Sabtu, 21 September 2019

Efisiensi Senjata Utama Hadapi Ayam Brazil

Efisiensi Senjata Utama Hadapi Ayam Brazil

Foto: dok.bella


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Kekalahan Indonesia di WTO (World Trade Organization) dan gempuran isu masuknya karkas ayam pedaging (broiler) asal Brasil menguji sektor budidaya perunggasan dalam negeri. Produsen ayam broiler dituntut untuk meningkatkan efisiensi dan maksimalisasi budidaya, jikka tidak ingin tergilas.
 
Terkait masalah itu, Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) menggelar seminar nasional pada event Ildex Indonesia 2019 pada Kamis (19/9). 
 
Ketua Harian Gopan, Sigit Prabowo dalam sambutannya mengisahkan berdirinya WTO pada 1 Januari 1995 silam dan Indonesia merupakan salah satu pendirinya. “Tujuan pembentukan WTO adalah untuk membantu produksen barang dan jasa eksportir  maupun importir dalam melakukan kegiatannya,” ujar Sigit.
 
Namun pada 23 Desember 2017, lanjut Sigit, Indonesia kalah dari Amerika Serikat dan Selandia Baru. Kemudian disusul pada 17 Oktober 2017 Indonesia kalah dari Brasil. Hal ini membuktikan bahwa perjanjian perdagangan bebas mempersempit ruang negara.
 
“Salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menghadapi daging ayam impor adalah harus ada gerakan efisiensi nasional yaitu dari hulu sampai hilir seperti bahan baku pakan, harga pakan, harga DOC, tata laksana perkandangan dan efisiensi dalam pengeloaan dalam tata niaganya. Sebab harga sapronak yang terlalu tinggi akan memberatkan peternak sebagai pengguna. Daya saing produk hilir hasil budidaya di tingkat peternak akan tergerus tatkala material yang harganya mahal sudah ditetapkan sejak awal,” urai Sigit.
 
Indonesia vs Brasil
Sementara itu, Direktur INDEF (Institute for Development Economics and Finance), Enny Sri Hartati membeberkan bahwa saat ini Brasil menguasai sekitar 25 % ekspor ayam untuk seluruh dunia. Struktur biaya produksi broiler di Brasil, ternyata yang terbesar memang pakan yaitu sebanyak 65 %. Pakan yang digunakan untuk memelihara ayam di Brasil yang paling dominan adalah jagung. 
 
Menurut Enny, pembudidayaan, peningkatan produktivitas, peningkatan kualitas produk jagung mulai benih sampai panen adalah intervensi dari pemerintah Brasil yang luar biasa. 
 
“Dukungan akan ketersediaan lahan sampai dengan teknologi termasuk subsidi dilakukan oleh pemerintah Brasil. Brasil mengidentifikasi betul potensi sumber daya yang mempunyai daya saing yaitu sektor peternakan dan membutuhkan dukungan dari pakan, serta pakan yang paling bagus untuk ayam adalah jagung, inilah yang menyebabkan harga produksi ayam Brasil lebih efisien dari Indonesia,” jelasnya.
 
Pada momen yang sama, Sekretaris Jenderal Gopan, Sugeng Wahyudi menyatakan kesetujuannya dengan pernyataan Enny bahwa 60 - 70 % dari biaya produksi ini adalah pakan, utamanya jagung. Sugeng berandai jika masalah pakan bisa terselesaikan, maka efek domino sangat luar biasa. Sebab biaya pokok produksi menjadi tertekan.
 
“Apabila harga DOC (ayam umur sehari)  terjangkau, semuanya juga akan terjangkau. Sehingga masalah sebenarnya bukan dari segi budidaya tapi dari segi hulunya. Terkait jagung, pemerintah sudah punya kebijakan tapi yang terjadi kelihatannya status jagung belum sesuai yang diharapkan,” keluhnya. 
 
Sugeng tak minta harga jagung harus murah, sebab akan berdampak pada petani jagung. Tetapi Sugeng mengharapkan harga yang terjangkau dan kompetitif. 
 
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita menyebutkan empat modal utama bangsa Indonesia supaya lebih baik lagi, yaitu integritas diri, komitmen diri, profesionalitas dan kejujuran. 
 
“Ketidak jujuran merupakan penyebab carut-marutnya perunggasan kita. Saya mendapat sms, sampai kapan pun dan sehebat apa pun Pak Dirjen menghitung supply-demand, selama data lapamgan tidak sesuai dengan yang dilaporkan maka akan selalu salah,” katanya.
 
Sebagai penghasil sawit terbesar di dunia, masih menurut Ketut, Indonesia dinilai belum memaksimalkan bungkil inti sawit (BIS) sebagai pakan ternak. Ketut mewanti-wanti jangan sampai Indonesia ekspor bibit sawit tetapi digunakan oleh orang luat negeri sebagai pakan dan diekspor lagi ke Indonesia. 
 
Tawarkan Solusi Transformasi Digital
Selanjutnya Direktur Tri Satya Mandiri Tri Group, Ramadhana Dwi Putra Mandiri, yang dikenal sebagai peternak milenial dengan ambisi ingin kerja cepat, dan ingin yang serba praktis. Pria yang kerap disapa Rama ini menggaris bawahi dari diskusi yang berlangsung yaitu perbandingan produktivitas Indonesia dengan Brasil serta berbagai ikhtiar untuk melawannya.
 
“Berdasarkan karakter milenial yang ingin serba cepat dan praktis, menginspirasi kita untuk berusaha bagaimana caranya mendapatkan solusi untuk membangun fasilitas atau struktur perkandangan yang cepat. Kita beradaptasi menggunakan transformasi digital dan portable. Di pikiran teman-teman kita ada kekhawatiran untuk mengupgrade kandang karena mahal, itu karena kita impor dengan kurs yang tidak stabil sehingga menjadi masalah. Sebenarnya teknologi sudah bisa kita ciptakan tetapi kita masih mengandalkan teknologi yang mahal dari luar negeri,” tuturnya.
 
Berangkat dari situ, Rama mengkreasikan dengan produk lokal yang konsepnya diadopsi dari luar negeri seperti Thailand dan Eropa. Kemudian diaplikasikan di Indonesia dan sudah berjalan selama 2 periode. Rama mengatakan, terkait dengan sub judul materinya yaitu succes story, mungkin artinya membawa solusi dari masalah yang dihadapi. 
 
Berdasarkan penuturan Rama, langkah yang dilakukannya ada dua yaitu membangun baru dan mengupgrade.
 
“Kita meng-upgrade dan membangun, dilakukan dengan didampingi sebuah sistem yang terintegrasi, sehingga kita menggunakan ERT dan android untuk memonitoring. Dengan teknologi komputer untuk linking antara accounting, stock, tenaga kerja, sales, produksi dan semua proses yang ada di dalam siklus atau periode yang sedang berjalan akan masuk semua, kembali ke karakter milenial dengan beternak melalui telepon genggam,” jelas Rama. bella
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain