Sabtu, 10 Agustus 2019

Penjualan Hewan Kurban Lesu, Pedagang Lampung Mengeluh

Penjualan Hewan Kurban Lesu, Pedagang Lampung Mengeluh

Foto: dok.datuk_lamsel


Lampung Selatan (TROBOSLIVESTOCK.COM). Dua hari menjelang Hari Raya Idul Adha 1430 H, penjualan hewan kurban di Lampung Selatan  masih sepi. Pedagang menduga, kelesuan itu disebabkan oleh menurunnya perekonomian masyarakat.

 

Apalagi jarak waktu antara hari raya Kurban kali ini dengan masa panen petani padi lumayan lama. Di sisi lain harga sejumlah komoditas perkebunan juga sitengarai anjlok.

 

Sumardi, pedagang sapi kurban di desa Purwodadi, kecamatan Tanjungsari, kabupaten Lampung Selatan mengaku, terjadi penurunan omset hingga separuhnya dibandingkan dengan momen Kurban tahun lalu.

 

“Hingga siang ini saya baru menjual enam ekor sapi jantan untuk kurban. Padahal pada Lebaran Haji tahun lalu, seminggu sebelum hari raya sudah terjual 12 ekor sapi,” ujar Sumardi yang juga ketua Kelompok Peternak sapi Sukamaju 2 tersebut, Jumat (9/8) siang.

 

Padahal, sambung Sumardi, harga jual sapi tidak berubah dibandingkan tahun lalu. Harga sapi ukuran sedang masih Rp17 juta/ekor dan yang agak besar Rp20 juta/ekor. Kebanyakan yang membeli sapi darinya para pengurus masjid dari Bandarlampung.

 

Menurut Sumardi, tidak hanya sapi, untuk kambing kurban juga lesu penjualannya. Ia menduga, lesunya penjualan sapi untuk kurban disebabkan oleh merosotnya perekonomian masyarakat setahun terakhir ini.

 

“Kalau di Lampung Selatan ini perekonomian masyarakat ditentukan oleh harga karet dan sawit. Kini kedua komoditas tersebut harganya jatuh. Harga karet masih Rp 6 ribu/kg dan sawit hanya Rp 800/kg,” lanjutnya.

 

Ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Kota Metro Heri Yusmargana yang juga pedagang kambing juga mengaku, penjualan kambing menjelang lebaran haji tahun ini tidak sebaik tahun lalu.

 

“Kalau tahun lalu, seminggu sebelum lebaran sudah banyak masyarakat yang membeli kambing untuk kurban. Tapi sekarang, sudah injury time masih belum begitu ramai,” ungkapnya ketika dihubungi Jumat (9/8) siang. Hingga Jumat siang, Heri  menjualbru berhasil menjual 60-an ekor.  

 

Heri mengakui, ia menjual kambing kurban dengan sistem timbang yakni Rp 75 ribu/kg. Tapi banyak juga pedagang yang menjualnya dengan sistem jogrog, yakni berkisar antara Rp 2juta  hingga Rp3,5 juta/ekor, tergantung ukuran dan kondisi kambing.

 

Soal harga, Heri mengakui, ada kenaikan sekitar 10% hingga 15% perekor. Menurut dia, kenaikan itu wajar karena harga kambing bakalan juga sudah naik lebih dahulu. Bakalan kambing kurban yang dijualnya dia besarkan selama 2 hingga 3 bulan.

 

Menurut Heri, pembeli kambing kurban, umumnya dari Kota Metro sendiri, Lampung Timur, Lampung Tengah dan kota Bandarlampung. Heri menambahkan, penjualan hewan kurban tahun ini tidak seramai tahun lalu. Hal itu merupakan imbas dari merosotnya perekonomian masyarakat.

 

“Terutama di Metro, Lampung Tengah dan Lampung Timur sudah lama usai panen padi. Justru sekarang lagi paceklik, musim kemarau,” akunya.     

 

Sementara untuk kota Bandarlampung, Heri menilai, sepinya penjualan kambing juga akibat margin keuntungan yang diambil pedagang terlalu tinggi sehingga akhirnya masyarakat memilih untuk beli sapi yang sudah dikelola pengurus masjid.

 

“Masak selisih harga jual kambing antara di sini dengan di Bandarlampung berkisar Rp800 ribu hingga sejuta,” tutupnya.datuk

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain