Kamis, 5 September 2019

Peternak Ayam Broiler Tuntut Perbaikan Harga Dan Perlindungan Usaha

Peternak Ayam Broiler Tuntut Perbaikan Harga Dan Perlindungan Usaha

Foto: dok.ramdan


 

Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) kembali menggelar aksi damai, hari ini - Kamis (5/9) untuk menuntut perbaikan harga ayam hidup (livebird, LB) dan perlindungan usaha mereka dari kehancuran.

 

Sugeng Wahyudi, humas aksi PPRN ini menerangkan, aksi dalam bentuk bagi-bagi ayam hidup ini digelar di depan Kementerian Koordinator Perekonomian dan depan gedung DPR RI, dengan mengerahkan massa sebanyak 800 orang peternak. Mereka terpaksa beraksi kembali karena harga ayam broiler hidup kembali terpuruk, satu bulan pasca tsunami anjloknya harga live bird Juni lalu. Pada Agutus 2019 harga kembali menyentuh titik terendah, yakni Rp 8.000/kg.

 

Paguyuban Peternak Rakyat Nasional mencatat selama 9 bulan di 2019, usaha perunggasan mengalami dua kali “gelombang tsunami” anjloknya harga LB ditingkat peternak. “Dan lagi – lagi disebabkan oleh over supply produksi LB. Hal ini terkonfirmasi dengan fakta harga LB jauh melorot dibawah harga pokok produksi (HPP) peternak,” ungkapnya.

 

Sementara itu riak – riak harga pembentuk gejolak tsunami jatuhnya harga LB tercatat mulai terjadi lagi terjadi pada Agustus 2018. Berbagai upaya dilakukan dan disuarakan peternak kepada pemerintah, termasuk upaya antisipasi untuk menjaga kestabilan harga LB. Namun tak pernah ada solusi yang jitu dan bisa bertahan laman.

 

Tercatat puluhan rapat koordinasi dan evaluasi yang melibatkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perekonomian sampai Bareskrim Polri semua upaya “mentok”, peternak broiler kembali menelan pil pahit merasakan buruknya penataan perunggasan nasional,” sesal Sugeng.

 

Disisi lain, lanjut dia, saat harga selalu jauh dibawah HPP peternak bahkan anjlok dititik terendah, harga – harga sapronak (sarana produksi ternak) terus stabil dil evel tertinggi. Tercatat sejak awal 2019 sampai saat ini harga pakan terus bertengger diharga Rp 6.800 – Rp 7.400 per kg.

 

Padahal pemerintah selalu gembar – gembor produksi jagung sebagai bahan utama pakan ternak di posisi surplus bahkan sampai dilakukan ekspor,” tandas Sugeng. Namun, menurut dia, kondisi ini tidak mampu menurunkan harga pakan. Padahal jagung merupakan komponen terbesar dari pakan unggas, dan biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam usaha budidaya unggas broiler.

 

Selain pakan, harga DOC (day old chick / anak ayam umur sehari) sejak Agustus 2018 juga bertahan di level Rp 6.600 – Rp 6.100 perekor. Baru pada Juni – Agustus 2019 harga DOC bergerak turun hingga level Rp 4 ribuan perekor. “Namun itu pun belum membantu karena harga LB kembali anjlok ke titik terendah. Di sisi lain upaya penyeimbangan supply dan demand melalui pengurangan produksi DOC selalu berdampak lebih dulu terhadap kenaikan harga dan ketersediaan DOC bagi peternak,” ujar Sugeng.

 

Tegas dia menyatakan, benang kusut ini selalu tidak bisa diurai pemerintah dan pelaku industri perunggasan (perusahaan integrator), sehingga memakan korban peternak broiler. Berdasarkan kondisi tersebut dan kejadian yang selalu berulang, maka PPRN menuntut kepada pemerintah untuk melakukan langkah-langkah.

 

Pertama, menaikan harga ayam hidup (LB) minimal pada tingkat HPP peternak rakyat mandiri. Kedua, perlu diterbitkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk penataan iklim usaha perunggasan nasional yang berkeadilan dan melindungi peternak rakyat mandiri.


 

Ketiga, PPRN menuntut perlindungan dan segmentasi pasar ayam segar hanya untuk peternak rakyat mandiri. Keempat, menuntut agar pemerintah bertindak tegas untuk melaksanakan hilirisasi usaha perunggasan melalui upaya kewajiban memiliki Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) bagi perusahaan integrasi, seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri (Permentan) 32 Tahun 2017.


 

Kelima, PPRN menuntut agar pemerintah membubarkan Tim Komisi Ahli Perunggasan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. ist/ramdan

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain