Jumat, 1 Nopember 2019

JAPFA Resmikan Unit Baru Hatchery di Aceh

JAPFA Resmikan Unit Baru Hatchery di Aceh

Foto: 


Pembangunan hatchery ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik yang terus meningkat di wilayah Aceh dan sekitarnya
 
 
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) melalui anak usahanya, PT Indojaya Agrinusa rambah pasar Aceh dengan meresmikan pabrik penetasan telur (Hatchery) di Desa Jawie, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar (8/10). Pembangunan hatchery tersebut merupakan salah satu upaya JAPFA untuk mengembangkan dan mendekatkan usaha dengan para pelanggannya di Aceh. 
 
 
Menurut Head of Feed Operation Unit Medan dan Padang PT Indojaya Agrinusa, Anwar Tandiono (Acai) bahwa hatchery dibangun di lahan seluas 6.2 hektar. Pembangunan hatchery ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik yang terus meningkat di wilayah Aceh dan sekitarnya. “Hal ini juga merupakan salah satu wujud komitmen JAPFA untuk dapat membantu peternak lokal dalam menyediakan anak ayam broiler (ayam pedaging) yang berkualitas dan mendukung kemandirian pangan khususnya dalam penyediaan pasokan protein hewani bagi masyarakat,” ujarnya. 
 
 
Sementara Syamsir Siregar mengaku bahwa selama ini untuk memenuhi kebutuhan Aceh, ayam umur sehari/Day One Chicken (DOC) didatangkan dari Medan, namun tidak menjamin kualitasnya akan bagus karena perjalanan Medan-Aceh yang cukup panjang. “Ini salah satu alasan kami mendirikan hatchery di sini. Selain pun, dalam rangka memenuhi permintaan yang terus berkembang,” terang Presiden Komisaris PT Japfa Comfeed Indo¬nesia Tbk ini. 
 
 
Sebenarnya, Syamsir menyampaikan, sudah lama sekali JAPFA ingin berinvestasi di Aceh karena perkembangannya yang cukup menjanjikan. Seperti diketahui, penduduk dunia semakin banyak termasuk Indonesia dengan populasi 270 juta jiwa. Kabupaten Aceh Besar sendiri penduduknya sekitar 400 ribu jiwa dan mungkin akan bertambah menjadi 1 juta jiwa tahun depan. “Generasi mudanya pun sudah mulai beternak, tidak seperti puluhan tahun yang lalu, yang hanya dikelola oleh orang tua. Dan adanya pembinaan dari perguruan tinggi kepada peternak, cu¬kup memberikan daya tarik bagi para investor untuk menanamkan modalnya di sini,” ungkapnya. 
 
 
Pun demikian, tambahnya, hadirnya hatchery di Aceh dapat membawa hasil yang lebih baik untuk masyarakat sekitar dan harapannya JAPFA bisa berinvestasi lagi di bidang lain, sehingga bisa memajukan peternakan di Aceh. 
 
 
Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali yang turut hadir pada peresmian hatchery, memberikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada JAPFA. 
 
 
Permudah Investasi 
Mawardi mengharapkan bahwa dengan berdirinya hatchery di Aceh Besar bisa memancing para investor lain untuk berinvestasi di daerahnya. “Aceh bukan lagi aman, tapi sudah sangat nyaman. Siapa saja yang berinvestasi di sini, kami berikan kemudahan,” cetusnya. 
 
 
Aceh atau Aceh Besar khususnya, sekarang ini memiliki tingkat perekonomian yang tergolong cukup rendah di Sumatera. Hal ini dapat ditingkatkan dengan adanya pemberdayaan ekonomi yang lebih baik. “Jangan hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Oleh karenanya, investasi adalah suatu keniscayaan untuk menekan angka kemiskinan, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar sangat mendukung terhadap investasi yang ada,” ucapnya. 
 
 
Ia mengatakan, keberadaan hatchery ini mampu meningkatkan perekonomian, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar sedang melakukan berbagai upaya, salah satunya membuka peluang sebesar-besarnya kepada investor untuk berinvestasi di Aceh Besar, yang nantinya akan membuka lapangan kerja baru. Ia sangat mengapresiasi PT Indojaya Agrinusa yang telah memberdayakan 96% masyarakat Aceh Besar sebagai karyawan di perusahaan tersebut. “Dengan pemberdayaan karyawan lokal, otomatis ekonomi masyarakat akan lebih bergairah dan itulah yang kita harapkan, “ ucapnya. 
 
 
Kepada JAPFA pun, ia mengharapkan, perusahaan yang lebih dari 45 tahun bergerak dalam bisnis perunggasan ini, bisa berinvestasi di bidang lain tidak hanya hatchery. “Kan baru penetasan saja yang ada di sini. Siapa tahu nanti induk ayamnya juga ada. Begitu pula dengan pakan, karena jagung sebagai bahan baku utama tersedia banyak di sini. Dan dengan lahan yang sangat luas, bisa dimanfaatkan untuk peternakan sapi,” harapnya. 
 
 
Teaching Farm 
Selain meresmikan unit baru hatchery, di hari yang sama PT Indojaya juga meresmikan teaching farm hasil kerjasama dengan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). 
 
 
Fasilitas penelitian yang dibangun di Desa Ie Su’um, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar ini, rencananya mulai dipasok anak ayam atau chick in pada Oktober ini. Kerjasama yang disambut baik oleh Rektor Unsyiah ini, merupakan bentuk kontribusi JAPFA di bidang pendidikan. 
 
 
Menurut Acai, sejalan dengan nilai JAPFA untuk Bergerak Menuju Kesejahteraan Bersama, JAPFA berkomitmen untuk meningkatkan kualitas anak bangsa. Oleh karenanya, JAPFA bersinergi dengan pemerintah dan akademisi dalam menciptakan SDM unggul guna mewujudkan Indonesia Maju 2045. 
 
 
Acai menerangkan bahwa fasilitas yang dibangun JAPFA terdiri dari 3 unit kandang, yakni: Commercial Farm Closed House berkapasitas 10.000 ekor, Commercial Farm Open House Panggung berkapasitas 5.500 ekor, dan Commercial Farm Open House Postal berkapasitas 4.500 ekor. Masing-masing kandang memiliki ukuran 8x70m dan sudah dilengkapi dengan fasilitas pendukung ternak berupa tempat pakan, tempat minum, kipas angin, blower, dan mesin penghangat ayam. Adapun pembangunan 3 jenis kandang yang berbeda ini merupakan representasi dari jenis-jenis kandang yang umum digunakan di Indonesia. “Kandang ini setidaknya dapat memberikan pengetahuan baru bagi mahasiswa untuk mengetahui efektivitas pemeliharaan unggas menggunakan 3 jenis kandang yang berbeda,” terang Acai. 
 
 
Rektor Unsyiah, Samsul Rizal pada peresmian tersebut sangat mengapresiasi dukungan JAPFA dalam dunia pendidikan. “Atas bantuan teaching farm ini, semoga bisa membawa pengaruh positif kepada mahasiswa untuk lebih tahu bagaimana dunia peternakan khususnya perunggasan yang sebenarnya. Mereka bisa belajar langsung mulai dari pemeliharaan ayam, pemantauan kesehatan hewan dan terpenting biosekuriti. Dengan melihat sendiri bagaimana fasilitas yang ada, mereka lebih paham bagaimana kondisi lapangan,” ucapnya. 
 
 
Pun demikian, sambung Samsul, harapannya ke depan mahasiswa dapat memanfaatkan 3 kandang tersebut untuk mengembangkan pengetahuan mereka seluas-luasnya mengenai peternakan ayam yang baik. “Tentunya dengan pengawasan dan pendampingan dari tim JAPFA, kami yakin ini akan berhasil dan terus berkembang ke depannya,” katanya penuh semangat. 
 
 
Senada dengan Samsul, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah, Muhammad Hambal juga mengucapkan terima kasih kepada JAPFA yang telah menghibahkan kandang kepada Unsyiah. Lebih dari itu, JAPFA juga menjalin kerjasama untuk kemitraan. “Saat ini sudah ada ayam di kandang, dari itu nantinya mahasiswa akan mendapatkan pemahaman, pengetahuan, serta skill secara intensif, sehingga mereka akan lebih jauh menguasai permasalahan-permasalahan terkait perunggasan, dibandingkan sebelum kita memiliki fasilitas tersebut,” aku Hambal. 
 
 
Kerjasama antara JAPFA dan Unsyiah sebelumnya ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman pada September 2018 lalu. Pada kesempatan yang sama, melalui JAPFA Foundation, JAPFA juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi di Fakultas Kedokteran Hewan dan Pertanian Unsyiah dan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menjalani kuliah lapangan di Commercial Farm JAPFA. 
 
 
Salah satu penerima beasiswa, Asman Ramadhan, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah mengaku sangat terbantu dengan beasiswa yang telah diberikan JAPFA. Menurutnya, JAPFA memberikan bantuan baik secara materi maupun moral. “Moral, JAPFA memberikan semangat untuk kami melanjutkan studi. Sedangkan materi, mulai dari uang kuliah, uang jajan dan banyak bantuan lain untuk menunjang prestasi saya,” ujar mahasiswa semester 7 ini. 
 
 
Asman juga menerangkan bahwa, untuk mendapatkan beasiswa dari JAPFA, ia dan mahasiswa lain harus melalui beberapa tahapan. Mulai dari seleksi berkas, wawancara, kemudian barulah dinyatakan lulus, dan peresmian menjadi mahasiswa JAPFA. “Pemberian beasiswa selama 2 tahun, yang diberikan kepada 20 mahasiswa FKH, 10 orang dari S1 dan 10 orang dari D3,” jelasnya. 
 
 
Acai melanjutkan, tiga kandang yang diberikan adalah sebagai awal mula terobosan. “Jadi tidak hanya 3 kandang saja, ke depan mudah-mudahan akan terus bertambah. Karena Unsyiah adalah mitra JAPFA, sama seperti mitra-mitra kami lainnya. Sama dalam bentuk kerjasamanya, hitungannya juga perlakuannya, sehingga anak-anak didik di sini bisa belajar dari yang sebenarnya. Bukan hanya teori, tapi mereka sudah aktif sebagai praktisi,” paparnya. 
 
 
“Harapan kami, keberadaan JAPFA di Aceh selain memberikan kontribusi lebih untuk masyarakat Aceh, baik melalui hatchery maupun teaching farm. Kami akan terus berupaya untuk terus memberikan kontribusi positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Aceh,” tutup Acai. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain