Selasa, 1 Oktober 2019

Mewaspadai Endemik Gumboro

Mewaspadai Endemik Gumboro

Foto: trobos


Selalu menjadi ancaman di setiap kandang. Semakin cepat mendiagnosa dan mendeteksi awal sumber kontaminan serta penanganan kasus gumboro semakin baik. Memperbaiki pemahaman biosekuriti pada level operator kandang melalui pelatihan menjadi kunci untuk mencegah masuknya penyakit 
 
 
Awal September lalu menjadi momen yang tidak diduga sebelumnya oleh Zainal Arifin. Pemilik Zaki Farm – usaha peternakan broiler (ayam pedaging) dan layer (ayam petelur) di daerah Majalengka Jawa Barat ini kecolongan. Salah satu kandang broiler miliknya yang diisi sekitar 7.000 ekor terkena kasus gumboro atau IBD (Infectious Bursal Disease).
 
 
Meskipun cuma menyerang selama 3 hari, penyakit viral ini membuat 3 % dari populasi kandang atau sekitar 200 ekor ayam mati sia-sia. Kerugian ekonomi pun dirasakan Zainal mengingat ayam yang mati karena gumboro sudah besar berumur 18-20 hari. 
 
 
Zainal menduga, munculnya gumboro akibat belum melakukan antisipasi karena ayam yang dipelihara tidak divaksin gumboro. “Waktu itu pemeliharaan ayam baru mulai beralih menggunakan semi closed house, kami memiliki sugesti meskipun tidak divaksin tidak akan terserang penyakit termasuk gumboro, namun kenyataannya, penyakit tetap menyerang,” sesalnya kepada TROBOS Livestock.
 
 
Sebetulnya, lanjut Zainal, pogram vaksinasi gumboro selaku dilakukan setiap siklus di kandang. “Namun ketika mengubah kandang ke semi closed house dan berdiskusi dengan peternak lain ada yang menyarankan tidak perlu vaksinasi dan cukup memberikan vitamin saja. Ternyata pengaruh udara luar masih ada karena semi closed house hanya mengeluarkan angin dan amonia di kandang sehingga kasus penyakit tetap muncul,” tuturnya. 
 
 
Nasi sudah menjadi bubur. Zainal pun segera melakukan pengendalian dengan memberi obat paracetamol, vitamin, elektrolit, dan air gula untuk ayam yang masih hidup. Juga mulai melakukan panen parsial guna meminimalkan kerugian. Setelah penanganan itu, kasus gumboro pun tidak berlangsung lama dan tidak berlanjut. 
 
 
Ia menyatakan, kejadian itu menjadi pembelajaran baginya untuk melakukan antisipasi dengan melakukan vaksinasi untuk ayam peliharaannya. “Sebagai antisipasi, untuk mencegah gumboro ayam harus divaksin karena biaya vaksin tidak sebanding dengan pengorbanan akibat ayam mati. Kalau ayam divaksin jika terjadi kasus penyakit tidak akan separah kalau ayam tidak di vaksin,” tegasnya.
 
 
Pria yang beternak ayam sejak 2004 ini mengatakan, untuk kandang plasma binaannya yang umumnya berbentuk open house selalu dilakukan vaksinasi sehingga jarang terjadi kasus gumboro. “Rolling produk vaksin juga dilakukan setiap 3 bulan sekali untuk membatasi virulensi dari virus yang mungkin timbul. Disamping mencari harga produk vaksin yang lebih murah,” katanya. 
 
 
Untuk di peternakan layer yang mulai dirintis sejak 2015, kasus gumboro tidak pernah terjadi. “Penanganan di peternakan layer lebih ketat karena saya berprinsip lebih baik berkorban mengeluarkan biaya untuk vaksinasi agar produksi ayam bagus. Saya pun menggunakan kandang panggung sehingga kotoran ada di bawah dan meminimalkan risiko amonia,” kilah Zainal. 
 
 
Yosi Yosriza dari PT Ciomas Adisatwa juga memiliki pengalaman dalam menghadapi penyakit gumboro. Dari pengamatannya di lapangan, kasus penyakit gumboro seperti di daerah Bandung, Sumedang, Garut, dan Tasikmalaya biasa muncul di umur 18 – 24 hari. Pola kematian jika gumboro murni mencapai puncak di hari ke-3 dan menurun di hari ke 4-5. “Tetapi apabila kasus gumboro ini diikuti oleh penyakit lain seperti CRD (Chronic Respiratory Disease) maka pola kematian semakin meninggi setiap harinya sampai menjelang panen,” katanya. 
 
 
Untuk kasus gumboro murni penanganannya sebetulnya relatif mudah, cukup dengan memberikan air gula merah atau Sorbitol selama 3 hari berturut-turut yang tujuannya adalah untuk membantu menaikkan stamina tubuh dan menambah energi agar ayam mau beraktivitas makan dan minum. Pasalnya, ayam yang terkena gumboro umumnya lemah dan lemas, untuk beraktivitas makan dan minum pun kesusahan. Rata-rata ayam yang mati karena gumboro temboloknya kosong.
 
 
Pada saat terkena gumboro, ayam juga mengalami demam. Sebagian peternak/praktisi ayam broiler ada yang memberikan paracetamol untuk mengatasinya. Meskipun sebenarnya, gumboro tidak ada obatnya karena disebabkan oleh virus. 
 
 
Selain itu, penyemprotan desinfektan yang aman bagi ayam di dalam kandang direkomendasikan untuk menekan penyebaran virus gumboro yang lebih jauh, demikian juga di sekitar kandang. “Kandang dengan lantai tanah berisiko selalu muncul gumboronya, karena pada tanah tersebut terdapat kutu franki sebagai carrier pembawa virus gumboro. Sebaiknya lantai dipelur semen untuk menghindar munculnya kutu franki. Proses pengapuran kandang menggunakan kapur aktif juga efektif untuk mengurangi kasus gumboro,” sarannya. 
 
 
Bersifat Endemik
Dalam perkembangan gumboro, penyakit ini selalu ada di sektor peternakan ayam komersial broiler dan layer (pada ayam muda). Dari tahun ke tahun tingkat kejadiannya lebih tinggi daripada penyakit virus lainnya, terutama sektor layer dan pejantan. “Tidak ada lonjakan signifikan dari tahun ke tahun atau bulan-bulan tertentu seperti penyakit AI (Avian Influenza), namun keberadaannya (frekuensi kejadian) selalu ada di atas jumlah penyakit lain,” terang Technical Manager PT Vaksindo Satwa Nusantara wilayah Sumatera, Roiyadi. 
 
 
Tidak seperti AI, IB (Infectious Bronhities) yang tingkat kejadian tinggi di saat musim hujan, dingin. Gumboro selalu ada di farm dengan managemen biosekuriti kurang. Gumboro penyakit yang sering berulang pada farm yang sama (biosekuriti kurang) dan terjadi bisa di setiap musim. “Berulangnya kasus ini pada farm yang sama karena virus ini tahan lama di lingkungan dan sulit untuk dieliminasi total di farm bersangkutan, sehingga peluang muncul kembali pada periode berikutnya akan lebih tinggi. Ini berbeda dengan AI yang virusnya lemah tidak tahan lama, sehingga jarang muncul berulang pada farm yg sama,” terangnya.
 
 
Technical and Marketing Manager PT Ceva Animal Health Indonesia, Ayatullah M Natsir berpendapat yang sama. Kalau di broiler hampir setiap bulan ada saja kasus gumboro karena sudah endemik meskipun tidak dominan dibandingkan penyakit lain contohnya IBH (Inclusion Body Hepatitis) atau ND (Newcastle Disease). Pola kematian yang agak beda di umur rata-rata 3 minggu dengan tingkat kematian bisa bervariasi dari mulai 1 – 3 %. “Di layer ada kasus gumboro tetapi yang paling dominan di broiler. Kasusnya tetap ada di farm apalagi jika lengah dengan penanganan kutu franki,” katanya.
 
 
Ia melanjutkan, kalau lengah di pembersihan vektor-vektor kandang saat kosong kandang kemungkinan bisa problem. Jika pembersihan bagus tetapi ada lengah diaplikasi vaksin akan problem juga. “Pembesihan bagus, vaksinasi bagus ternyata ada kena koksi karena fakto satu dan lain hal bisa kena gumboro juga. Artinya, gumboro selalu menjadi ancaman di setiap kandang,” tandas Ayatullah.
 
 
Oleh karena itu, lanjut Ayatullah, penyakit akan muncul atau tidak tergantung peternak menyiapkan kandang pada saat kosong kandang. Bagaimana memberikan program vaksinasi yang optimal dalam hal ini terkait vaksin dan aplikasinya. Juga bagaimana menyiapkan kondisi ayam. “Sekali ada virus gumboro di kandang itu akan tetap di situ. Kalau pembersihan kandang tidak bagus jumlah virus semakin banyak,” ujarnya. 
 
 
Ditambahkan Layer & Breeder Business Development Manager PT Ceva Animal Health Indonesia, Wintolo, letupan-letupan gumboro di layer tetap ada. Peternak menganggap gumboro sebagai suatu penyakit yang biasa dan wajar terjadi. “Tetapi kalau sudah terjadi ledakan gumboro di layer harus menjadi perhatian. Munculnya kasus gumboro di layer lebih erat hubungannya dengan kontrol dan problem koksi. “Kasus koksi terakhir cukup tinggi di layer. Mana yang lebih duluan apakah gumboro atau koksi sesuatu yang cukup kompleks di lapangan.Tingkat kekebalan induk juga sebagai sesuatu hal yang menjadi titik awal problem gumboro di layer yang berulang,” ungkapnya.
 
 
Bisa juga karena misaplikasi vaksin karena di layer harus menentukan jadwal vaksinasi dan kekebalan induk. Juga kandang pullet dengan variasi umur yang banyak kalau ada problem gumboro bisa berulang. Idealnya, kalau kandang pullet itu all in all out untuk meminimalkan shading virus gumboro.
 
 
Senior Technical Manager PT Zoetis Animalhealth Indonesia, Betty Yuriko pun mengakui, penyakit gumboro merupakan endemik di Indonesia yang sering terjadi terutama di masa pancaroba. “Di beberapa area terjadi pola munculnya kasus gumboro di waktu tertentu, terutama di masa pancaroba. Namun tidak semua kandang mengalami kasus meskipun di area yang sama. Hal ini berkaitan erat dengan tingkat kesiapan kandang dalam hal biosekuriti,” jelasnya.
 
 
Tantangan lingkungan yang tinggi, biosekuriti yang kurang baik, istrahat kandang yang terlalu singkat, vaksin yang kurang tepat, merupakan faktor pemicu munculnya kasus gumboro. “Virus gumboro hanya menyerang organ bursa fabricius yang merupakan tempat terbentuknya sel-sel limfosit B atau sel lymfoid primer,” kata Betty.
 
 
Berdasarkan pantauan tim dari PT Romindo Primavetcom di lapangan, perkembangan gumboro setahun terakhir pada broiler dan layer menurun di banding pada awal tahun. “Pola tahunan penyakit gumboro sudah ada dan berulang seperti pada November hingga Februari kasusnya tinggi karena kondisi saat itu cuaca sangat fluktuatif dan kelembaban tinggi yang akan mempengaruhi juga kualitas bahan baku pakan yang berakibat kasus mikotoksikosis meningkat yang berpengaruh terhadap titer antibodi termasuk gumboro,” jelas Technical Department Manager PT Romindo Primavetcom, Agus Damar K.
 
 
Muncul Kapan Saja
Penyakit gumboro bisa muncul kapan saja, musim kemarau ataupun musim hujan, pada saat kelembaban tinggi kasus gumboro biasanya diikuti oleh infeksi lain. Apalagi di kandang-kandang yang minim melakukan sanitasi, karena saat kelembaban tinggi semua bakteri dan kuman tumbuh dengan subur di kandang dan lingkungan sekitar kandang. 
 
 
Dalam satu wilayah yang ada beberapa kandang belum tentu terkena penyakit gumboro semua, biasanya menyerang kandang-kandang yang lemah dalam sanitasi kandang, yang masa broodingnya kurang bagus, yang pembersihan kandang dan lingkungannya tidak maksimal. 
 
 
Masa brooding sangat penting dalam mempersiapkan sistem kekebalan tubuh ayam, karena dari masa brooding inilah terjadi proses penyerapan kuning telur yang didalamnya terdapat zat-zat yang dapat membentuk sistem kekebalan tubuh ayam secara sempurna, sehingga peran antibodi dalam menghalau kuman dan bibit penyakit pun menjadi maksimal. “Pada kasus broiler yang sudah terserang penyakit gumboro kematian yang dapat ditimbulkan bisa mencapai 2-4 % selama 5 hari. Setelah itu ayam kembali normal. Namun demikian apabila setelah gumboro ini manajemen litter, sanitasi kandang, dan penanganan bangkai yang kurang baik, maka di umur 30-32 hari, gumboro dapat muncul kembali dengan tingkat keparahan dan kematian yang lebih tinggi dari sebelumnya,” papar Yosi. 
 
 
Penyebab Gumboro 
Gejala klinis gumboro antara lain, ayam demam dan mengeluarkan kotoran putih yang disertai dengan peningkatan kematian. Ketika dinekropsi, menunjukkan gambaran bursa membengkak (oedematous), perdarahan pada bursa fabricius, perdarahan pada otot dada atau paha. “Hal uang paling sering terjadi saat ini di lapangan adalah manifestasi yang mengakibatkan immunosupresi, sehingga gambaran klinis tidak spesifik, organ lymphoid seperti bursa dan thymus mengecil disertai munculnya penyakit bakterial seperti peradangan dan perkejuan yang tidak spesifik pada organ viscera, ataupun Staphilococcus pada jengger,” ujar Betty.
 
 
Dalam kasus gumboro, dikenal dengan istilah okupasi. Okupasi adalah suatu kondisi dimana virus vaksin menduduki bursa lebih dulu daripada virus lapangan, sehingga bursa memberikan respon positif untuk membentuk kekebalan. Sekalipun virus lapangan kemudian mencapai bursa, namun virus lapangan tidak bisa menginfeksi bursa. Sebaliknya, bila virus lapangan terlebih dulu mencapai bursa, maka ayam akan terinfeksi dan vaksin tidak bisa bekerja dengan baik. “Hal ini menjadi dasar mengapa kita sangat membutuhkan vaksin IBD immune kompleks. Virus vaksin dapat bekerja secara tepat ketika maternal antibodi gumboro turun, maka virus vaksin akan di lepas ke bursa dan menggertak kekebalan. Hal ini dapat terjadi secara individu sekalipun DOC berasal dari sumber yang berbeda dan memiliki maternal antibodi yang berbeda,” kilahnya. 
 
 
Virus gumboro menyerang sel-sel bursa dan menimbulkan immunosupresi. “Hal ini memicu munculnya kasus-kasus lain terutama penyakit bakterial seperti E. coli, Salmonella, ataupun NE (Clostridium) karena tubuh ayam gagal membentuk kekebalan dengan baik,” ucapnya.
 
 
Betty menyampaikan kematian akibat gumboro bisa mencapai 10-50 %, tergantung pada kondisi ayam. Layer lebih rentan terhadap gumboro dibandingkan broiler.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 241/Oktober 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain