Rabu, 4 September 2019

UGM - Partnership Australia Gelar Pelatihan Pembiakan Sapi Potong

UGM - Partnership Australia Gelar Pelatihan Pembiakan Sapi Potong

Foto: dok.ntr


Yogyakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada kembali menjadi penyelenggara pelatihan pembiakan sapi potong, hasil kerja bareng dengan Indonesia-Australia Partnership on Food Security in the Red Meat and Cattle Sector (Partnership) pada 2-25 September 2019.

 

Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Ali Agus pada pembukaan pelatihan ini di Grand Aston Hotel – Yogyakarta, Senin (2/9) menyatakan Fapet UGM dipercaya oleh Partnership menjadi course leader pelatihan pembiakan untuk keduakalinya. “Kami tidak akan mengajari peserta, yang telah menjalankan bisnis peternakan sapi dengan segudang pengalaman. Namun kami akan menyegarkan kembali teori, sharing hasil penelitian, pengalaman – termasuk pengalaman orang lain yang kami tampung. Kami hanya menjadi fasilitator saja,” ungkapnya.

 

Dijelaskannya, pelatihan ini berguna untuk memantik semangat menyusun upaya pencapaian efisiensi peternakan sapi potong, terutama pada segmen pembiakan, melalui berbagai pendekatan. Diantaranya adalah manajemen reproduksi, nutrisi, dan kesehatan ternak dengan memanfaatkan sumberdaya setempat untuk menjawab persoalan aktual pada usaha pembiakan yang dijalankan.

 

Muhamad Isradi Alireja, Team Leader Advisory and Support Group Partnership menyatakan pelatihan bertajuk Commercial Cattle Breeding and Management Training Program Batch IV diikuti oleh 20 peserta dari perwakilan perusahaan peternakan sapi potong dan kelompok peternak sapi. Mereka akan mengikuti sesi pelatihan dalam ruangan, kunjungan lapangan ke kampus dan peternakan sapi (pembiakan dan rearing) di Indonesia (1-15 September) dan di Australia (16-25 September).

 

Dikatakannya, setiap lokasi peternakan sapi potong yang dikunjungi memiliki keunikan, dengan potensi dan kondisi lingkungan yang berbeda-beda, dan tentu saja memiliki masalah yang berbeda. “Kita di sini berbagi pengalaman, juga menangkap, mengumpulkan dan mengidentifikasi masalah. Setelah pelatihan ini nanti, peserta akan diberikan kesempatan untuk mengikuti serangkaian uji kompetensi sebagai Cattle Breeding Manager,” dia menerangkan.

 

Course leader Panjono mengatakan, pada akhir pelatihan ini peserta pelatihan mendapatkan tugas berupa individual project dengan jangka waktu pelaksanaan antara 3-6 bulan, untuk mengaplikasikan langsung pengetahuan yang diperoleh di tempatnya bekerja. “Project tidak harus berbiaya besar, bisa hal-hal yang sederhana, misalnya membuat mineral blok yang diformulasi untuk induk. Kemudian peserta dari training batch III dan batch IV akan dikumpulkan, untuk mempresentasikan project mereka. Pelaporan tidak usah menggunakan format jurnal, cukup dengan format file presentasi power point,” urainya.

 

Program Partnership

Isradi menjelaskan, program Partnership diinisiasi oleh pemerintah Australia sejak 2013, dan akan terus berlanjut hingga 2023. Sebelumnya, program ini memberikan pelatihan pemeriksaan kebuntingan (PKB), pelatihan manajemen reproduksi sapi untuk dokter hewan, pelatihan meat processing, dan pelatihan untuk pemangku kebijakan.

 

Program Partnership telah menjangkau 300 orang sejak 2013. Pelatihan commercial cattle breeding management sudah keempat kali digelar, sejak 2018. Melibatkan 80 peserta, dari peternak, kelompok peternak, dan perusahaan peternakan sapi yang bergerak pada cattle breeding,” tutur dia. ist/ntr

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain