Minggu, 1 September 2019

Kecernaan Nutrisi & Penurunan Biaya Protein dalam Pakan

Kecernaan Nutrisi & Penurunan Biaya Protein dalam Pakan

Foto: 
Gambar 2

Penggunaan protease dalam pakan dapat meningkatkan kecernaan nilai nutrisi bahan baku pakan, meningkatkan kesehatan usus, serta memberikan penghematan pada biaya produksi peternakan
 
 
Komponen biaya pakan merupakan hal yang utama dalam produksi peternakan unggas yang dapat mencapai hingga 70 persen dari total biaya produksi. Kelangkaan bahan baku se¬lama beberapa tahun terakhir ini, menyebabkan peningkatan tekanan pada biaya pakan. 
 
 
Kenaikan harga kedelai dan jagung, berdasarkan adanya analisa yang dilakukan, menjadi faktor utama dampak terhadap kenaikan biaya bahan baku pakan. Faktor-faktor ini mendasari para produsen bergeser untuk menggunakan lebih banyak sumber bahan baku alternatif yang tersedia secara lokal. Seiring adanya perubahan bahan baku tersebut, berdampak pada tingkat kecernaan protein dan asam amino yang diterima ternak. Untuk itu, perlu dikelola dengan baik agar tidak mempengaruhi pertumbuhan dan performa ternak. 
 
 
Dengan adanya beberapa bahan baku yang memiliki kandungan protein tinggi tetapi tingkat kecernaannya rendah (misalnya tepung bulu), penggunaan enzim (protease, fitase, xylanase, enzim NSP koktail, dan lain-lain) menjadi hal yang banyak dilakukan. Tujuannya, untuk meningkatkan nilai kecernaan nutrisi terhadap bahan baku pakan tersebut. 
 
 
Protein dalam pakan tidak sepenuhnya dapat dicerna ternak sehingga ada potensi penggunaan enzim yang ditambahkan ke dalam pakan untuk meningkatkan kecernaan asam amino. Penambahan enzim ini harus mempertimbangkan beberapa aspek, seperti potensi aktivitasnya, kestabilan bahan aktif, dan kemampuan untuk memberikan efisiensi terhadap biaya pemberian pakan itu sendiri. 
 
 
Pada pakan unggas, sebagian besar protein kasar diperoleh dari bahan baku seperti jagung dan bungkil kedelai, yang dapat dimanfaatkan secara efisien oleh unggas karena mempunyai tingkat kecernaan tinggi, yakni sekitar 85 % (Rungcharoen et al., 2012). Namun, bahan baku tersebut masih mengandung berbagai protein kompleks yang tidak dapat dicerna ayam muda karena masih rendahnya enzim endogen yang dimilikinya. Adapun fungsi enzim bekerja untuk meningkatkan fraksi yang dapat dicerna serta mengurangi fraksi yang tidak dapat dicerna pada setiap bahan baku. 
 
 
Protease untuk Kecernaan Protein 
Tidak semua enzim mempunyai efektivitas kerja yang sama dalam memecah berbagai jenis protein. Sangat penting untuk mempelajari berbagai efek dari kerja enzim sehingga dapat mengidentifikasi enzim mana yang mempunyai spektrum luas dan memiliki aktivitas tingkat pemecah fraksi protein yang tinggi pada berbagai sumber protein.
 
 
Semua enzim membutuhkan substrat khusus untuk mendapatkan manfaat apapun dalam pakan, misalnya protease memiliki substrat spesifik, protein yang tidak tercerna atau asam amino. Efek langsung¬nya adalah berkontribusi terhadap lebih banyaknya asam amino (AA), protein kasar (CP), dan energi yang tersedia. 
 
 
Enzim protease akan memutus ikatan peptida antara asam amino dari protein. Protease endogen tidak dapat membedakan asal suatu substrat dan dapat memecah berbagai jenis protein, baik protein sumber hewani maupun nabati. Protease juga dapat mengenali sisi karboksil dari ikatan peptida, apapun jenis proteinnya. 
 
 
Novus International telah melakukan penelitian in vitro untuk mengevaluasi peningkatan kecernaan protein pada berbagai jenis bahan baku pakan, termasuk sumber protein alternatif, dengan berbagai enzim protease (Gambar 1). Hasilnya menunjukkan kemampuan kedua protease secara signifikan meningkatkan kecernaan protein dan kecernaan asam amino jika dibandingkan dengan kontrol negatif. 
 
 
Kecernaan rata-rata dari kontrol negatif adalah 0,06 untuk semua bahan baku yang diuji. Sedangkan kecernaan protein rata-rata dari protease C dan B masing-masing adalah 0,34 dan 0,28. Hal ini menun¬jukkan bahwa penggunaan protease dapat meningkatkan kecernaan protein dan berpotensi membantu peningkatan pertumbuhan karena adanya tambahan asam amino yang dicerna. 
 
 
Sedangkan Gambar 2 menunjukkan efek berbagai enzim terhadap degradasi sumber protein kompleks seperti Keratin dan Elastin. Hasil¬nya menunjukkan bahwa hanya Protease C yang memiliki efektivitas tinggi pada semua sumber protein.
 
 
Protease untuk Kesehatan Usus 
Protein dalam makanan akan mengalami fermentasi dalam usus ayam, yang berpotensi mempengaruhi populasi mikroba dan mengakibatkan terjadinya peningkat pH secara keseluruhan. Peningkatan fermentasi protein dan terjadinya peningkatan pH digesta pada saluran pencernaan bagian belakang akan berpotensi meningkatnya proliferasi bakteri patogen seperti Clostridium perfringens pada usus yang merupakan penyebab terjadinya Necrotic Enteritis (NE). 
 
 
Percobaan telah dilakukan untuk mengevaluasi interaksi beberapa tingkat protein yang berbeda dengan kinerja protease terhadap integritas saluran pencernaan. Hasilnya menunjukkan bahwa dengan tidak adanya protease dan dengan meningkatnya protein dalam pakan, jumlah Clostridium perfringen dalam saluran ileum meningkat (P <0,05) sebanyak dua log (2,35 vs 4,34) (Gambar 3).
 
 
Pada Gambar 4 dapat dilihat, penggunaan protease dapat mengoptimalkan kesehatan usus dan mengurangi peradangan sistemik, yang dapat dilihat dari adanya peningkatan kripta pada vili-vili usus. Hal ini juga didukung dengan rendahnya serum glikoprotein alfa 1-acid. 
 
 
Pada Gambar 5, penambahan protease berkorelasi dengan peningkatan konversi pakan selama percobaan dan terutama dalam kondisi stres pada ayam umur 0 hingga 14 hari. Hasil ini menunjuk-kan bahwa penggunaan protease dapat meningkatkan kesehatan usus ayam dengan menekan penyebab Dysbacteriosis yang memicu pertumbuhan Clostridium Perfringes dan hal ini akan berdampak pada pertumbuhan selanjutnya. 
 
 
Penghematan Biaya Pakan 
Dalam sebuah studi komersial terbaru di Brazil, dilakukan pene¬litian efek enzim protease pada pakan dengan protein rendah. Dalam studi ini, nilai asam amino pada pakan diturunkan sebesar 7,5 persen (3 flok dengan total populasi 150.000 ekor) dibandingkan dengan flok yang diberi pakan dengan program komersial standar (populasi 12 juta ekor). 
 
 
Pada Tabel 1 menunjukkan bahwa penambahan protease dalam pakan dapat mengurangi biaya pakan (cost saving) dengan tetap mempertahankan performa pertumbuhan. Hal ini dapat memberikan penghematan biaya produksi. 
 
 
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan protease dalam pakan dapat memberikan peningkatan kecernaan nilai nutrisi bahan baku pakan serta meningkatkan kesehatan usus. Juga dapat memberikan nilai cost saving terhadap biaya pakan sehingga memberi¬kan penghematan pada biaya produksi peternakan. TROBOS/Adv 
 
 
 
Informasi ini dikompilasi oleh Novus International.
Ditinjau dan diterjemahkan oleh Suhartono, Novus Technical Manager – Indonesia
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain