Minggu, 1 Desember 2019

Waspada ASF !

Waspada ASF !

Foto: yopi


Kasus kematian babi massal di Sumatera Utara telah meresahkan pelaku usaha peternakan babi di tanah air. Pemerintah dituntut mengambil langkah kongkrit untuk mengatasi persoalan ini termasuk segera mengumumkan dan menetapkan jika benar wabah yang terjadi adalah ASF
 
 
Wabah ASF (African Swine Fever) pertama kali masuk ke Asia dan menghebohkan China pada Agustus 2018 tepatnya di Provinsi Liaoning ini telah menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi Negeri Tirai Bambu tersebut. Para pelaku usaha peternakan babi di tanah air pun khawatir demam babi Afrika ini akan mewabah di wilayahnya.
 
 
Kekhawatiran para peternak babi ini seakan menjadi kenyataan. Setelah penyakit yang disebabkan oleh virus serta belum ada vaksin dan obatnya ini terkonfirmasi di wilayah Asia Timur (China, Mongolia, Korea Utara, Korea Selatan) serta Asia Tenggara (Vietnam, Kamboja, Laos, Filipina, Myanmar, Timor Leste) kini peternak babi di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dibuat resah. 
 
 
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara menunjukkan, pada rentang waktu 25 September hingga 16 November 2019 terjadi kematian babi sekitar 9.119 ekor atau 0,35 % dari populasi total di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 1.277.741 ekor. Kasus yang diduga ASF ini berawal dari laporan kejadian berdasarkan Surat Kadis Pertanian Dairi No.1648/IX/2019, tanggal 25 September 2019, tentang laporan kematian ternak babi di Dairi sebanyak 24 ekor. Kejadian kasus kematian pada ternak babi ini terus merembet hingga per 16 November 2019 sudah dilaporkan oleh 10 kabupaten/kota di Sumatera Utara.
 
 
Ketua Asperba (Asosiasi Peternak Babi) Sumut, Hendri Duin Sembiring mengatakan kasus kematian ternak babi di Sumut ini terus berkembang ke berbagai kabupaten/kota di Sumut dan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi para peternak yang terdampak. “Kalau yang mati anak babi seharga Rp 600 ribu per ekor atau indukan seharga Rp 3-5 juta per ekor maka jika di total kerugian akan sangat besar,” sesalnya kepada TROBOS Livestock disela acara seminar kesehatan babi di Pematang Siantar Sumut (30/11).
 
 
Pemilik peternakan babi bernama Tesalonika Farm di Tanah Karo ini menyatakan usaha peternakan babi sangat vital untuk perekonomian Sumut. “Kami menuntut pemerintah untuk memberikan perhatian lebih dan upaya yang maksimal bagi para peternak yang terkena musibah,” tuntut pria yang beternak babi sejak 2017 dengan populasi sebanyak 600 ekor dan 120 ekor diantaranya merupakan indukan ini.
 
 
Awi, pemilik Juria Fig Farm yang berlokasi di Pematang Siantar menuntut pemerintah untuk sigap dalam menangani persoalan ini. “Ini kejadian luar biasa. Kalau misalnya harus dilakukan pemusnahan sebagai jalan terakhir maka harus ada kompensasi dari pemerintah,” tegas pengurus Asperba Sumut bidang Genetik yang beternak babi sejak 1995 dengan populasi sekitar 800 ekor ini.
 
 
Ketua Asperba Nias, Robert MZ Dachi merunut kasus wabah ini awalnya ditandai dengan timbulnya kematian babi secara tidak normal dikalangan peternak rakyat. “Kejadian ini kita tidak pahami karena keterbatasan pengetahuan dari peternak rakyat. Tetapi karena kejadiannya menjadi mewabah akhirnya diambil kesimpulan untuk konsultasi. Dari beberapa tindakan pemerintah menyimpulkan bahwa penyakitnya itu awalnya HC (Hog Colera). Namun kemudian timbul dugaan (suspect) sebagai ASF,” ungkapnya. 
 
 
Ia melanjutkan, kasus kematian ternak babi ini menyebar sangat luar biasa dan peternak tidak tahu secara pasti penyakitnya. “Kalau sekedar penyakit HC, kami sudah terbiasa menanganinya. Hal yang luar biasa tetapi kami menanganinya biasa-biasa saja maka menjadi mewabah seperti ini. Apalagi kami tidak mengenalinya bahwa itu suspect ASF,” sesalnya. 
 
 
Robert pun menyayangkan adanya oknum peternak yang membuang bangkai babi ke sungai meskipun tidak bisa sepenuhnya disalahkan. “Perlu kita pahami kematian babi tidak sama dengan ternak yang kecil. Kalau misalnya ada 20 ekor babi mati untuk menguburkannya bukan pekerjaan yang mudah. Butuh alat berat dan lahan khusus sehingga tidak bisa juga sepenuhnya kita menyalahkan mereka walaupun itu salah. Karena mungkin tidak ada pilihan lain. Bagaimana mereka harus menggali dan menguburkan 20 ekor babi yang ukurannya sudah besar di halaman rumahnya. Sehingga jalan pintas yang mereka ambil membuang ke sungai. Walaupun sebenarnya itu salah,” kilahnya. 
 
 
Atas kejadian ini, lanjut Robert, harus ada kesamaan persepsi dari peternak, asosiasi, maupun pemerintah. Jangan sampai ditingkat peternak dengan segala keterbatasannya menduga kejadian ini positif ASF sementara di pihak regulator menganggap ini baru suspect. “Dengan ketidaksamaan persepsi ini bahaya sekali. Kalau peternak mempercayai suspect ASF sehingga tidak melakukan tindakan preventif apapun akan bahaya padahal kita sedang diancam ASF,” tegasnya.
 
 
Dia meminta kepada pemerintah sebagai regulator untuk mengambil langkah-langkah yang luar biasa karena ini kejadian yang luar biasa. “Ini kejadian luar biasa bagi kami sebagai peternak. Ini merupakan pukulan berat sekaligus ancaman besar di masa depan. Kalau ini ASF yang tidak ada obatnya dan kita tidak bisa mengantisipasi dengan benar dan tepat maka nasib yang dialami oleh negara-negara yang terjangkit ASF itu akan kami alami,” pesan Robert.
 
 
Sangat Strategis
Presiden AMI (Asosiasi Monogastrik Indonesia), Sauland Sinaga menyatakan, usaha peternakan babi di Sumut sangat strategis. Sumut memiliki populasi ke-2 terbanyak di Indonesia dengan jumlah pemotongan sekitar 600 ribu ekor per tahun. “Sumut menjadi pemasok babi sekitar 60 % untuk Pulau Sumatera, pemasok babi sekitar 20 % untuk DKI Jakarta, serta pemasok sekitar 30 % protein hewani masyarakat (20 kg per kapita per tahun,” paparnya.
 
 
Selain itu, usaha peternakan babi di Sumut menghidupi sekitar 300 ribu Rumah Tangga Peternak atau setara dengan 1,5 juta jiwa (10 % penduduk) serta dari usaha ini dapat menyekolahkan 360.000 siswa atau mahasiwa. “Sumut menghasilkan babi hidup sebanyak 192 ribu ton, 144 ribu ton karkas, 100 ribu ton daging per tahun dengan nilai Rp 6 triliun atau sebanding dengan 50 % APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Sumut yang totalnya sebesar Rp 12 triliun. Dari bisnis ransum babi yang sebanyak 876 ribu ton per tahun terdapat perputaran uang sebesar Rp 4,3 triliun dan dari bisnis obat-obatan dan vitamin terdapat omzet sekitar Rp 60 miliar per tahun,” urai Sauland. 
 
 
Dengan sangat stategisnya bisnis peternakan babi di Sumut sehingga pemerintah harus membina dan menjamin keberlangsungan usahan peternakan babi di sumut terutama setelah dampak ASF ini selesai. “Pemerintah harus mensosialisasikan lagi beternak babi yang bersih dan ramah lingkungan untuk menghindari kasus penyakit lainnya di masa yang akan datang,” pinta Dewan Penasehat Asperba Sumut, Parsaoran Silalahi. 
 
 
Pria yang akrab disapa Saor ini menambahkan, melihat perkembangan hingga saat ini, masih ada 3 kabupaten yang melaporkan adanya serangan yang diduga ASF yaitu Kabupaten Karo, Simalungun, dan Tobasa. “Kurangnya sosialisasi membuat penyebaran virus semakin meluas. Penanganan bangkai babi pun tidak sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) seperti yang dijelaskan oleh FAO. Kalau pemerintah hanya menunggu deklarasi maka sudah percuma bagi Sumut karena virus sudah dimana-mana kecuali Pulau Nias,” sesalnya. 
 
 
Ia meminta, kerjasama dengan semua pihak harus diperkuat untuk mengatasi persoalan ini. “Selama ini kami tidak melihat pemerintah mengajak perguruan tinggi dalam menangani virus ini. Padahal fakta di lapangan ada organisasi mahasiswa yang melayani peternak kecil untuk melakukan desinfeksi, vaksin, dan lain lain,” katanya.
 
 
Atas kejadian wabah yang diduga ASF ini, Saor atas nama Asperba Sumut seusai seminar menyampaikan tuntutan kepada pemerintah dan perusahaan peternakan babi untuk melakukan re-stocking serta melakukan kampanye jangan takut makan daging babi karena ASF tidak menular ke manusia. Juga pemerintah melakukan sertifikasi bukan atas nama perusahaan tetapi atas nama wilayah kabupaten/kota; peternak skala industri diharapkan membangun kemitraan dengan peternakan rakyat; serta pemerintah membina dan menjamin keberlangsungan usaha peternakan babi.   
 
 
Kepala Bidang Kesehatan Hewan DKPP Sumut, Mulkan Harahap mengatakan, pemerintah sudah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi persoalan ini seperti melakukan investigasi, pengambilan sampel, KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) serta penyerahan desinfektan ke petugas kab/kota. Bahkan pada 16 Oktober 2019, Gubernur Sumut telah mengeluarkan surat bernomor 524/10659/2019 yang ditandatangani Sekda Sumut untuk bupati/walikota se-Sumut mengenai langkah-langkah penanggulangan penyakit babi. 
 
 
Mulkan menambahkan terkait kebijakan, pemerintah daerah pun telah membuat surat instruksi gubernur tentang penanggulangan penyakit ternak babi di Sumut; Sekda mengeluarkan surat berupa himbauan penanganan kasus kematian ternak babi; surat pembentukan posko-posko pelaporan kasus kematian ternak babi di kabupaten/kota; surat pertimbangan teknis penundaan pengadaan ternak babi di kabupaten/kota dan Balai Veteriner Medan; serta surat ke kabupaten/kota untuk pengusulan RAB kegiatan penanggulangan penyakit ternak babi dan pembentukan Tim Posko. 
 
 
Disamping itu, lanjut Mulkan, Gubernur Sumut telah bersurat ke Menteri Pertanian tentang laporan wabah penyakit ternak babi di Provinsi Sumut. “Pada 11 November 2019, pemerintah melalui Tim Unit Reaksi Cepat (URC) turun langsung ke lapangan untuk penguburan massal bangkai ternak babi yang dibuang ke Sungai Bederah – Danau Siombak Kota Medan,” ujarnya. 
 
 
Surveilans ASF
Kepala Seksi Pelayanan Teknis Balai Veteriner (BVet) Medan, Lepsi Putridi AS dalam paparannya menyampaikan, ASF merupakan penyakit eksotik yang belum ada di Indonesia. “Penyakit ini tidak berbahaya bagi manusia tetapi fatal bagi babi,” tegasnya.
 
 
BVet Medan melakukan surveilans penyakit ASF di tahun ini dengan cakupan wilayah Sibolga, Tapanuli Utara, Karo, Binjai, Medan, Deli Serdang, Sedang Bedagai, Batubara, Simalungun, Asahan, dan Toba Samosir. “Adanya laporan banyak babi mati pada akhir September lalu dan berdasarkan hasil uji laboratorium metode PCR (Polymerase Chain Reaction) ditemukan sampel suspect ASF pada 9 daerah di Sumut,” ungkap Lepsi.   
 
 
Sebagai upaya pengendalian agar ASF tidak menyebar, lanjut Lepsi, harus dilakukan pengetatan lalu lintas ternak babi dari dan ke kabupaten/kota terinfeksi. Juga pengawasan ketat lalu lintas angkutan pakan dan sarana peternakan yang melewati kabupaten/kota terinfeksi.
 
 
Selain itu, memperketat biosekuriti yaitu usaha untuk menjaga suatu daerah dari masuknya agen penyakit, menjaga tersebarnya agen penyakit dari daerah tertentu, dan menjaga agar suatu penyakit tidak menyebar di dalam daerah. Contohnya, penyemprotan desinfektan pada kandang-kandang ternak babi dalam jumlah mencukupi untuk menghambat penyebaran virus ASF di seluruh kabupaten/kota yang terdapat populasi ternak babi serta penanganan bangkai babi sesuai prosedur yang berlaku. 
 
 
Sedangkan NTA One Health & Zoonosis Control FAO Ectad Indonesia, Andri Jatikusumah menyampaikan, belajar dari pengalaman kasus ASF di China dan Vietnam, terdapat 3 penyebab utama penyebaran ASF yaitu lalu lintas babi terinfeksi dan produk babi, kontaminasi kendaraan pengangkut, alat dan kontak orang, serta sisa pakan. “Respon wabah dan strategi utama yang harus dilakukan terhadap ASF adalah investigasi wabah, stamping out/kompensasi, pembersihan dan disinfeksi, disposal, surveillance (deteksi dini), zoning dan pengendalian lalu lintas hewan, dan pemulihan/hewan sentinel,” ujarnya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 243/Desember 2019
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain