Minggu, 1 September 2019

Industri Pakan Kian Menarik

Industri Pakan Kian Menarik

Foto: trobos


Persaingan di industri yang sebagian besar menyokong industri perunggasan ini semakin ketat. Pelaku usaha yang mengedepankan kualitas dan keunggulan produk akan menjadi daya tarik bagi peternak dan memenangkan persaingan
 
 
Kemajuan industri perunggasan di Indonesia mendorong usaha pendukungnya seperti industri pakan ternak (feedmill) semakin berkembang. Pelaku usaha baru di industri feedmill di tanah air banyak bermunculan baik investasi dari PMA (Penanaman Modal Asing) maupun dari PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri). 
 
 
PT Mulia Harvest Agritech (Mulia Harvest) menjadi salah satu PMA dari Negeri Tirai Bambu yang meramaikan industri feedmill dalam negeri. Berbasis di Grobogan Jawa Tengah, feedmill dengan nama awal Mulia Profeed ini dibangun di 2015. Dengan fokus memproduksi beragam produk unggulannya berupa pakan broiler (ayam pedaging) dan layer (ayam petelur), Mulia Harvest memulai produksi pada Mei 2018.
 
 
President Director PT Mulia Harvest Agritech, Leo Zhang mengurai alasan pihaknya berinvestasi di Indonesia. Ia mengatakan, Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, dan kapasitas konsumsinya terus tumbuh. Dengan peningkatan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan masyarakat akan kualitas hidup semakin tinggi. Permintaan akan daging, susu, dan telur pun semakin meningkat. “Kondisi ini membutuhkan lebih banyak pakan berkualitas tinggi untuk memenuhi permintaan pasar sehingga kami memilih untuk berinvestasi di industri pakan ternak di Indonesia,” jelasnya.
 
 
Adanya peningkatan produksi DOC (ayam umur sehari) setiap tahun, lanjut Zhang, menunjukkan masyarakat Indonesia hidup lebih baik dan permintaan ayam meningkat. Alasan mendasar untuk peningkatan ini adalah permintaan pasar yang tumbuh. “Dengan target pasar di Pulau Jawa, kami memastikan produk pakan kami menggunakan bahan baku berkualitas tinggi; memiliki kontrol kualitas yang ketat; dengan formula tepat, nutrisi seimbang, serta produk pakan berkualitas tinggi. Dengan memakai pakan kami, ayam pedaging mendapat berat badan yang baik, ayam petelur memiliki tingkat produksi telur yang tinggi, dan produksi telur mencapai puncaknya untuk waktu yang lama,” kilahnya.
 
 
Namun, Zhang memberikan catatan bahwa ada lima faktor yang mempengaruhi kinerja produksi sebuah peternakan yaitu jenis DOC, pakan, pencegahan epidemi, manajemen, dan fasilitas. “Di Indonesia, apabila sebuah peternakan dikelola dengan manajemen pemeliharaan yang baik, menggunakan pakan yang baik, kinerja produksi peternakan tersebut tentu akan meningkat secara signifikan,” ujarnya.
 
 
Investasi di industri feedmill juga datang dari Negeri Ginseng. Pada Agustus 2017 PT Farmsco Feed Indonesia (Farmsco) menancapkan awal bisnisnya di tanah air dengan mulai memasarkan beragam produk pakan unggulannya pada Januari 2018. Dengan lokasi feedmill di Serang, Banten, perusahaan yang memiliki slogan “No. 1 Partner, Everyday with Farmsco” ini memproduksi berbagai jenis pakan yaitu pakan broiler seperti Farms Series (Farms-Choi, Farms-Chick, Farms-Bro) dan AB Series (Choi-AB, Chick-AB, BRO-AB); pakan pullet (HI-Pre Starter, HI-Starter, HI-Grower, HI-Pullet, HI-Shell); pakan produksi (Egg-Max, Egg-PR, Egg-Plus dan Egg-Shell +); pakan breeder B-Farms Series (B-Farms Pre Starter, B-Farms-Starter, B-Farms Grower, B-Farms PreLayer, B-Farms Max, B-Farms Pro, dan untuk pejantan B-Farms Male). 
 
 
Menurut Quality Control Manager PT Farmsco Feed Indonesia, Andrisa Lenin, dengan jumlah populasi masyarakat Indonesia hampir 267 juta dan pendapatan per kapita mencapai Rp 56 juta per tahun serta dengan peningkatan pola hidup yang jauh lebih baik sehingga peningkatan konsumsi protein hewani juga bertambah menjadi alasan untuk berinvestasi di Indonesia. Industri pakan ternak mulai menjadi primadona, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. “Modernisasi industri perunggasan menjadikan bisnis ini berpeluang dan menggiurkan. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya, baik manusia maupun alam. Tingginya minat investor merupakan peluang bagi Indonesia untuk  mengembangkan bisnis peternakan dalam negeri. Hal ini juga didukung dengan kemudahan yang diberikan pemerintah Indonesia dalam regulasi penanaman modal di bidang peternakan,” urainya.
 
 
Dengan semakin berkembangnya industri peternakan di Indonesia membuat investor sangat tertarik untuk menanamkan modalnya. “Farmsco memutuskan berinvestasi ke pasar Indonesia untuk berbagi pengalaman, keahlian, serta pengetahuan yang sudah teruji di negara asalnya yaitu perusahaan terintegrasi yang telah berkembang dan terbesar di Korea Selatan bernama Harim Group,” katanya. 
 
 
Andrisa berpromosi, dengan formulasi yang tepat, bahan baku terbaik, proses produksi berteknologi tinggi, serta pengawasan mutu yang ketat menjadi keunggulan produk pakan Farmsco yang dijual ke para peternak Indonesia. “Selama hampir 2 tahun berkiprah di Indonesia, produk kami bisa diterima oleh peternak Indonesia. Dengan slogan "Farmsco is Different" produk pakan Farmsco memiliki ciri khusus dalam mendesain pakan yang sesuai dengan kebutuhan peternak dan didukung oleh strategi pemasaran yang kuat membuat Farmsco bisa diterima dengan baik di mata peternak,” klaimnya. 
 
 
Ia meyakinkan, bagian Research and Development Farmsco mendesain pakan dengan mendasarkan pada kebutuhan dan umur fisiologis ayam sangat mendukung kondisi ternak di Indonesia sehingga menghasilkan performa yang sangat baik. “Bagi Farmsco pelanggan adalah partner. Dengan demikian seorang partner pasti berusaha membantu menyelesaikan permasalahan pelanggannya sehingga mendapatkan benefit yang diinginkan,” katanya. 
 
 
Saat ini penjualan pakan Farmsco sudah meliputi area Sumatera seperti Lampung, Palembang, Jambi dan Jawa seperti Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Pasar Jabodetabek dan Jawa Barat masih mendominasi penjualan produk pakan Farmsco. “Tingkat kepuasan peternak setelah memakai pakan Farmsco menunjukkan tren positif. Hal ini terlihat dari jumlah penjualan pakan yang trennya selalu tumbuh,” ucapnya. 
 
 
Bidik Indonesia Timur
Jika 2 investasi feedmill sebelumnya berbasis di pulau Jawa, Perkasa Group (Perkasa) melalui anak perusahaan bernama PT Sinar Terang Madani justru mendirikan pabrik pakan ternak pertama di Barru, Sulawesi Selatan di 2012. PMDN ini menjadi salah satu produsen pakan ternak berkualitas premium dan DOC dengan menyasar pangsa pasar Sulawesi khususnya di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur.
 
 
President Director PT Sinar Terang Madani, Armandsyah Arifuddin menyatakan Perkasa berkomitmen untuk terlibat dalam semua aspek dari seluruh rantai produksi, mulai dari formulasi pakan, stok perunggasan, hingga produk perunggasan yang bernilai tambah. “Pendekatan ini telah terbukti sangat sukses dalam memastikan keandalan baik pasokan untuk produksi kami maupun kebutuhan industri seiring dengan kualitas produk pakan unggas dan produk perunggasan yang konsisten,” tegasnya. 
 
 
Ia mengatakan, Perkasa ingin berpartisipasi dalam penyediaan protein hewani yang berkualitas dengan harga terjangkau untuk masyarakat Indonesia, berpartisipasi dalam pembangunan industri agrobisnis di Indonesia, serta  berpartisipasi dalam membuka lapangan pekerjaan di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur. “Kami ingin menjadi perusahaan lokal terbaik dan terintegrasi pada industri agrobisnis Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur,” tekadnya. 
 
 
Armand menyampaikan, Sulawesi termasuk Sulawesi Selatan sebagai pintu gerbang Indonesia Timur memperkuat tekad Perkasa untuk terus tumbuh dan berkembang sebagai perusahaan lokal yang memiliki nilai plus dan nilai jual tersendiri dan unik. “Dengan pengalaman yang lama di bisnis pakan ini, kami terus memperkuat basis bisnis agar tampil berbeda dan menarik bagi pelanggan kami,” tegasnya. 
 
 
Bagi President Commissioner Perkasa Group, Audy Joinaldy, Indonesia Timur memiliki potensi dan peluang bisnis yang sangat besar khususnya untuk perunggasan. Faktanya, banyak perusahaan integrasi yang berbasis di Jawa melakukan ekspansi dan membangun feedmill di Sulawesi Selatan. “Sejak awal kami sengaja membangun perusahaan di Sulawesi Selatan mengingat tingkat konsumsi daging ayam masyarakatnya masih rendah dibanding konsumsi ikan. Dengan konsumsi ayam yang masih rendah ini menjadi peluang bisnis yang menjanjikan,” tegasnya. 
 
 
Melalui slogan “We are not The Biggest but The Most Trusted”, Perkasa mengedepankan pentingnya pakan berkualitas untuk para pelanggannya. “Melalui para ahli nutrisi yang dimiliki, kami terus berupaya untuk memproduksi beragam produk pakan yang unggul yang mampu menyasar pasar khusus (niche market). Kami mencoba menciptakan pasar seperti itu dimana perusahaan besar tidak tidak bisa melakukannya dengan gampang,” tambah Armand.
 
 
Audy sependapat, Perkasa fokus untuk menciptakan pasar sendiri untuk beragam produk pakan ternak yang diproduksinya. “Sebagai contoh, ada kebanggaan tersendiri yang biasanya disebut sirri bagi sebagian peternak yang mampu membeli langsung ke pabrik pakan dibanding lewat agen, walaupun jumlah pembelian pakannya sedikit,” ujarnya. 
 
 
Adapun jenis pakan yang diproduksi Perkasa saat ini yaitu pakan broiler, layer, breeder, ayam aduan, ayam lokal, dan babi. Marketing Manager Perkasa Group, Nanang Wirahadi menerangkan, pemasaran untuk produk pakan unggas Perkasa sudah menyebar ke berbagai daerah di Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Ternate, dan Papua. 
 
 
Sementara untuk pemasaran pakan ayam aduan dan ayam lokal ke berbagai daerah di Sulawesi. Sedangkan untuk pakan babi pemasarannya sudah menyebar di Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. “Yang menjadi tantangan kami adalah bagaimana mengatasi biaya ekspedisi yang masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan pengiriman dari Surabaya Jawa Timur padahal jarak dari Makassar lebih dekat ke Papua,” ucapnya. 
 
 
Terus Tumbuh
Indonesia memiliki populasi penduduk sekitar 260 juta dan merupakan negara terbesar keempat di dunia. Ini adalah pasar yang sangat besar untuk telur, susu, dan daging. Seiring pertambahan populasi, permintaan pasar akan terus berkembang, secara tidak langsung, permintaan untuk meningkatkan produksi telur, susu, dan daging adalah pasti, kondisi ini juga semakin mendorong pengembangan industri pakan ternak, khususnya pakan ayam. “Produksi pakan Indonesia dalam lima tahun terakhir telah meningkat dan masih ada potensi pertumbuhan yang lebih besar. Kami berharap industri pakan Indonesia akan berkembang lebih cepat dan lebih sehat,” jelas Zhang. 
 
 
Andrisa menimpali, ekonomi masyarakat Indonesia terus mengalami pertumbuhan setiap tahun. Gaya hidup serta pola kebutuhan pangan juga mengalami peningkatan dan kebutuhan konsumsi protein hewani di Indonesia masih punya ruang untuk terus berkembang sehingga kebutuhan protein hewani, terutama daging ayam, ikut mengiringi. Dengan demikian tentunya berdampak positif pada industri pakan ternak.
 
 
Ketua Umum GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak), Desianto Budi Utomo memprediksi pertumbuhan industri pakan ternak sama seperti tahun lalu walaupun lebih rendah pertumbuhannya dibandingkan 5 tahun lalu. “Yang saya soroti adalah industri ini masih prospektif karena masih banyaknya investasi asing masuk dan mendirikan pabrik pakan di Indonesia. Dari China, Korea, bahkan Eropa. Mereka yang sudah ada melakukan ekspansi dan yang baru pun bermunculan. Belum pernah ada pabrik pakan yang tutup kemudian dikonversi menjadi pabrik lain. Yang ada kepemilikan dan perusahaan induknya yang berubah. Artinya secara industrial, industri pakan ternak ini masih prospektif dan menjanjikan,” urai pria yang akrab disapa Desi ini. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 240/September 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain