Senin, 9 September 2019

Konsumsi Protein Kunci Sukses Tumbuh Kembang Anak

Konsumsi Protein Kunci Sukses Tumbuh Kembang Anak

Foto: dok.ntr


Yogyakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Tumbuh kembang anak tak hanya ditentukan oleh faktor genetik, namun ketercukupan asupan/konsumsi protein hewani dan nabati menjadi kunci sukses, dan hal ini berhubungan erat dengan pola asuh.

 

Persoalan itu diurai pada Seminar Promosi Konsumsi Protein Hewani dan Nabati Demi Anak Sehat, Tumbuh, dan Cerdas, di Auditorium Fakultas Peternakan UGM Sabtu (7/9). Acara ini merupakan rangkaian Lustrum X Fakultas Peternakan, kerjasama Fakultas Peternakan UGM dengan Indonesian Children Care Community (IC3).

 

Direktur IC3 Prof Ali Agus menjelaskan, tantangan pertama pasca kelahiran anak adalah kesehatan dan tumbuh kembang. “Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial, juga ditopang oleh protein hewani maupun nabati yang cukup, berkualitas dan berimbang dengan nutrisi lainnya,” ungkap Ali yang juga Dekan Fakultas Peternakan UGM. Penyediaan protein hewani yang diperoleh dari produk pangan asal hewan seperti daging, telur dan susu merupakan tanggungjawab ilmiah dan profesional dari lulusan Fakultas Peternakan.

 

Tantangan kedua, lanjut dia, adalah pengetahuan dan preferensi orangtua dalam menyediakan pangan yang sehat, bergizi dan berimbang. Sebab penyediaan pangan dan gizi sumber protein perlu kesadaran, kemauan dan kesungguhan, karena bisa tergoda oleh kebutuhan lainnya yang sebenarnya bisa ditangguhkan. Selanjutnya tantangan ketiga adalah kesibukan orangtua dalam bekerja sehingga tidak lagi sempat memperhatikan pola konsumsi anak-anaknya, bahkan urusan makanan di rumah sepenuhnya diserahkan kepada pengasuh dan atau semata-mata mengikuti kesukaan anak.

 

Senada dengan Ali Agus, Kepala Seksi Inspeksi Peredaran Pangan Teknologi Baru, Bioterorisme, dan Pertahanan Pangan Fitrianna Cahyaningrum menyatakan 46% penduduk Indonesia termasuk kategori cukup protein. “Ada 17% kurang protein dan 36% sangat kurang asupan protein. Kalau status ini terdapat pada anak usia 13 sampai 18 tahun, harus segera ditangani karena merupakan fase awal produktif untuk pria dan fase awal kesuburan untuk wanita,”jelasnya.

 

Untuk itu, Fitrianna menghimbau agar dilakukan upaya mengubah preferensi pembelanjaan uang jajan. “Uang Rp 1.500 – Rp 2.000 yang biasa digunakan untuk jajan makanan kecil yang kurang bergizi, diupayakan untuk membeli telur ayam saja, yang lebih bergizi bagi anak dan remaja,” tandas dia. Hal itu, dia menambahkan, harus terus didorong meskipun perubahan pola konsumsi pangan sudah terjadi, menurut WHO konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia yang pada 2011 hanya 17%, tahun lalu sudah meningkat menjadi 34% dari total konsumsi protein.

 

Konsumsi protein hewani ini penting, karena mengandung asam-asam amino esensial yang tidak tergantikan dan tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh manusia. Asam amino dipergunakan untuk pertumbuhan organ dan untuk membentuk hormon-hormon pertumbuhan,” tegasnya. Namun demikian, untuk menyeimbangkan pola makan, protein nabat tetap penting dikonsumsi karena ada nutrisi lain yang terdapat pada bahan pangan sumber protein nabati, namun tidak terdapat pada bahan pangan hewani.

 

Tumbuh Kembang

Pakar gizi Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM Huriyati menyatakan anak bisa tumbuh dan berkembang menjadi sehat, kuat dan cerdas dengan memperhatikan paradigma seribu hari petama kehidupan (1.000 HPK). “Dimulai sejak 270 hari didalam kandungan dan 730 hari atau 2 tahun setelah kelahiran. Ketika kebutuhan nutrisi terlebih protein tidak terpenuhi pada 1.000 HPK, maka akan berdampak jangka panjang, tidak bisa diperbaiki pada fase usia selanjutnya.,” ungkapnya.

 

Kekurangan nutrisi terlebih protein, dan lebih khusus lagi adalah asam-asam amino esensial pada 1.000 HPK, disebut Emy tak hanya akan membuat kerdil secara fisik (stunting) tetapi juga akan berakibat pada rendahnya kemampuan kognitif. “SDM Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara untuk kategori kemampuan kognitif pada PISA (Programme for International Student Assessment),” ujarnya. Hubungan antara status gizi, stunting dan peringkat PISA sudah terbukti pada penelitian di beberapa negara.

 

Lebih lanjut Emy menjelaskan, pangan asal ternak (daging, susu dan telur) sebagai sumber protein hewani tidak hanya mengandung asam amino esensial yang sangat diperlukan untuk tumbuh kembang, mencegah stunting dan membangun kecerdasan anak, namun juga mengandung vitamin B12 untuk membantu pertumbuhan otak, syaraf, dan mencegah cacat lahir bagi janin.

 

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Provinsi DIY - Arida Oetami menjelaskan, asupan gizi anak, termasuk protein dangat tergantung pada pola asuhan orang tuanya. “Banyak faktor yang mempengaruhi, selain karena kemampuan menyediakan (belanja) protein, juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, kematangan psikis, perilaku dan pemahamannya atas perannya sebagai orang tua, terutama ibu,” terang dia.

 

Perilaku makan anak, tutur Arida, dipengaruhi oleh faktor makanannya, preferensi anak (dari pembiasaan penganekaragaman jenis makanan), kondisi anak (kesehatan, status endokrin), psikologis orang tua, dan lingkungan sosial. “Pada umur 6 bulan anak sudah harus dikenalkan makanan selain ASI, dan pada 2 tahun harus sudah bisa makan seperti makanan orang tuanya,”tandas dia.

 

Interaksi Genetik, Nutrisi, dan Perilaku

Prof Mohammad Juffrie dokter spesialis anak Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM menerangkan, perkembangan anak berjalan seiring dengan pertumbuhan.

 

Setiap pertumbuhan akan diiringi dengan perkembangan fungsi organ. Misalnya, pertumbuhan otak dan serabut syaraf, akan disertai dengan perkembangan kognitif, motorik dan sosial emosional. Jumlah sel syaraf itu tetap tetapi seiring pertumbuhan, ganglion (simpul syaraf) akan bertambah seiring semakin banyaknya rangsang yang masuk. Ganglion terbentuk untuk akan jadi permanen pada umur 7 tahun, tak bisa diubah sampai dengan dewasa. Maka, behavior (perilaku) anak ditentukan dari 0 hari dalam kandungan hingga 7 tahun setelah lahir,” papar dia.

 

Lebih mendalam Juffrie menjelaskan ada interaksi yang kuat antara faktor genetik, nutrisi dan perilaku ibu kepada tumbuh kembang anak. Penelitian di Inggris, ibu yang bergenetik baik, namun memiliki kebiasaan kurang baik ternyata juga memiliki kualitas asuh buruk dan cenderung memiliki pola nutrisi yang buruk untuk diri dan anaknya, sehingga memiliki anak-anak yang tumbuh kembangnya tidak baik. Namun sebaliknya, ibu-ibu yang secara genetik kurang baik, tetapi memiliki perilaku yang baik, maka pola asuh dan pola nutrisinya juga baik, sehingga anak-anaknya bertumbuh kembang dengan baik pula.

 

Maka hati-hati, jika anak sudah kecanduan main game di gadget, maka apa yang ada dalam game itu adalah rangsang bagi syaraf untuk direkam, dan akan permanen pada umur 7 tahun. Anak akan merekap perilaku pada game, dan akan menjadi salahsatu pembentuk perilakunya. Maka biasakan anak untuk makan bergizi, beraktivitas fisik, dan berkomunikasi dengan keluarga, tidak hanya asyik bermain sendiri,” pungkasnya.

 

Indah Yuning Prapti Staf Bidang Edukasi dan Pendampingan IC3 yang juga bertindak sebagai moderator pada seminar di atas menyebutkan, selain memberikan pola asuh yang benar dan memberi asupan nutrisi yang tepat, orang tua juga harus menjaga anak dari resiko infeksi dan pengaruh lingkungan yang buruk. Orang tua yang dimaksud, bukan saja ibu, namun juga sosok ayah, karena dia adalah patron bagi anak-anaknya. Anak lebih mudah meniru perilaku ayah daripada anggota keluarga lainnya. “Anak adalah aset, aset bagi orang tua dan bangsa, yang harus disiapkan untuk menjadi calon ibu dan ayah bagi generasi selanjutnya, dalam bingkai keluarga yang bahagia jiwa dan raga,” ungkapnya. ist/ntr

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain