung semua reagen yang diperlukan; antara lain M2e-coated 96-well plates, serum kontrol positif dan negatif, bahan kimia untuk pengencer serum dan pencuci plate, HRP-anti chicken conjugate, substrate dan chromogenic/ ABTS dan pelarut, double-distilled H2O, CD berisi protokol dan templete untuk analisis hasil. 
 
 
Tes setelah dibuat dalam bentuk kit mendapat tanggapan yang positif tercermin saat sosialisasi tahun lalu di BVET Subang. Tes sangat praktis, hasil tes yang positif dan negatif sangat jelas dan templete yang disediakan sangat memudahkan dalam analisis dan pelaporan hasil. “Mereka meyakini bahwa tes DIVA tersebut sangat bermanfaat sebagai alat surveillance untuk memonitor sirkulasi virus AI (baik H5N1 ataupun H9N2) pada peternakan ayam yang menerapkan program vaksinasi,” jelasnya. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain