Minggu, 1 September 2019

Audy Joinaldy, Membumikan Jiwa Wirausaha

Audy Joinaldy, Membumikan Jiwa Wirausaha

Foto: ramdan
Audy Joinaldy

Upaya berbagi ilmu dan pengalaman kepada generasi muda di kampus terus dilakukan pengusaha muda ini guna mendorong lahirnya pelaku usaha baru di bidang peternakan
 
 
Memiliki pengalaman bekerja di sebuah perusahaan peternakan multinasional dan ditempatkan di wilayah Indonesia Timur tepatnya di Makassar Sulawesi Selatan menjadi sebuah titik balik masa depan bagi pria kelahiran Jakarta, 36 tahun silam ini. Selama 5 tahun menjabat sebagai Asisten Manajer Feed Tech secara tidak langsung Audy membangun banyak jejaring dari berbagai latar belakang.
 
 
Secara khusus, selama bekerja di Makassar, Audy pun banyak mengenal orang, mulai dari pelaku bisnis jagung sampai pelaku kemitraan di bisnis perunggasan, baik broiler (ayam pedaging) ataupun layer (ayam petelur). Hingga pada Maret 2012, ia harus mengundurkan diri karena diminta orang tua untuk membantu mengelola usaha di bidang pertambangan dan perkebunan sawit. 
 
 
“Ketika mitra usaha mengetahui saya mau berhenti bekerja, mereka mengutarakan niat untuk membuat sebuah pabrik pakan (feedmill) yang akan digunakan bagi internal farm-nya, tetapi terkendala dalam menyusun formulasi pakannya. Waktu itu saya menjawab terkait formulasi pakan tidak terlalu sulit dan bisa membantu untuk itu,” kenang Audy kepada TROBOS Livestock.
 
 
Bak gayung bersambut, dengan jiwa wirausaha yang didapatkan dari orangtuanya yang berasal dari Sumatera Barat ini, Audy justru secara total terjun di bisnis peternakan. Bekerjasama dengan mitranya, Audy mendirikan pabrik pakan di bawah bendera Perkasa Group pada Juni 2012. “Bersama tim yang umumnya karyawan dari perusahaan lama membuat sistem di Perkasa Group yang disesuaikan dengan kondisi yang ada,” ungkapnya.
 
 
Berbekal ilmu dan pengalaman saat terjun di bidang breeding (pembibitan), hatchery (penetasan), feedmill dan sebagainya yang didapatkan dari perusahaan sebelumnya, Audy terus mengembangkan bisnis perusahaannya. Setelah satu tahun berdiri, guna menyokong pabrik pakannya, Audy membuat breeding farm (pembibitan) dengan pasokan indukan PS (Parent Stock) dari pulau Jawa.
 
 
Seiring berjalannya waktu Perkasa Group terus berkembang, tidak hanya bisnis di pakan dan breeding farm tetapi mulai membangun hatchery dan kemitraan broiler serta layer. “Sekarang kami sedang mengembangkan peternakan layer komersial dengan target 2 tahun ke depan paling tidak mempunyai populasi 1 juta ekor yang tersebar diberbagai provinsi di Indonesia Timur,” tekadnya.
 
 
Pria yang hobi olahraga lari dan bermain lego ini mengutarakan, pengembangan bisnis di Indonesia Timur menjadi visi dan misi perusahaan yang dicanangkan sejak awal. Indonesia Timur memiliki potensi dan peluang bisnis yang sangat besar khususnya untuk perunggasan. Faktanya, banyak perusahaan integrasi yang berbasis di Jawa melakukan ekspansi dan membangun feedmill di Sulawesi Selatan. “Di wilayah Indonesia Timur konsumsi ayam dan telur masih rendah dibandingkan pulau Jawa atau Sumatera, sehingga peluang bisnis khususnya di perunggasan sangat besar. Belum lagi ada ungkapan dari seorang tokoh nasional bahwa pulau Jawa itu masa lalu, Sumatera masa kini dan Indonesia Timur masa depan,” papar Audy. 
 
 
Bagi President Commissioner Perkasa Group ini, keberadaan Perkasa Group bisa memberikan peluang terbukanya pekerjaan di Indonesia Timur, khususnya Sulawesi Selatan. Juga ingin memberikan kontribusi bagi pengadaan sumber protein hewani yaitu ayam dan telur untuk daerah Indonesia Timur. “Kami fokus menciptakan pasar sendiri untuk beragam produk pakan ternak yang diproduksi. Sebagai contoh, ada kebanggaan tersendiri yang biasanya disebut sirri bagi sebagian peternak di Sulawesi jika mampu membeli langsung ke pabrik pakan dibanding lewat agen, walaupun jumlah pembelian pakannya sedikit,” ujarnya. 
 
 
Arti Penting Pendidikan
Sebagai seorang pengusaha, ternyata lulusan sarjana Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini sangat memperhatikan pendidikan. Buktinya, ia tidak berhenti untuk mengenyam pendidikan serta menambah kapasitas ilmu dan pengetahuannya. Audy pernah mengenyam pendidikan S2 di Wageningen University and Research Centre, Belanda dan di Universitas Hasanuddin, Makassar Sulawesi Selatan. Bahkan baru lulus keprofesian insinyur peternakan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kini, ia sedang mengambil program doktor di IPB. “Saya mempunyai minat tersendiri untuk menuntut ilmu. Apalagi dorongan orang tua yang menginginkan anaknya untuk mendapat pendidikan yang cukup dan baik. Juga dengan menggali ilmu di beberapa perguruan tinggi akan menambah jaringan mulai dari praktisi, akademisi bahkan orang pemerintahan,” jabarnya.
 
 
Ia menekankan, untuk menjadi seorang pengusaha yang tangguh sangat perlu menjaga dan memperluas jejaring. Tidak hanya melalui pendidikan yang sekarang digeluti, tetapi juga melalui aktivitas berorganisasi. Audy pun kini aktif menjadi Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (Hanter) IPB, serta Wakil Ketua Umum Perhimpunan Alumni Pelajar Minang dan Wakil Sekjen di organisasi Saudagar Minang Raya. “Ketika lulus kuliah lalu dipilih menjadi Ketua Hanter IPB  merupakan suatu berkah tersendiri, karena dapat bertemu dengan teman alumni dari berbagai daerah dan beragam profesi,” ucapnya.
 
 
Audy mengenang, mengenyam pendidikan di IPB menjadi beban moral untuk menyelesaikan tugas orang tuanya yang belum tuntas. Pasalnya, Ayah Audy pun sempat mengenyam pendidikan di IPB namun tidak sempat lulus. “Saya lulus sarjana di IPB hanya 7 semester dengan nilai yang sangat baik. Bakat dan minat menjadi pengusaha pun telah muncul sejak kuliah yang ditandai dengan seringnya memanfaatkan teman kuliah dalam mengerjakan tugas,” ungkapnya sambil tersenyum.
 
 
Mendorong Kewirausahaan
Guna berbagi ilmu dan pengalaman sebagai pengusaha di bidang peternakan, pria yang mempunyai moto hidup “semakin banyak memberi, semakin banyak akan di dapat” ini sering melakukan kegiatan dan memberikan kuliah umum di berbagai perguruan tinggi di Indonesia khususnya di Indonesia Timur yang terdapat jurusan atau fakultas peternakan. “Kegiatan ini sebagai upaya untuk mengenalkan kewirausahaan kepada civitas akademika dan secara tidak langsung menguatkan citra Perkasa Group serta Hanter IPB. Selain itu, guna menjaring Sumber Daya Manusia yang berkualitas untuk diberdayakan dalam ekspansi perusahaan ke depan melalui berbagai kerjasama yang dilakukan dengan perguruan tinggi terkait,” papar Audy. 
 
 
Disisi lain, melalui kegiatan yang dilakukan ke berbagai perguruan tinggi ini, ia ingin memberikan semangat kepada para mahasiswa. “Selama ini jurusan peternakan dianggap kurang bergengsi dibandingkan jurusan lain. Padahal menjadi lulusan peternakan merupakan suatu kebanggaan tersendiri, karena bisa membantu mencerdaskan bangsa melalui penyediaan sumber protein hewani,” urainya.
 
 
Saat ini, karyawan yang bekerja di Perkasa Group sangat plural yang berasal dari beragam latar belakang perguruan tinggi dan suku bangsa sehingga menambah nilai dan menguatkan citra sebagai perusahaan lokal. Ia pun menerapkan manajemen kekerabatan melalui pendekatan personal untuk menumbuhkan loyalitas seluruh staf kepada perusahaan. “Kami berhadap keberadaan Perkasa Group dapat berkontribusi untuk mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia, selain membuka banyak lapangan pekerjaan untuk keberkahan semua orang,” tekadnya. 
 
 
Sebagai seorang pengusaha muda yang sibuk, namun ayah dari tiga orang anak ini tidak mengesampingkan perannya sebagai orang tua. Disela kesibukannya mulai dari kuliah, mengelola Perkasa Group, bahkan berkeliling ke berbagai daerah untuk melantik DPD (Dewan Pengurus Daerah) Hanter IPB, Audy selalu menyempatkan liburan bersama keluarga. “Saya berkomitmen dengan keluarga, paling tidak dalam setahun 4 kali liburan,” katanya. TROBOS/ramdan, yopi
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain