Selasa, 1 Oktober 2019

Mendongkrak Produksi Jagung di Nagekeo - NTT

Mendongkrak Produksi Jagung di Nagekeo - NTT

Foto: istimewa


Nagekeo (TROBOSLIVESTOCK.COM). Rendahnya curah hujan dan dominasi lahan kering di Nusa Tenggara Timur tidak menghalangi petaninya untuk mengoptimalkan produksi jagung mereka.

 

Salah satu upaya guna mencapainya adalah dengan melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Literasi jagung. FGD  yang mengusung tema “Pengaruh Jenis dan Sifat Tanah terhadap Sukses Agribisnis Jagung di Kabupaten Nagekeo” berlangsung pada 28 September 2019 bertempat di Pondok Literasi – Mbay, kecamatan Aesesa, kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

 

FGD ini dihadiri oleh sekitar 150 orang yang terdiri dari Bupati Kabupaten Nakegeo, anggota DPRD Kabupaten Nagekeo, petani, ketua kelompok tani, KTNA, PPL se Kabupaten Nagekeo, Camat, Danramil dan Kapolsek Kecamatan Aesesa, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo beserta jajarannya.

 

Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do dalam sambutannya menyampaikan bahwa pencapaian target swasembada jagung ini sangatlah penting dan guna mendukung hal tersebut maka dalam waktu dekat akan dilaksanakan penyusunan rencana tindak lanjut pengalokasian anggarannya untuk  mendukung kegiatan tahun 2020. Lebih lanjut Don Bosco Do juga menekankan agar petani mengoptimalkan penggunaan bahan organik dalam kegiatan budiayanya.

 

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian Nakegeo, Wolfgang Lena menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan kerja sama penelitian terkait pengelolaan lahan budidaya jagung yang meliputi aspek tanah, agronomi, pengendalian hama dan penyakit tanaman guna meningkatkan produktivitas jagung diwilayahnya.

 

Kegiatan FGD ini meghadirkan narasumber yang berkompeten dibidangnya dengan membawakan topik Sumberdaya dan Swasembada Beras di Nusa Tenggara Timur disampaikan oleh ProfBudi Indra Setiawan, Tenaga Ahli Menteri Pertanian (TAM) Bidang Infrastruktur Pertanian; dua peneliti dari Balai Penelitian Tanah yaitu  A Kasno dengan topik Sifat Kimia dan Kesuburan Tanah sebagai Dasar Pengelolaan Lahan untuk Tanaman Jagung dan Jati Purwan dengan topik Sifat Biologi dan Kesehatan Tanah.

 

Turut hadir juga sebagai narasumber Dr Muhammad S. Mahmuddin Nur yang menyampaikan topik Sifat Fisik dan Konservasi Tanah, serta topik Geografi Informasi Sistem dan Basis Data Tanah dan Lahan yang disampaikan oleh Norman PLB Riwu Kaho SP., M.Sc.

 

“Nagekeo jangan bergantung pada produk dari luar. Nagekeo memiliki potensi pertanian yang luar biasa seperti jagung dan beras. Pemerintah dan masyarakat Nagekeo perlu mengupayakan memperbanyak volume produksi, jika volume produksi meningkat bisa dikirim ke luar daerah,” ungkap Budi.

 

Prof Budi merekomendasi 8 kebijakan antara lain peningkatan produktivitas, Intensitas pertanaman, percepatan dan pola tanam (penggunaan alsintan), pertanian organik (lahan percontohan), smpanan air, sistem irigasi dan tata kelola air, penyimpanan hasil (gudang) untuk cadangan beras pengolahan hasil untuk peningkatan nilai tambah, serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan SDM.

 

SelanjutnyaKasno menyampaikan tentang pentingnya meningkatkan ketersedian hara sebagai salah satu upaya perbaikan tanah. Perbaikan tanah untuk lahan kering iklim kering dapat dilakukan dengan penambahan bahan organik.

 

“Pengenalan lahan garapan oleh petani sangat penting dalam upaya pengelolaan lahan pada tanaman jagung yang tepat”, ujar Kasno. Lebih lanjut Kasno menyampaikan bahwa pemberian bahan organik untuk memperbaiki tanah dilakukan sebelum pemupukan. “Pemupukan berimbang harus sesuai status hara dan kebutuhan tanaman, terpadu antara pupuk anorganik dan organiK, perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil jagung”, kata Kasno.

 

Ahli biologi dan kesehatan tanah Jati Purwani memaparkan bahwa peningkatan kesuburan tanah selain dengan pemupukan juga dilakukan perbaikan sifat fisik dan sifat biologi tanah akan memberikan hasil yang lebih baik. “Selain bahan organik, pemanfaatan mikroba yang terkandung dalam pupuk hayati perlu dioptimalkan guna meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan peningkatan populasi mikroba bermanfaat,” ungkap Jati.

 

Hal senada juga disampaikan oleh Muhammad S Mahmuddin Nur terkait peggunaan bahan organik. “Kondisi tanah pada lahan sawah di Nagekeo yang lengket pada saat basah dan pecah pada saat kering, membuat akar tanaman patah pada saat musim kering, sehingga pemberian bahan organik berperanan untuk memperbaiki tanah secara fisika,” ungkap Muhammad. Lebih lanjut Muhammad juga menyampaikan bahwa pada lahan kering berlereng, penerapan konservasi tanah perlu dilakukan, antara lain dengan penerapan terasering, penanaman tanaman penguat yang juga dapat berfungsi sebagai sumber makanan ternak.

 

Pada FGD juga disampaikan mengenai sistem informasi geospasial dan Basis Data Tanah yang disampaikan oleh Norman P.L.B. Riwu Kaho. “Pemanfaatan teknologi GIS secara gratis dapat digunakan sebagai dasar kebijakan dalam perencanaan pembangunan pertanian”, ujar Norman. ist/ramdan

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain