Jumat, 1 Nopember 2019

Optimalkan Manajemen dan Vaksinasi Coryza

Optimalkan Manajemen dan Vaksinasi Coryza

Foto: 
drh. Christina Lilis L

Ditulis oleh : MEDION TECHNICAL EDUCATION & CONSULTATION 
drh. Christina Lilis L. dan Tim
 
 
Infectious Coryza (pilek/snot) sudah bukan suatu hal yang baru bagi kita para pelaku usaha di industri perunggasan. Gangguan penurunan nafsu makan pada ayam yang terinfeksi coryza menyebabkan nutrisi yang diperlukan tubuh tidak tercukupi sehingga produksi telur pada ayam petelur terganggu. Sedangkan pada ayam pedaging, pertumbuhan terganggu sehingga bobot badan tidak tercapai. 
 
 
Sekilas mengenai coryza, infeksi ini disebabkan oleh Avibacterium paragallinarum, yang termasuk dalam bakteri Gram (-) dan bersifat fakultatif anaerob (mampu hidup pada media yang ada maupun tidak ada oksigennya). Target utama dari A. paragallinarum yaitu sinus infraorbitalis yang miskin pembuluh darah sehingga terkadang sulit untuk dijangkau saat dilakukan pengobatan menggunakan antibiotik. Selain itu, ayam yang sudah sembuh dari serangan coryza akan bertindak sebagai carrier (pembawa) dan dapat menginfeksi ayam sehat lainnya dalam satu populasi atau satu kandang. 
 
 
Menyadari sulitnya pengendalian coryza tersebut, maka kombinasi antara biosekuriti, vaksinasi dan memperhatikan titik lemah manajemen yang kurang sesuai menjadi upaya penting dalam pencegahan agar kasus coryza tidak terulang kembali setiap tahun. Terlebih lagi daya tahan tubuh ayam akan terus menurun akibat stres perubahan cuaca ekstrem yang dialami pada peralihan musim, sehingga ayam tidak kunjung sembuh.
 
 
Ayam yang terserang coryza biasanya akan menunjukkan gejala seperti keluarnya eksudat atau lendir dari sinus hidung atau mulut yang berbau khas, bengkak pada bagian sinus infraorbitalis (bawah mata), nafsu makan turun (anorexia), dan pada ayam petelur biasanya dijumpai penurunan produksi sebesar 10-40 %.
Perhatian terhadap Manajemen Pemeliharaan 
 
 
Pada dasarnya bakteri A. paragallinarum penyebab coryza ini mudah mati terutama oleh temperatur lingkungan yang tinggi, kadar O₂ tinggi, kelembaban relatif rendah dan juga beberapa desinfektan maupun antiseptik. 
 
 
Namun, pada kondisi farm dimana manajemen pemeliharaan, sanitasi serta desinfeksi yang tidak diperhatikan maka kejadian penyakit ini akan terus berulang. Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam mencegah berulangnya kasus coryza di peternakan sebagai berikut: 
 
 
1. Optimalkan kosong kandang 
 
Proses kosong kandang yang optimal dilakukan 14 hari setelah kandang dalam keadaan bersih. Proses ini bertujuan untuk memutus rantai penyakit sebelumnya. Jika proses pembersihan dan kosong kandang ini tidak optimal bibit penyakit penyebab coryza akan menetap di kandang tersebut dan berkesempatan untuk menginfeksi kembali. 
 
 
2. Sanitasi dan desinfeksi dilakukan secara maksimal 
 
Semprot kandang sebaiknya rutin dilakukan minimal seminggu sekali untuk menurunkan jumlah agen infeksi yang ada di lingkungan. Tempat minum dari paralon terbuka yang terkontaminasi lendir dari hidung atau mulut ayam yang terinfeksi coryza sangat berpotensi menjadi media penular. Oleh karena itu, pembersihan tempat pakan dan minum juga harus diperhatikan. Pada saat kosong kandang, pembersihan harus dilakukan menyeluruh ke setiap bagian kandang. Setelah semua peralatan dikeluarkan, kandang dibersihkan dengan detergen dan disikat, kemudian disemprot air bertekanan tinggi. Jika diperlukan pemberian kapur bisa dilakukan. Setelah itu lakukan desinfeksi. 
 
 
3. Menciptakan suasana kandang yang nyaman 
 
 
Ciptakan suasana nyaman dengan menyediakan ventilasi yang cukup, sirkulasi udara yang baik, kandang yang bersih serta kadar amonia rendah. Selain itu, penuhi kebutuhan utama lainnya dalam pemeliharaan ayam seperti kecukupan dan kebersihan air minum serta nutrisi dalam pakan yang mencukupi sesuai kebutuhan. 
 
 
Pencegahan Coryza 
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah coryza dan agar kerugian yang ditimbulkan tidak terlalu besar, diantaranya: 
 
Pastikan peternak memberikan vaksinasi coryza. Kualitas vaksin yang digunakan dalam keadaan masih baik dan sudah teregistrasi. Vaksin yang digunakan harus homolog dengan isolat bakteri lapang. 
 
Lakukan vaksinasi pada ayam petelur/pembibit umur 42-56 hari dan diulang umur 98-105 hari dengan vaksin Medivac Coryza B/Medivac Coryza T Suspension dengan dosis 0,5 ml secara injeksi intramuskular. Jika di peternakan sangat rawan terjadi coryza, maka vaksinasi ulangan dapat dilakukan 5-6 minggu setelah vaksinasi pertama. Sedangkan pada ayam pedaging vaksinasi dilakukan umur 4 hari dengan vaksin Medivac ND-Coryza dosis 0,2 ml secara injeksi subkutan atau umur 7-14 hari dengan vaksin Medivac Coryza B/ Medivac Coryza T Suspension dosis 0,5 ml secara injeksi intramuskular. Akan lebih tepat bila vaksinasi dilakukan paling lambat 3-4 minggu sebelum umur serangan coryza yang diperoleh dari sejarah periode pemeliharaan sebelumnya. 
 
Agar penentuan jadwal vaksinasi ulang dapat tepat dan tidak terlambat, sebaiknya lakukan monitoring titer antibodi rutin setiap bulan. 
 
Berikan multivitamin seperti Fortevit atau Vita Stress untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan merangsang nafsu makan ayam. 
 
Untuk mencegah penularan yang lebih luas, lakukan sanitasi air minum dan semprot kandang setiap hari dengan desinfektan golongan QUATS (Medisep/Zaldes) agar populasi agen penyebab coryza berkurang. Perlu diketahui bahwa kontaminasi air, pakan, kandang, dan peralatan oleh leleran cairan hidung ayam penderita coryza sangat potensial menjadi sumber penular penyakit. 
 
Umur ayam dalam satu lokasi farm diharapkan tidak terlalu bervariasi. Adanya variasi umur ayam akan memberikan kesempatan kepada agen penyebab coryza untuk terus bercokol di lokasi farm tersebut. 
 
Jaga lalu lintas karyawan maupun peralatan kandang. Jangan memindahkan peralatan dari flok yang tertular ke flok yang sehat. 
 
Semoga bermanfaat. Salam. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain