Jumat, 1 Nopember 2019

Puslitbangnak Siap Mendukung Ketersediaan Pangan Hewani

Puslitbangnak Siap Mendukung Ketersediaan Pangan Hewani

Foto: 
Atien Priyanti bersama para Kepala UPT

Peneliti dituntut tidak hanya memikirkan produk risetnya, tetapi lebih kepada outcome atau manfaatnya. Puslitbangnak memiliki tusi memberikan saran atau masukan untuk rekomendasi kebijakan kepada pemangku kepentingan dalam kegiatan kebijakan antisipatif dan responsif untuk kebijakan strategis peternakan dan kesehatan hewan
 
 
Masa Bakti Menteri Pertanian periode 2014 – 2019, Andi Amran Sulaiman telah berakhir, sekarang pucuk pimpinan Kementerian Pertanian digantikan Syahrul Yasin Limpo. Selama 5 tahun menjabat tentunya banyak program kerja yang telah dilaksanakan untuk tupoksi Kementan sebagai lembaga yang menjamin ketersediaan pangan bagi rakyat Indonesia. 
 
 
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) merupakan unit kerja eselon II di Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah koordinasi dan bertanggung jawab langsung kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Dalam melakukan tugasnya didukung empat Unit Pelaksana Teknis (UPT) yaitu Balai Besar Penelitian Veteriner, Balai Penelitian Ternak, Loka Penelitian Kambing Potong dan Loka Penelitian Sapi Potong. 
 
 
Atien Priyanti, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) mengatakan salah satu program Puslitbangnak yang signifikan dan langsung menyentuh kepada masyarakat di masa kepemimpinan Andi Amran Sulaiman yaitu program “Bekerja” atau Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera. Pada program Bekerja pemerintah melalui kementerian pertanian melakukan penyebaran ayam kampung unggul Balitbangtan kepada ribuan keluarga pra sejahtera pada beberapa provinsi terpilih di Indonesia. “Salah satunya ayam KUB, ayam sensi (sentul unggul terseleksi), dan itik pada 2018 walaupun jumlahnya sedikit,” ungkapnya. 
 
 
Dengan program Bekerja ini merupakan salah satu upaya nyata Puslitbangnak, Balit¬bangtan sebagai peneliti bisa menderaskan hasil inovasi Balitbangtan yang utamanya bibit unggul itu diberikan kepada masyarakat. “Tusi (tugas dan fungsi) memang di Balitnak (Badan Penelitian Ternak), Ciawi Bogor, namun tidak menutup kemungkinan kita mempunyai Loka Kambing Potong dan Loka Sapi Potong yang menghasilkan bibit unggul untuk dapat mendukung program Bekerja tersebut,” ungkapnya. 
 
 
Pada 2018 Balitbang Pertanian ditugaskan untuk mendistribusikan 3 juta ekor ayam lokal hasil inovasi Balitbangtan dalam program bekerja. Namun tidak tercapai 100 persen, hanya 2,7 juta ekor karena memang dimulainya pada pertengahan 2018, tepatnya di Agustus. “Selain itu kita tidak mengantisipasi keluarga pra sejahtera yang tidak bersedia menerima bantuan dengan jumlah sekitar 10 persen, karena basis datanya untuk penerima diberikan oleh Kementerian Sosial,” urainya. 
 
 
Sambungnya tahun ini Balitbangtan mendapat tugas mendistribusikan sebanyak 6 juta ekor yang berada di 7 Satker (Satuan Kerja). “Awalnya hanya ditugasi di 15 Kabupaten/Kota di Jawa Barat, tetapi ada kebijakan terbaru untuk memindahkan sebanyak 2 juta ekor ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga Balitbangtan mendistribusikan ayamnya sekarang di Tegal, Batang dan Pekalongan serta Situbondo dan Banyuwangi selain 14 Kabupaten di Jawa Barat. Untuk persentase pendistribusian per akhir Oktober sudah 75 persen,” paparnya. 
 
 
Sedangkan tantangan yang dihadapi dalam program Bekerja adalah bagaimana memahami keluarga pra sejahtera ini. Pemerintah dalam hal ini, Kementan ingin dengan program Bekerja supaya menjadi tambahan pendapatan mereka. Tetapi dengan latar belakang sosial dan pendidikan yang beragam cukup sulit, walaupun sudah diberikan pendampingan dan bimbingan teknis dll. “Belum lagi utamanya mereka tidak mempunyai ilmu beternak, sehingga itu tantangan yang cukup beratnya” tuturnya sambil tersenyum. 
 
 
Ia akui Peneliti dituntut tidak hanya memikirkan produk risetnya, tetapi lebih kepada outcome atau manfaatnya. Puslitbangnak memiliki tusi memberikan saran atau masukan untuk rekomendasi kebijakan kepada pemangku kepentingan dalam kegiatan kebijakan antisipatif dan responsif untuk kebijakan strategis peternakan dan kesehatan hewan.
 
 
“Kita berbicara peternakan, tidak hanya produksi tetapi memikirkan bagaimana kesehatan hewan mulai dari penelitian yang menghasilkan inovasi unggul dll. Kita mempunyai koordinasi untuk 4 Unit Pelaksana Teknis kami,”tuturnya. 
 
 
Berbasis Riset 
Peran Puslitbangnak dalam era Menteri yang baru ini, dikatakan Atien akan siap mendukung program Kementan dalam penyediaan pangan berbasis protein hewani dengan riset. Seperti keinginan menteri baru bahwa pertanian akan maju harus dengan berbasis riset. “Itu menjadi tantangan kita bersama, untuk benar – benar bagaimana hasil riset dari UPT membumi sampai ke masyarakat,” jelasnya. 
 
 
Lanjutnya salah satu riset unggulan Balitbangtan diantaranya ayam lokal yang arahnya menjadi industrialisasi. Karena, akan mempunyai efek domino seperti kebutuhan akan pakan, timbulnya industri pengolahan dan akhirnya akan menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak. 
 
 
Selain itu nanti sesuai arahan menteri baru semuanya berbasis Komando Strategis Pertanian (Kostra Tani) di level kecamatan. Sehingga, bagaimana mensinergikan hasil riset dengan penyuluh di tingkat kecamatan. “Formatnya kira – kira akan seperti apa, sekarang sedang digodok,” cetusnya. 
 
 
Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) Indi Dharmayanti utarakan untuk produk inovasi dan teknologi hasil riset, BB Litvet sudah mengembangkan hasil penelitian sesuai dengan kebutuhan masyarakat peternak dan industri, serta memiliki daya saing tinggi. Kegiatan riset dilakukan tidak saja dengan dana DIPA BB Litvet, namun juga melalui kegiatan kerjasama baik dengan lembaga nasional (pemerintah dan swasta). Maupun, internasional diantaranya dengan IAEA, FAO, WHO, BEP-US, ACIAR, Osaka University, dll. “Selain itu juga melalui penjaringan dana kerjasama penelitian seperti KKP3N dan KP4S yang rutin setiap tahun diagendakan oleh Badan Litbang Pertanian,” jelasnya. 
 
 
Dalam upaya meningkatkan kapasitasnya dalam penelitian, Ia menerangkan BB Litvet memiliki laboratorium Biosafety Level 2 atau BSL 2 (Laboratorium Toksikologi, Mikologi, Virologi, Bakteriologi, Parasit, Patologi dan Bioteknologi) dan Biosafety Level 3 atau BSL 3 (Zoonosis dan moduler). “Perbedaan level laboratorium adalah pada penentuan tingkat keamanan laboratorium saja,” cetus Indi. 
 
 
Kepala Loka Penelitian Sapi Potong Grati, Pasuruan, Jawa Timur, Dicky Pamungkas menuturkan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) masih menjadi fokus utama pemerintah dalam rangka meningkatkan populasi sapi potong dalam negeri. Berbagai penelitian dan inovasi terus dilakukan untuk mendukung program ini. Berbicara mengenai swasembada protein hewani, khususnya daging menurut Dicky ada 3 hal yang menjadi kunci utama yaitu peningkatan populasi, peningkatan kualitas, dan distribusi. Kalau 3 hal ini berjalan baik, maka swasembada bisa tercapai. 
 
 
Fera Mahmilia Kepala Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih, Medan menjelaskan Lolitkambing Sei Putih mengoleksi kurang lebih 10 jenis kambing potong asli Indonesia maupun dari luar negeri seperti kambing kacang, kambing marica, kambing samosir, kambing muara, kambing gembrong, kambing boerawa, kambing PE (Peranakan Etawa), kambing kosta, kambing boerka dan kambing boer murni dengan total populasi kurang lebih 1.700 ekor. “Paling banyak populasi kambing boerka 1.200 ekor,” terangnya. 
 
 
Fera uraikan kambing boerka adalah hasil dari kawin silang (cross breeding) antara pejantan kambing boer dari Afrika Selatan dan betina kambing kacang dari Indonesia yang dilakukan oleh Lolitkambing Sei Putih. 
 
 
Kepala Balai Penelitian Ternak (Balitnak). Andi Baso Lompengeng Ishak kemukakan beberapa galur ternak yang dihasilkan dari inovasi Balitnak misalnya, ayam KUB (Kampung Unggul Balitnak) merupakan bibit unggul penghasil telur, ayam Sensi-1 Agrinak sebagai ayam lokal pedaging unggul dan itik Master merupakan bibit niaga petelur unggul dan itik PMP sebagai bibit itik pedaging unggul. Lalu, domba komposit garut, domba Compass agrinak dan kambing perah unggul,” tuturnya. 
 
 
Lanjutnya tugas pokok secara detail adalah melaksanakan penelitian ternak unggas, sapi perah dan dwiguna, kerbau, domba, kambing perah serta aneka ternak. Ditambah fungsi pelaksanaan penelitian eksplorasi, identifikasi, karakterisasi, evaluasi, serta pemanfaatan plasma nutfah ternak dan hijauan pakan ternak. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain